Ceritanya mau bikin judul yang sok romantis. Menyoal hujan, tentu suasananya itu melow-melow gimana... gitu? Sejak kecil, musim hujan adalah musim yang selalu membuat saya bahagia; alasan bisa berselimut lebih lama dan absen sekolah ketika hujan deras (ini tidak baik, sungguh. 😅), seluncuran bebas di lantai rumah nenek, saling siram air sama teman, kekeceh (memainkan air genangan hujan yang tersisa di tanah), dan berlari sesuka hati seperti di pelem-pelem India gitu (yang ini dipake untuk sok-sok drama. 😂😂😂).
Nah, ritual hujan-hujanan itu masih saya akrabi ketika berseragam putih merah. Setelah itu, merasa sudah remaja, gengsi mulai timbul dan memilih pola bermain yang "aman versi remaja". Waktu SD, setiap mau hujan-hujanan, saya harus ijin ke ibu Kadang, saya merajuk kepada ibu karena sering dilarang hujan-hujanan. Memang sih, larangan ibu itu adalah bentuk kekhawatiran karena setiap selesai hujan-hujanan pastinya saya itu pilek atau demam. Tapi bukan saya kalau kehilangan cara untuk menikmati hujan wakty itu. Hihihi....
Nah, karena sindrom kekanak-kanakan sedang merasuk ke saya, akibat beberapa hari ini mainnya sama anak SD; petisan bareng, main, sampai acara papahare, membuat saya merindukan masa kecil. Saya merindukan masa dimana pola pikir saya masih sederhana, tidak serumit sekarang ini. Yang ada di pikiran saya hanya sekolah dan segala persoalannya, jajan, dan main. Bertengkar dengan temanpun hanya beberapa hari saja, selebihnya kembali normal tanpa ada dendam setelah baikan. Begitu indah dan sederhana.
Lagi mumet-mumetnya ini otak, siang tadi turun hujan deras. Saya segera meminta ijin ke ibu, "Ibu, mau hujan-hujanan ya."
Ibu yang baru selesai shalat, tersenyum, "iya, sana. Jangan pakai baju itu. Pakai yang pendek aja. Nanti kotor itu. Handuknya siapkan dulu di kamar mandi!"
Saya segera masuk kamar dan mengganti pakaian sesuai saran ibu. Tanpa peduli apapun, saya segera berlari menikmati tetesan air hujan. Saya melepas atribut sebagai orang "dewasa" (baca: tua. 😜), melepaskan sejenak hal-hal yang mengganggu, melepaskan tugas-tugas dan membiarkan diri saya menjadi bagian dari hujan itu sendiri. Sungguh, yang saya rasakan adalah... betapa semua yang terlepas itu memberikan keringanan. Semuanya begitu indah dan benar-benar nikmat.
Saya membiarkan tubuh saya basah kuyup, membiarkan kaki belepotan dan membuat footprint di tanah yang becek. Terlihat jelas telapak kaki saya memembuhi halaman rumah yang sudah becek. Beberap jejak tertutup genangan air hujan yang semakin deras. Mungkin, saya meluangkan waktu bermain hujan selama lima belas menit. Kemudian saya bergegas ke kamar mandi. Kebetulan juga, sejak pagi belum mandi. 😂😂😂
Rasanya lelah, setelah berlarian tadi. Saya baru saja selesai mandi. Hujan belum juga reda. Hawa menjadi semakin dingin. Saya membawa selimut tebal dan menariknya dari kakak karena dia sedang tidur di kamar saya. Saya merebahkan tubuh di kasur lantai ruang tamu.
Sementara itu, kedua orang tua saya sedang duduk di teras; mengobrol, menikmati secangkir kopi berdua, dan ngemil kerupuk gadung dan ranggining. Saya mulai merasakan kantuk.
Diantara sadar dan tidak, terdengar pintu terbuka. Tak lama, abah berbicara" bu, si hideung ja sare." Pintu kembali ditutup.
Ibu masuk dan mengecek saya. Saya bisa mendengar suaranya yang sangat dekat, "buh, haneuteun amat si ene." (*kayaknya hangat banget si neng.)
Langkah ibu menjauh, ibu sudah di luar bersama abah, "eta geus huhujanan, capek boa. Ja sarena lepa amat." Kata ibu pada abah. (*habis hujan-hujanan, capek kali. Tidurnya nyenyak banget.)
"Ari kitu ngahajakeun huhujanan eta si hideung?" Tanya abah sambil tertawa. (*memangnya sengaja hujan-kehujanan?)
Ibu jawab ya. Selebihnya, saya tidak bisa menyimak obrolan keduanya, karena sudah terseret pada tidur yang nyenyak.
Selalu menyenangkan ketika hujan turun. Ada kenangan yang begitu hangat tertanam; tentang keceriaan, tentang sebuah rasa yang menghangatkan, dan sebuah keromantisan. Rintiknya, adalah alunan yang begitu merdu. Nyanyian alam tentang hujan dan hujan... selalu kurindukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar