Breaking News

Rabu, 04 September 2013

Investigator Gadungan


Naluri berpetualang dan menjajal kegiatan yang konyol masih saja menjadi bagian dari gaya hidupku. Seragam putih abu-abu masih ku kenakan. Bersama lima teman bermainku di SMA (Dala, Neri, Mia, Eno, Rina) memutuskan untuk keluar kelas lebih awal. Tak ada kelas. Setelah ujian sekolah memang tak ada jam pelajaran.

“Jadinya kemana?”

“Pantai aja sih. Kayaknya ke Karang Bolong seru tuh!” Usul seorang dari temanku.

“Bayar tau masuknya. Lima ribu per orang.” Tegas yang lain. Saat itu 2009, memang biaya masuk pantai Karang Bolong Rp5.000/orang. Sekarang, tahun 2013 sudah mencapai Rp 10.000/orang.

Hal wajar jika anak sekolah menginginkan yang gratis. Jika ada hal berbayar, acarapun dipertimbangkan berkali-kali, isi kantong memang sudah menipis.

“Tapi, pengen ke pantai Karang Bolong. Bisa gak ya kalau gak bayar?”

Nekad, kami memutuskan untuk menaiki angkot warna silver. Menuju Karang Bolong, biasanya harus menaiki mobil silver arah Labuan. Tak heran, jika aroma amis ikan menjadi aroma khas selama perjalanan. Menikmati terpaan angin di pinggiran jalan raya yang menyuguhkan hamparan pantai yang masih biru, Angkot melaju. Seorang ibu, menatap kami bergantian. Mungkin batinnya terganggu oleh kebisingan yang kami kendalikan bersama. Maklum, masa SMA adalah masa alay bersama. Apalagi, mulut perempuan itu super meriah dan cetar membahana.

Aku terus berpikir untuk sebuah liburan tak berbayar. Lima ribu bisa digunakan untuk menikmati semangkuk bakso tanpa harus digunakan untuk biaya masuk pantai. Ahaaa… (sambil jentikin jari dan mata melotot ke atas langit-langit angkot) sebuah ide brilian ku temukan.

Terinsiprasi dari penelitian pelajaran Antropologi yang menjadikan kampungku sebagai objek penelitian beberapa waktu lalu; saat itu, bersama kelompok, aku mendatangi rumah Sekdes (sekertaris desa) di kampungku, bertanya tentang letak geografis daerah, jumlah penduduk, dan pekerjaan penduduk. Dari penelitian itu, aku sebagai pewawancara dan Dala adalah notulisnya. Kami mengajukan berbagai pertanyaan pada Sekdes yang sangat antusias diwawancarai. Bahkan, kue-kue yang masih tersimpan rapi di dapur, disuguhkannya sebagai sambutan ramah pada tamu. Eno, dengan santai saat itu menikmati kue-kue. Membiarkan mulutku mengering dengan pertanyaan yang belum selesai. Saat wawancara selesai, kue-kue yang terpajang sejak tadi akan kucicipi, sudah tak lagi tersedia, habis terkuras oleh Eno dan beberapa teman yang menyaksikan wawancara itu.

“Kita pura-pura penelitian aja!”

“Terus, kalau ditanya dari mana gimana?” Tanya Neri cemas.

“Jawab aja dari SMA kita. Mereka juga lihat almamater kita kali.”

“Terus, gimana kalau mereka langung telepon pihak sekolah tanyain kebenarannya? Bisa kasus kita.” Tambah Mia.

“Gak mungkin, kayak gak ada kerjaan aja mereka.” Aku ngeles.

“Gimana kalau mereka menanyakan surat rekomendasi dari sekolah yang menyatakan ijin melakukan wawancara?”

Rambut yang tak gatal itupun aku garuk berkali-kali. Berderet pertanyaan membuat aku pusing.

“Ya udah, kita ikhtiar dulu. Selanjutnya, pikirin cara lain.”

Angkot sudah berhenti di depan gerbang pantai Karang Bolong. Strategi mulai djalankan. Interviewer gadungan mulai menjalankan misi. Aku kembali menjadi pewawancara. Dala adalah mengeluarkan pulpen dan buku. Mia, ditunjuk sebagai juru foto –karena saat itu, Mia baru membeli hape terbaru dengan kamera yang lumayan jernih. Yang lain, masih setia dengan hape jadul. :D

Beberapa lelaki duduk di Portal. Alunan dangdut memeriahkan pantai beradu dengan suara khas deburan ombak, menggodaku untuk bermain disana. Berlari, bercengkrama dengan riak ombak, membiarkan langkahku terseret oleh arus yang terus bergerak maju mundur. Hasrat tertahan sejenak, aku harus menjebol pertahanan gawang para penjaga.

Dengan percaya diri, aku menghampiri lelaki yang tiba-tiba saja berdiri ketika menyadari keberadaan kami, “Siang a, kami dari SMA … (tuuutt.. disensor aja ya nama SMAnya), bermaksud mengadakan penelitian tentang pantai Karang Bolong ini. Bisa minta waktunya sebentar a?” Seyakin mungkin aku bersikap tegas.

“Oh, bisa Neng. Mari, masuk aja ke Portal! Mau tanya-tanya apa ya?” Seketika, dangdut tak terdengar lagi. Tombolnya sudah di off kan. Penuh bangga lelaki itu duduk di kursi yang terlihat sudah tak layak di duduki.

“Bisa aa ceritakan sejarah pantai Karang Bolong ini, letak geografis dan siapa pengelolanya?”

Dala mulai membuka buku, menggenggam pulpen. Mia, menyalakan kamera hapenya. Uraian berkepanjangan tentang Karang Bolong harus aku telan bersama tawa yang tertahan. Aku melihat, buku Dala masih putih, belum tergores tinta sedikitpun. Namun, tangannya bergerak-gerak mengikuti alunan suara bass penjaga pantai ini. Mia sendiri, sibuk berkeliling mengabadikan gambar-gambar yang tersedia di dalam Portal.

“Wah, terima kasih banyak ya a, sudah menjelaskan tentang pantai ini. Boleh kami foto-foto dengan petugasnya? Jadi, bisa dijadikan bukti penelitian kepada guru Antropologi kami.”

“Pelajaran semacam apa Antropologi itu? Pelajaran jaman sekarang semakin aneh ya! Dulu, saya tahunya ada Biologi saja.”

“Seperti Sosiologi a. Cuma, ini lebih mengarah pada pembelajaran tentang cara hidup masyarakatnya.”

“Berati banyak ya pelajaran yang ujungnya pakai ‘Gi’-nya?” Menahan tawa sangat tidak menyenangkan. Kalau saja bisa, aku sudah terbahak-bahak dengan pertanyaan polos penjaga Pantai ini. Ngakak sambil guling-guling di pasir.

Wajah ceria itu tertangkap kamera Mia. Sesi sindikat pemotretan ini selesai. Saatnya menjalankan misi, “Boleh kami melihat-lihat kedalam? Kami butuh gambar-gambar untuk memperkuat laporan.”

“Boleh, Neng. Silahkan! Perlu diantar?” Penuh semangat Penjaga itu memperbolehkan.

“Gak usah a, biar kami aja deh. Oke lah a, kita masuk dulu ya! Terima kasih untuk waktunya. Sukses selalu.”

Melewati gerbang, mencari tempat sepi, kami berhambur. Membuncahkan tawa yang tertahan di kerongkongan. Aku terbahak-bahak.

“Sumpah, ini itu gokil banget! Hahaha…”

“Demi gak mau ngeluarin duit lima ribu, rela bohongin anak orang? Hahaha… Penipu berseragam abu-abu.”

“Wah, kita ini penjahat.”

“Husss.. gak boleh begitu akh. Kita ini tidak seperti itu, tapi kita adalah Invterviewer gadungan.” Saatnya menikmati pantai Karang Bolong. Mendaki tebing-tebing di sekitar pantai, berfoto, berlari, tertawa bersama. Keceriaan itu menjadi gurat bahagia yang terkenang sepanjang masa. Persahabatan itu indah kawan. Masa bersama segila ini tak mungkin terulang untuk kedua kalinya. Ya, mungkin, hingga saat ini, kebersamaan itu terjaga, namun, masa-masa itu tak akan terulang. Biarkan cerita ini tersimpan rapi disini. Sebagai arsip masa depan, agar kelak, anak cucu kita bisa menikmati cerita seru yang pernah terjadi.


Cerita ini aku dedikasikan untuk kalian my beloved friends
Dala Ilani, SH (Baru saja lulus S1 dengan gelar sarjananya di sebuah Universitas Negeri di Serang)
Mia R. (Pengantin baru yang mengakhiri masa lajangnya beberapa bulan lalu dengan teman kerjanya di sebuah Hotel di kawasan Anyer. Kisah cinta yang romantis dari seorang Mia. Berawal dari sahabat curhat hingga menjadi sahabat hidup dalam ikatan sakral. Punya mimpi kuliah walau udah nikah. Kereeenn! Semangat ya sayang! Gak ada kata terlambat untuk menuntu ilmu). J
Eno S. (Pekerjan yang kehidupannya lumayan dan menetap di Karawang. Masih rajin mengunjungi kami di Anyer. Disibukan oleh kehidupan cinta yang belum sampai pada ujung. Tenang, masih ada aku yang jomblo. Hehehe..)
Neri R. (Mahasiswi semester akhir disebuah Universitas di Serang. Sibuk dengan Skripsi dan mungkin cintanya ya? Hehehe… Semangat ya New! Ganbatte. Kamu pasti bisa! M150 kaleeee)
Rina Y. (Teman sebangku waktu SMA yang setia dari kelas XI sampe kelas XII, karena kita satu jurusan di kelas Bahasa, baru aja jadi bunda dari anak pertamanya Gina. Potret keluarga kecil bahagia. Selamat ya Bunda Rina, udah jadi emak-emak! Hahaha…)


Pesan moral dari kejadian ini, jadilah pengunjung yang cerdas. Jika ada cara berlibur tanpa modal, kenapa tidak? Penipuan ini tidak merugikan para penjaga Pantai. Mereka sangat bahagia menjadi nara sumber para Interviewer gadungan. Sekian, Wasalam!

2 komentar:

Margareta Vania mengatakan...

nice story! fun to read Lia...finally i found out your blog! keep improving from now on :)

xoxo
margareta vania
fashion beauty blogger

follow or drop your comment if you like http://margaretavania.blogspot.com

lia falsista mengatakan...

Thanks dear. Yeah, I will.
Please, be my guider for it. ;)

Designed By