Naluri berpetualang dan menjajal kegiatan yang konyol masih
saja menjadi bagian dari gaya hidupku. Seragam putih abu-abu masih ku kenakan.
Bersama lima teman bermainku di SMA (Dala, Neri, Mia, Eno, Rina) memutuskan
untuk keluar kelas lebih awal. Tak ada kelas. Setelah ujian sekolah memang tak
ada jam pelajaran.
“Jadinya kemana?”
“Pantai aja sih. Kayaknya ke Karang Bolong seru tuh!” Usul
seorang dari temanku.
“Bayar tau masuknya. Lima ribu per orang.” Tegas yang lain.
Saat itu 2009, memang biaya masuk pantai Karang Bolong Rp5.000/orang.
Sekarang, tahun 2013 sudah mencapai Rp 10.000/orang.
Hal wajar jika anak sekolah menginginkan yang gratis. Jika
ada hal berbayar, acarapun dipertimbangkan berkali-kali, isi kantong memang
sudah menipis.
“Tapi, pengen ke pantai Karang Bolong. Bisa gak ya kalau
gak bayar?”
Nekad, kami memutuskan untuk menaiki angkot warna silver. Menuju Karang Bolong, biasanya harus menaiki mobil silver arah Labuan. Tak
heran, jika aroma amis ikan menjadi aroma khas selama perjalanan. Menikmati terpaan
angin di pinggiran jalan raya yang menyuguhkan hamparan pantai yang masih biru,
Angkot melaju. Seorang ibu, menatap kami bergantian. Mungkin batinnya terganggu oleh
kebisingan yang kami kendalikan bersama. Maklum, masa SMA adalah masa alay
bersama. Apalagi, mulut perempuan itu super meriah dan cetar membahana.
Aku terus berpikir untuk sebuah liburan tak berbayar. Lima
ribu bisa digunakan untuk menikmati semangkuk bakso tanpa harus digunakan untuk
biaya masuk pantai. Ahaaa… (sambil
jentikin jari dan mata melotot ke atas langit-langit angkot) sebuah ide
brilian ku temukan.
Terinsiprasi dari penelitian pelajaran Antropologi yang
menjadikan kampungku sebagai objek penelitian beberapa waktu lalu; saat itu,
bersama kelompok, aku mendatangi rumah Sekdes (sekertaris desa) di kampungku,
bertanya tentang letak geografis daerah, jumlah penduduk, dan pekerjaan
penduduk. Dari penelitian itu, aku sebagai pewawancara dan Dala adalah
notulisnya. Kami mengajukan berbagai pertanyaan pada Sekdes yang sangat antusias
diwawancarai. Bahkan, kue-kue yang masih tersimpan rapi di dapur, disuguhkannya
sebagai sambutan ramah pada tamu. Eno, dengan santai saat itu menikmati
kue-kue. Membiarkan mulutku mengering dengan pertanyaan yang belum selesai.
Saat wawancara selesai, kue-kue yang terpajang sejak tadi akan kucicipi, sudah
tak lagi tersedia, habis terkuras oleh Eno dan beberapa teman yang menyaksikan
wawancara itu.
“Kita pura-pura penelitian aja!”
“Terus, kalau ditanya dari mana gimana?” Tanya Neri cemas.
“Jawab aja dari SMA kita. Mereka juga lihat almamater
kita kali.”
“Terus, gimana kalau mereka langung telepon pihak
sekolah tanyain kebenarannya? Bisa kasus kita.” Tambah Mia.
“Gak mungkin, kayak gak ada kerjaan aja mereka.” Aku ngeles.
“Gimana kalau mereka menanyakan surat rekomendasi dari
sekolah yang menyatakan ijin melakukan wawancara?”
Rambut yang tak gatal itupun aku garuk berkali-kali.
Berderet pertanyaan membuat aku pusing.
“Ya udah, kita ikhtiar dulu. Selanjutnya, pikirin cara
lain.”
Angkot sudah berhenti di depan gerbang pantai Karang
Bolong. Strategi mulai djalankan. Interviewer gadungan mulai menjalankan misi.
Aku kembali menjadi pewawancara. Dala adalah mengeluarkan pulpen dan buku. Mia, ditunjuk sebagai
juru foto –karena saat itu, Mia baru membeli hape terbaru dengan kamera yang
lumayan jernih. Yang lain, masih setia dengan hape jadul. :D
Beberapa lelaki duduk di Portal. Alunan dangdut memeriahkan
pantai beradu dengan suara khas deburan ombak, menggodaku untuk bermain disana. Berlari,
bercengkrama dengan riak ombak, membiarkan langkahku terseret oleh arus yang terus
bergerak maju mundur. Hasrat tertahan sejenak, aku harus menjebol pertahanan
gawang para penjaga.
Dengan percaya diri, aku menghampiri lelaki yang tiba-tiba
saja berdiri ketika menyadari keberadaan kami, “Siang a, kami dari SMA … (tuuutt.. disensor aja ya nama SMAnya),
bermaksud mengadakan penelitian tentang pantai Karang Bolong ini. Bisa minta
waktunya sebentar a?” Seyakin mungkin aku bersikap tegas.
“Oh, bisa Neng. Mari, masuk aja ke Portal! Mau tanya-tanya
apa ya?” Seketika, dangdut tak terdengar lagi. Tombolnya sudah di off kan.
Penuh bangga lelaki itu duduk di kursi yang terlihat sudah tak layak di duduki.
