Breaking News

Minggu, 03 Mei 2015

The way we shared

Satu hari ini, banyak hal yang menyumbat kepalaku. Dan sepertinya sumbatan itu mencipta sakit yang jika tak kutunaikan dalam jabaran cerita, tentu ini tak akan sampai pada apa yang kusebut sebagai healing. Menulis adalah terapi. Itu yang kuyakini
walau tak terlalu apik kutempatkan diksi pada lembar cerita yang terurai. Tentang hari ini, seusai kelas di Saung Bambu, aku dan beberapa relawan Saung Bambu akan menghadiri acara pernikahan sepupu salah satu relawan kami. Setengah satu siang hari, titik-titik hujan memercik pada bingkai kacamataku. Aku tetap melajukan motor menuju tempat yang kami janjikan. Rencana kondangan mengendarai motor harus dibatalkan, mengingat jumlah orang tak memungkinkan untuk ddibonceng. Akhirnya, jalan kaki menjadi keputusan bijak atas nama solidaritas. 

6 orang dari Nurul Fikri, 5 siswa Saung Bambu dan sisanya adalah relawan. Jarak tempuh dari Pematang Warung ke Karees (nama kampung yang hajat) sekitar 3 km. Kami harus melewati kampung Bojong Bunar agar sampai disana. Hujan yang memercik, tetiba menderas. Kami menunggu hingga hujan reda. Setengah jam berlalu, berangkatlah kami ke Karees. Baru beberapa langkah berjalan, sebuah mobil bak melintas. BM-lah kami, meminta pengendara mobil mengantarkan kami ke Karees. Pematang Warung yang merupakan wilayah perbukitan, harus melewati turunan dan tanjakan untuk sampai kesana. Tak lama, kami sampai ke lokasi pernikahan. Masing-masing yang sudah menyiapkan amplop, menyalami keluarga mempelai, walau sebenarnya aku tidak mengenal pengantin tersebut, selain relawan SB. Makan siang dimulai, menu khas hajatan menjadi santapan kami bersama. Selama proses menikmati makanan, tak lepas dari canda tawa yang membuat gaduh suasana hajatan. Makan selesai, kami diminta berfoto (sebenarnya sih meminta untuk berfoto) bersama pengantin. Beberapa kali foto dilakukan, kami berpamitan pada Fitri dan juga pengantin. Maka, sebuah turunan dan tanjakan yang super tinggi menjadi ancaman bagiku yang memang jarang jalan.

Suasana jalan kaki yang menyenangkan tak menutupi rasa lelahku. Kenyang setelah diisi oleh makanan tadi, sepertinya akan hilang dengan cepat, mengingat pembakaran kalori hari ini cukup membuatku lelah. Aku dan beberapa relawan memilih duduk di gardu setelah sampai di kampung. Aku duduk berlama-lama disitu, menunggu keringatku selesai mengalir. Sementara, teman-teman Nurul Fikri memilih istirahat di warung yang letaknya 500 meter dari gardu. Adik-adik yang lima orang tersebut menghampiri mereka. Sekitar 15 berlalu, adik-adik kembali dan membawakan kami segelas air mineral. Aku katakan bahwa aku tidak haus, tapi dia memaksa. 


"Gak usah, kakak mah nanti aja mau jajan es di warung teh Yanah." Ucapku, berusaha menolak.

"Udah, pegang lah kak. Jajan es mah nanti ini. Sekarang mah minum aja. Nih!" Balas Manda, sambil menyodorkan air mineral.

"Ah, gak usah repot-repot. Kalau kakak mau, nanti kakak beli sendiri kok."

"Gak repot kok kak. Udah deh, minum. Udah dibeliin juga." Ucapnya dengan bahasa yang memaksa.

"Ya ampun, perhatian banget sih kalian, jadi terharu kakak."

"Ya udah kak, nangis aja." Balas mereka serentak.


"Huhuhu..." godaku. Aku berlagak sok menangis. Sementara, air yang sudah kulubangi oleh penusuknya, ternyata sedikit tumpah dan membasahi kerudungku. Mereka berteriak, "kaaaaaakkkk. Hahaha..."

Aku ikut menertawakan diriku bersama mereka. Dan, aku meminum air yang diberikan adik-adik manis ini. Jujur, aku terharu. Hal yang sekecil ini, membuat aku merasa tersentuh dengan apa yang mereka lakukan. Mungkin hanya segelas air mineral yang harganya 500 atau 1000 rupiah saja. Tapi, itu adalah bentuk dari rasa sayang dan kepeduliannya. Entah aku yang terbawa perasaan atau memang ini sebuah kejadian yang harus disampaikan dengan bahasa hati, bahwa yang ditangkap adalah niat mereka, rasa khawatir mereka adalah bentuk ikatan kami yang menguat. Ingin rasanya saat itu aku memeluk mereka, mengucapkan betapa aku menyayangi mereka. Tapi, rasanya terlalu berlebihan jika aku terlihat begitu emosional. Ya, aku belajar dari mereka hari ini. Hal sederhana seperti ini kadang akan lebih menyentuh, ketika nilai dari kesederhanaan itu begitu mewah. Karena ketika hati yang berbicara, maka akan sampai pada hati juga.

Menyayangi, tak mesti selalu bersikap manis, tak selalu memberikan kelembutan. Ada ritme yang perlu disesuaikan. Dan mereka tahu, bahwa selama ini aku tegas. Aku tak segan marah di kelas ketika ada yang perlu dibenahi. Aku tidak terlalu suka membuang energi untuk berteriak ketika kelas mulai gaduh. Aku memilih untuk berhenti berbicara ketika aku sedang menyampaikan sesuatu di depan, tapi mereka sibuk dengan obrolan. Dan mereka langsung menyadari bahwa aku sedang "marah", dan kelas hening saat itu juga. Bahkan temanku bilang, jangan terlalu galak pada anak-anak. Aku katakan bahwa aku tidak galak, tetapi belajar untuk tegas. Namun, kriteriaku menurutnya galak. 

Jika pun aku "galak", aku masih punya perasaan. Dan hal tersebut tidak membuat adik-adik menjauh dariku. Karena aku percaya, ketulusan akan menjadi pemenang. 

 Love you, kids. Love you, my little sisters. 

Tidak ada komentar:

Designed By