Breaking News

Minggu, 15 November 2015

Tentang sebuah sikap

Jatuh cinta, ya... akupun terjatuh di dalamnya. Semua manis di awal, seolah semesta begitu merestui jalinan yang kami sepakati berdua. Perlahan, waktu menunjukan hal lain dari sekedar indah dan bahagia. Dua manusia dengan isi kepala yang berbeda, tentu saja ada konflik yang membuat suasana hubungan kami goyah. Hingga pada hitungan yang baru seumur jagung, kami berpisah.

Patah hati? Tentu saja. Kalian bisa bayangkan ketika kita sudah memiliki harapan lebih, merencanakan keberlanjutan hubungan, dan tentu tujuannya bukan sekedar untuk "singgah" lalu pergi. Kemudian perpisahan menjadi akhir, bisa dibayangkan betapa semuanya seolah hancur dan tak berbekas.

Berusaha menerima kenyataan, membuatku harus mampu mengontrol emosiku yang siklusnya naik turun secara ekstrim. #aelaaahhhh.... bahasanya. :-). Akupun berusaha menepis benci yang terkadang tertuju padanya dan aku segera mengantisipasi dengan mengingat hal-hal baik tentangnya. (Manusiawi kan?). Bagaimanapun aku kecewa dengan kenyataan, tidak sepantasnya membenci seseorang yang pernah membuatku bahagia. Apalagi, menjelek-jelekannya, tentu itu bukan sikap penerimaan yang baik. Aku justru menyiasati patah hati dengan berusaha menghubunginya, menjalin pertemanan dan sebisa mungkin "memaafkan" kesalahan (baik yang aku ataupun dia lakukan), walau sudah ada batasan tentunya.

Tentu saja ini caraku agar tidak ada dinding yang terlalu tebal yang membatasi kami. Aku masih menyayanginya. Kami masih berteman baik pasca putus. Walau terkadang, dalam situasi tertentu aku terbawa perasaan. Hahaha.... itu wajar. 😁😁😁

Awalnya, aku masih suka mengatakan bahwa aku merindukannya, tujuannya agar dia tahu bahwa aku memang merindukannya, terlepas dari tanggapannya seperti apa. Aku cenderung lebih terbuka tentang apa yang kurasakan dan kupikirkan.

Semula aku merasa sikapku ini salah. Aku mengganggap bahwa prinsipku yang tidak ingin bermusuhan dengan mantan itu terlalu berlebihan. Tapi, setelah aku membaca postingan Tere Liye yang kira-kira seperti ini, "kita tidak perlu bersusah payah menjelaskan apa yang orang lain tafsirkan kepada kita, karena cukup menyikapinya dengan cara yang konkrit."

Ya, untuk urusan hati, aku pikir bahwa tidak perlu aku repot-repot menjelaskan apa yang dia tafsirkan tentangku. Tugasku hanya mengerjakan bagian dari orang yang memang mencintainya dengan caraku sendiri. Karena rasa akan menjadi nyata dengan sikap, bukan sekedar ucap. Sekalipun sudah putus, tapi masih mencintainya, jangan pernah berusaha membunuh perasaan itu. Kita tentu tahu apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Masih cinta ya... masih cinta, buktikan juga dengan sikap. Kalau sudah tidak cinta, ya berhentilah! Jujur bukan keputusan yang salah, selama kita tahu dimana menempatkan porsinya.

Menjalin silaturahim yang baik dengan mantan justru akan mengurangi resiko patah hati dan tentu saja ini penerimaan yang dewasa kan? Udah bukan jamannya lagi pasca putus menjelek-jelekan mantan. Sekalipun kita jelek-jelekan dia... dia tidaj akan kembali, justru hanya menambah daftar penyakit hati saja. Keuntungan lain  berteman dengan mantan adalah kita tidak perlu direpotkan dengan unek-unek karena bisa lebih leluasa mengungkapkannya versi teman. Lagipula, kita sebagai manusia hanya berencana (berencana setia, ingin membahagiakan dia, langgeng, dan seterusnya...) tapi Tuhanlah yang menentukan. Tugas kita hanya berusaha, Tuhanlah yang memutuskan. Setelah berencana dan berusaha, tugas kita adalah menerima. Pahit memang. Sakit memang. Hancur, tentu saja iya. Tapi hidup tidak berhenti disitu juga kan?

Ekhm.... edisi curhat malam-malam. Udah lama gak ngoprek blog, sekali nya nulis, tentang hal yang beginian. Halaaaaah.... yasyudahlaaaah... mungkin motivasi menulisnya dimulai dari sini. Hihihi....

Berteman dengan mantan? Why not?

Tidak ada komentar:

Designed By