“Bisa aa ceritakan sejarah pantai Karang Bolong ini, letak
geografis dan siapa pengelolanya?”
Dala mulai membuka buku, menggenggam pulpen. Mia,
menyalakan kamera hapenya. Uraian berkepanjangan tentang Karang Bolong harus
aku telan bersama tawa yang tertahan. Aku melihat, buku Dala masih putih, belum
tergores tinta sedikitpun. Namun, tangannya bergerak-gerak mengikuti alunan
suara bass penjaga pantai ini. Mia sendiri, sibuk berkeliling mengabadikan
gambar-gambar yang tersedia di dalam Portal.
“Wah, terima kasih banyak ya a, sudah menjelaskan tentang
pantai ini. Boleh kami foto-foto dengan petugasnya? Jadi, bisa dijadikan bukti
penelitian kepada guru Antropologi kami.”
“Pelajaran semacam apa Antropologi itu? Pelajaran jaman
sekarang semakin aneh ya! Dulu, saya tahunya ada Biologi saja.”
“Seperti Sosiologi a. Cuma, ini lebih mengarah pada
pembelajaran tentang cara hidup masyarakatnya.”
“Berati banyak ya pelajaran yang ujungnya pakai ‘Gi’-nya?”
Menahan tawa sangat tidak menyenangkan. Kalau saja bisa, aku sudah
terbahak-bahak dengan pertanyaan polos penjaga Pantai ini. Ngakak sambil guling-guling
di pasir.
Wajah ceria itu tertangkap kamera Mia. Sesi sindikat
pemotretan ini selesai. Saatnya menjalankan misi, “Boleh kami melihat-lihat
kedalam? Kami butuh gambar-gambar untuk memperkuat laporan.”
“Boleh, Neng. Silahkan! Perlu diantar?” Penuh semangat
Penjaga itu memperbolehkan.
“Gak usah a, biar kami aja deh. Oke lah a, kita masuk dulu
ya! Terima kasih untuk waktunya. Sukses selalu.”
Melewati gerbang, mencari tempat sepi, kami berhambur.
Membuncahkan tawa yang tertahan di kerongkongan. Aku terbahak-bahak.
“Sumpah, ini itu gokil banget! Hahaha…”
“Demi gak mau ngeluarin duit lima ribu, rela bohongin anak
orang? Hahaha… Penipu berseragam abu-abu.”
“Wah, kita ini penjahat.”
“Husss.. gak boleh begitu akh. Kita ini tidak seperti itu,
tapi kita adalah Invterviewer gadungan.” Saatnya menikmati pantai Karang
Bolong. Mendaki tebing-tebing di sekitar pantai, berfoto, berlari, tertawa
bersama. Keceriaan itu menjadi gurat bahagia yang terkenang sepanjang masa. Persahabatan
itu indah kawan. Masa bersama segila ini tak mungkin terulang untuk kedua
kalinya. Ya, mungkin, hingga saat ini, kebersamaan itu terjaga, namun,
masa-masa itu tak akan terulang. Biarkan cerita ini tersimpan rapi disini. Sebagai arsip masa depan, agar kelak, anak cucu kita bisa menikmati cerita seru yang pernah terjadi.
Cerita ini aku dedikasikan untuk kalian my beloved friends
Dala Ilani, SH
(Baru saja lulus S1 dengan gelar sarjananya di sebuah Universitas Negeri di
Serang)
Mia R. (Pengantin
baru yang mengakhiri masa lajangnya beberapa bulan lalu dengan teman kerjanya
di sebuah Hotel di kawasan Anyer. Kisah cinta yang romantis dari seorang Mia.
Berawal dari sahabat curhat hingga menjadi sahabat hidup dalam ikatan sakral.
Punya mimpi kuliah walau udah nikah. Kereeenn! Semangat ya sayang! Gak ada kata
terlambat untuk menuntu ilmu). J
Eno S. (Pekerjan
yang kehidupannya lumayan dan menetap di Karawang. Masih rajin mengunjungi kami
di Anyer. Disibukan oleh kehidupan cinta yang belum sampai pada ujung. Tenang,
masih ada aku yang jomblo. Hehehe..)
Neri R. (Mahasiswi
semester akhir disebuah Universitas di Serang. Sibuk dengan Skripsi dan mungkin
cintanya ya? Hehehe… Semangat ya New! Ganbatte. Kamu pasti bisa! M150 kaleeee)
Rina Y. (Teman
sebangku waktu SMA yang setia dari kelas XI sampe kelas XII, karena kita satu
jurusan di kelas Bahasa, baru aja jadi bunda dari anak pertamanya Gina. Potret
keluarga kecil bahagia. Selamat ya Bunda Rina, udah jadi emak-emak! Hahaha…)
Pesan moral dari
kejadian ini, jadilah pengunjung yang cerdas. Jika ada cara berlibur tanpa
modal, kenapa tidak? Penipuan ini tidak merugikan para penjaga Pantai. Mereka
sangat bahagia menjadi nara sumber para Interviewer gadungan. Sekian, Wasalam!


2 komentar:
nice story! fun to read Lia...finally i found out your blog! keep improving from now on :)
xoxo
margareta vania
fashion beauty blogger
follow or drop your comment if you like http://margaretavania.blogspot.com
Thanks dear. Yeah, I will.
Please, be my guider for it. ;)
Posting Komentar