Selalu berdebat, saling jotos waktu kecil, gak bosen dibikin nangis, dan kembali akur setelah puas teriak-teriak atau kejar-kejaran, pastinya... selalu ada kisah yang dibagi. Dia adalah kakakku. Biasa kusebut Samin, Sam, Jibril, ataupun Delan (terasi.red).
Dia si pangais bungsu, tentunya menjadi saingan dan teman terdekatku. Kami memiliki banyak kesamaan. Orang tua sering menjuluki kami "si Lia itu Ade versi perempuan, dan si Ade itu Lia versi laki-laki. Akur. Sebelas dua belas." Itu kalimat ampun abah setiap salah satu dari kami membuat ulah.
Sudah bertahun terpisah karena kami merantau, sekarang kami tinggal serumah setelah "rehat" jadi anak rantau. Masih ada pertengkaran kecil, tapi sudah tidak seekstrim dulu. Sekarang masalah prinsip. Kami memang sering berdiskusi tapi untuk beberapa hal, aku kesulitan untuk melibatkannya. Termasuk melibatkannya dalam kegiatan Saung Bambu.
Awal SB dirintis, aku pernah mengajaknya, tapi dia tidak atau lebih tepatnya belum mau terlibat kegiatan. Dia tidak menunjukan ketertarikan pada kegiatan ini. Akupun tidak mungkin memaksanya untuk mau menjadi bagian yang kujalani. Walau saudara, tentu kami memiliki jalan berbeda.
Satu tahun Saung Bambu berdiri. Dia melihat bagaimana aku dan teman-teman saling bahu membahu untuk tetap konsisten pada kegiatan Saung Bambu. Dan semalam, kami mulai berdiskusi. Aku bahagia dan tentu bangga pada kakakku ini.
"Ia, sini duduk!" Dia menepuk lantai yang dia duduki, agar aku duduk di sebelah kanannya. Aku tidak langsung menerima tawarannya. Aku justru mendekat kearah ponsel yang sedang ku charger. Kebetulan malam itu mood ku sedang tidak bagus.
Dia bertanya kenapa aku cemberut? Aku katakan saja padanya untuk tidak mengajakku berbicara sampai mood ku membaik. Aku langsung pergi ke kamar untuk menenangkan diri. Setelah beberapa jam mood ku membaik, aku keluar. Dia memijat telapak kakiku dan bertanya dengan senyum menggoda," sudah selesai merajuknya? Mood nya sudah membaik?"
Posisiku yang sedang merebahkan tubuh di kasur lantai di ruang tamu, menjawab nya dengan senyum dan anggukan. Dia lalu duduk di sampingku.
"Jadi gini ya. Aka (cara dia mengaddresskan diri sebagai kakak) punya rencana untuk membuat kelas Saung Bambu di kebun yang bawah. Lokasinya pinggir jalan dan strategis. Biar adik-adik tidak kehujanan kalau belajar."
Aku menyimak setiap tuturnya. Dia mulai memintaku untuk menyediakan kertas dan pulpen. Dia kemudian membuat oret-oret tentang rancangan bangunan yang sangat sederhana, dengan kalkulasi bahan bangunan yang dibutuhkan. Setelah mendiskusikannya, kami sepakat bahwa luas bangunan yang ideal adalah 3x9m.
Aku bahagia, karena secara diam, kakakku ini memperhatikan kegiatan adiknya. Dia justru memberikan dukungan ide dan tenaga untuk Saung Bambu. Belakangan ini, kakakku juga mulai memperhatikan caraku berinteraksi dengan relawan. Dia tak sungkan mengingatkan aku ketika aku lalai. Aku beruntung, dengan posisiku yang masih belajar, dari lingkungan intiku memberikan dukungan sepenuhnya untukku. Dari mulai abah dan ibu yang menjadikan Saung Bambu adalah bagian terpenting dari hidupnya. Bahkan relawan sudah mereka anggap sebagai anak. Relawan sudah terbiasa mengacak-acak dapur dan menikmati apa yang tersaji di rumah. Orang tuaku memang memberikan ruang seluasnya bagi relawan. Rumahku adalah rumah kedua relawan.
Kakak-kakakku, termasuk kak Ade yang sekarang menjadi "konsultanku". Dia adalah teman diskusiku dalam memutuskan sebuah sikap. Karena memang, aku bukan orang yang terlalu baik sebagai decision maker.
Untuk rencana pembangunan kelas Saung Bambu alakadarnya, kakakku adalah spirit awal bagiku untuk memulai. Dia memberikan kepercayaan bagiku untuk merealisasikannya. Dia menjamin bahwa ini akan segera terlaksana. Dan hal yang aku syukuri adalah ketika dia berkata, "yuk, kita kerjakan bersama. Aka akan bantu sebisa mungkin!"
"Yuk!" Satu kekuatan kata yang kumaknai sebagai sebuah ajakan yang memiliki nilai besar bagiku. Betapa kata itu menjadi power yang hebat untuk menyulut semangatku. Aku seperti ter-charge oleh semangat kakakku. Kami mulai kompak dalam segala hal ternyata. Dan waktu adalah media untuk proses sebuah pendewasaan. Aku merasakan perubahan yang positif darinya, dari hari ke hari.
You are more than my brother and my bestfriend. You are my PARTNER IN CRIME.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar