![]() |
| blogger.com |
“HI?”
“Salah jurusan?”
“Sama, gua juga. Gua pengennya Komunikasi, Sastra
Jepang, MarCom, Broadcast, blab la bla… Kalau lu Lia?”
“Gua gak tahu
arah, guys.”
Aku TERSESAT dan
TAK TAHU ARAH pulang. *toeeeng…
Masih saja menjadi curhatan bagi kami yang kuliah di
HI tentang kenyataan yang harus dihadapi. Banyak yang mengatakan bahwa mereka
salah jurusan masuk HI. Dipaksa orang tua, karena gak lulus Univ Negeri, de el
el. Walau ada beberapa yang masuk HI karena benar-benar passion. Saya sendiri, lebih menyebut diri saya “tidak tahu arah”. Teman-teman
HI yang mengatakan bahwa mereka salah jurusan, tentu mereka tahu apa yang
menurut mereka BENAR. Setidaknya, pernyataan itu jauh lebih berprinsip daripada
“tidak tahu arah”, kaaann???
Sejak kecil saya memang tidak pernah tahu ingin
menjadi apa setelah besar nanti. Ketika guru di kelas bertanya cita-cita, saya
sekedar menjawab sesuai jawaban teman kebanyakan. Ada teman yang ingin menjadi
dokter, ikut-ikutan mau jadi dokter, padahal paling menggigil kalau liat darah.
Pas teman bilang mau jadi polwan, saya ikut pengen jadi polwan, padahal saya
tidak tegas dan tidak ‘tahan banting’. Ada teman yang ingin menjadi guru, saya
ikut-ikutan juga, padahal saat itu saya paling pusing kalau ada keributan di
kelas. Bawaannya esmos melulu. Ngalor-ngidul
milu kana baturan.
Eits, jangan salah. Walaupun begitu, saya punya mimpi
besar dan sampai saat ini tidak pernah berubah yaitu ingin membahagiakan orang tua dan membuat mereka bangga memiliki anak
seperti saya. CATET tuh. #Cieeeee… So sweet. Hihihi..
Saya memiliki sifat bawaan yang sampai saat ini sulit
dihilangkan yaitu “gak enakan” dan “pemberontak”. Dua sisi diri yang berlawanan
itu sering berbenturan dan membetuk sisi lain yang mungkin menjadi garis tengah
dari sifat saya ini. Saya tidak bisa diam kalau ada sesuatu yang tidak beres.
Rasanya, tergerak untuk melakukan sesuatu, ya.. walaupun gak jarang cuma
memikirkan tapi no action. Da aku mah apa
atuh? *Iyyyuuuuhhh…
Kelas XI SMA, saya tertarik pada sastra lama dan mulai
menekuni kegemaran tersebut. Sering sekali menghabiskan waktu istirahat di
Perpus dan selalu membawa buku pinjaman dari perpus. Dengan pustakawannya saja
sudah seperti teman sendiri. Padahal saya tidak terlalu suka membaca. Untuk
sastra, karena saya tertarik mempelajarinya, sudah banyak buku yang saya lahap.
Seminggu minimal tiga judul novel atau roman yang saya baca. Itu minimal, lho.
Selulusnya dari SMA, saya berbekal berbagai pengalaman
kerja yang waktunya cuma sebentar. Tidak pernah betahan sih orangnya. Sifat
seperti ini benar-benar menjadi sesuatu tantangan besar. Pada akhirnya, Jakarta
menjadi tempat perantauan selanjutnya untuk saya, dan disinilah semua bermulai.
Ketika tahun 2013 berkesempatan kuliah di Bina
Nusantara dan menjadi Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, saya seperti
orang linglung yang belum tahu harus pergi kemana. Lha wong saya tidak tahu
arah, kok. Saya tidak membenci jurusan ini, tidak juga begitu saja menerimanya.
Menjalani perlahan, sambil mempelajarinya adalah cara saya bertahan. Semester
1, 2, dan 3 adalah proses pengenalan. Saya mulai berkenalan dengan jurusan ini.
Masih belum ada chemistry, teman-teman.
Saya mudah jenuh di kelas, tidak aktif selama proses belajar. Tapi, ketika ada
tugas video project saya sangat antusias. Saya semangat dan benar-benar total
dalam mengerjakannya, walau harus banyak menghabiskan waktu. Tugas untuk
membuat paper sebagai tugas akhir lebih “menantang”, daripada harus mengisi
jawaban di kertas ujian dalam durasi 100 menit. Sangat membosankan. Saya tidak
suka terlalu lama memfokuskan mata pada bacaan-bacaan yang menurut saya
“menjenuhkan”. Tapi saya akan menghabiskan waktu berlama-lama di Perpustakaan,
berdiskusi dengan orang, dan membaca sesuatu yang menurut saya harus dilakukan
jika berhubungan dengan istilah “tanggung jawab” yang saya kriteriakan sendiri.
Semester 3, saya harus dibingungkan oleh proses
penjurusan. MNC, Security, Diplomasi dan Media. Saya dilema saat itu. Untuk
MNC, tentu tidak akan jauh-jauh dari koridor bisnis. Dan saya tidak terlalu berbakat
untuk bidang ekonomi.
Security, menurut pandangan saya tentu tentang
keamanaan, peperangan dan sejenis itulah. Sejak Semester 1, nilai Security
saya ada diangka rata-rata, dan saya
menyadari kurang bakat dibidang tersebut. Karena mungkin saya cinta damai? #Plak..
#MintadigamparDosen. Benar lho, teman-teman, saya tidak suka berkonflik. Saya
lebih memilih cara aman untuk hidup. Hihihihi… Apa-apaan ini? Apa hubungannya streaming security dengan jalan hidup
yang saya pilih? Mungkin, kali ini saya tidak nyambung.
Kalau Diplomasi, saya tidak terlalu pintar me-lobby
orang. Buktinya, sampai sekarang masih jomblo. Kenapa? Karena saya gak bisa
me-lobby hati gebetan. #Gubraaaakkk… GARING saudara-saudara! Bukan, bukan
karena itu. Yang ada dibayangan saya adalah.. bahwa diplomasi tentunya akan
menjadi jalan awal bagi para calon diplomat. Diplomat yang ada dalam bayangan
saya tentu tidak akan jauh dari penampilan yang rapi. Kemampuan juga menjadi
hal perlu dipersiapkan, lah. Itu
tidak perlu dibahas secara detail. Semua tentu tahu. Saya tidak terlalu suka
berpenampilan formal. Saya lebih nyaman berpakaian casual. Dan itu, mungkin
menjadi sesuatu yang menghambat. Ah, ini orang banyak beralibi ya? Intinya,
sulit bagi saya untuk berpenampilan rapi. Sudah pernah mencoba, tapi tetap,
bukan bakatnya.
Nah, yang agak menyerempet dekat dengan saya, dan
mudah-mudahan bisa saya lewati, yaitu streaming
International Media and Multiculturalism. Setidaknya, ini adalah rumah yang
jauh lebih nyaman untuk saya singgahi sementara. Walau, saya bukan pembicara
yang baik di depan kelas. Hikkss…
Jadilah saya menikmati hari-hari sebagai Mahasiswa HI
untuk streaming Media Internasional. Disini, saya masih ragu. Sementer 4 masih
merasa ragu dengan jurusan ini. Tapi, kabar baiknya adalah saya mulai nyaman
berada disini. Saya mulai tertarik untuk benar-benar menjadi “bagian” dari
kelas. Saya merasa bahwa saya baru mulai kuliah di semester ini. Saya tak lagi
menganggap bahwa saya “tidak tahu arah”, karena disinilah saya menemukan arah
tersebut. Kesadaran itu diperkuat dengan keterlibatan saya sebagai relawan di
JALA PRT untuk isu pekerja rumah tangga. Saya merasakan situasi kerja yang
menyenangkan. Dihadapkan pada orang yang berbeda dari institusi dan kepentingan
berbeda. Ketika terlibat dengan mereka, banyak hal baru yang saya dapatkan, dan
mungkin belum di dapatkan di kampus. Keyakinan saya untuk lebih mendalami peran
di LSM diperkuat dengan komitmen saya untuk membuat LSM yang sekarang masih
berbentuk komunitas remaja. Menjadikan masyarakat perdesaan sebagai fokus utama
komunitas kami. Saung Bambu, ya… disinilah saya memulai.
Banyak yang berkata bahwa, “Wah, kuliah di HI calon
diplomat nih.”
Saya hanya tersenyum. Senyum yang sok bijak gitu. Hihihihi.
HI adalah bidang yang membuka
jalan bagi saya untuk menemukan apa yang saya ‘butuhkan’ sebagai tujuan
Saat ini saya katakan bahwa saya tidak lagi tersesat.
Saya sudah tahu jalan. Dan HI adalah jalan yang saya tempuh untuk mencapai
cita-cita sebagai tujuannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar