Minggu, 3 Mei 2015 adalah jadwal kelas Saung Bambu. Kali ini, adik-adik diminta untuk menulis curahan hati tentang pendidikan. Isinya seperti apa, kami serahkan kepada mereka. Surat tersebut dibuat untuk memperingati hari pendidikan pada 2 Mei kemarin. Sebagai generasi terdidik, mereka wajib tahu seperti apa pendidikan dan berhak menyampaikan "unek-unek" sebagai bentuk dari keterlibatannya.
Media yang efektif untuk bercerita adalah tulisan. Maka mereka diberikan waktu 25 menit untuk menulis. Selama proses menulis tersebut, mereka dibagi menjadi 6 kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 atau 4 siswa, dan di dampingi oleh fasilitator dari Nurul Fikri dan relawan Saung Bambu.
Selesainya menulis, kami mengadakan kegiatan di luar kelas, yaitu di halaman sekolah. Mereka membuat lingkaran dan menyanyi bersama. Kemudian, perwakilan dari mereka maju dan menyampaikan isi tulisannya. Ada yang mengatakan bahwa mereka ingin sekolah yang bagus dan bersih, toilet yang bersih, sarana yang memadai, memiliki guru yang baik, menjadi siswa yang berprestasi dan mematuhi aturan, menjadi kakak kelas yang memberi contoh baik kepada adik kelas, hingga harapan mereka agar Saung Bambu memiliki tempat sendiri. Untuk yang satu ini, saya selaku bagian dari Saung Bambu merasa berdosa karena belum memenuhi harapan itu.
Mereka semakin terlihat percaya diri menyampaikan pendapatnya, terlepas dari bahasa yang terkadang tidak nyambung. Tapi, poin utamanya bukan salah atau benar, tapi mereka berani untuk tampil.
Keseriusan belajar akhirnya diselingi oleh "dor" game yang harus mengeliminasi siapapun yang tidak konsentrasi. Satu persatu keluar, dan Farraz menang setelah bertarung dengan Nilam. Suasana ceria hari ini membuat siapapun yang terlibat tidak akan lepas dari tawa. Kebersamaan yang menyenangkan. Sebelum pulang, adik-adik meminta saran untuk operasi semut di lapangan sekolah, dan tentu usulan itu kami iyakan.
Berada bersama mereka, berbagi hal-hal sederhana; canda, tawa, cerita, ilmu sebisanya, dan tentu nilai yang mungkin bisa mereka cerna, adalah langkah kecil kami, para pemuda yang ingin mendedikasikan diri untuk masyarakat. Kami peduli dengan pendidikan, dan ini adalah wujud nyata kepedulian kami. Karena pendidikan, tak selalu di dalam kelas. Tak selalu ilmu itu di dapat dari guru yang berseragam.
Hari ini, kami mendapatkan donasi buku dari Nurul Fikri Boarding School. Terima kasih Saung Bambu ucapkan untuk 6 siswa Nurul Fikri yang dengan kerelaan hati menyatakan diri sebagai relawan Saung Bambu. Welcome to be a part of Saung Bambu family.
Kami memulai dari apa yang kami bisa, untuk lingkungan terdekat dan mulai dari hari ini. Selamat hari pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar