Breaking News

Selasa, 07 April 2015

Tak Tahu Arah

blogger.com
“HI?”
“Salah jurusan?”
“Sama, gua juga. Gua pengennya Komunikasi, Sastra Jepang, MarCom, Broadcast, blab la bla… Kalau lu Lia?”
“Gua  gak tahu arah, guys.”
Aku TERSESAT dan TAK TAHU ARAH pulang. *toeeeng…

Masih saja menjadi curhatan bagi kami yang kuliah di HI tentang kenyataan yang harus dihadapi. Banyak yang mengatakan bahwa mereka salah jurusan masuk HI. Dipaksa orang tua, karena gak lulus Univ Negeri, de el el. Walau ada beberapa yang masuk HI karena benar-benar passion. Saya sendiri, lebih menyebut diri saya “tidak tahu arah”. Teman-teman HI yang mengatakan bahwa mereka salah jurusan, tentu mereka tahu apa yang menurut mereka BENAR. Setidaknya, pernyataan itu jauh lebih berprinsip daripada “tidak tahu arah”, kaaann???

Sejak kecil saya memang tidak pernah tahu ingin menjadi apa setelah besar nanti. Ketika guru di kelas bertanya cita-cita, saya sekedar menjawab sesuai jawaban teman kebanyakan. Ada teman yang ingin menjadi dokter, ikut-ikutan mau jadi dokter, padahal paling menggigil kalau liat darah. Pas teman bilang mau jadi polwan, saya ikut pengen jadi polwan, padahal saya tidak tegas dan tidak ‘tahan banting’. Ada teman yang ingin menjadi guru, saya ikut-ikutan juga, padahal saat itu saya paling pusing kalau ada keributan di kelas. Bawaannya esmos melulu. Ngalor-ngidul milu kana baturan.  

Eits, jangan salah. Walaupun begitu, saya punya mimpi besar dan sampai saat ini tidak pernah berubah yaitu ingin membahagiakan orang tua dan membuat mereka bangga memiliki anak seperti saya. CATET tuh. #Cieeeee… So sweet. Hihihi..

Saya memiliki sifat bawaan yang sampai saat ini sulit dihilangkan yaitu “gak enakan” dan “pemberontak”. Dua sisi diri yang berlawanan itu sering berbenturan dan membetuk sisi lain yang mungkin menjadi garis tengah dari sifat saya ini. Saya tidak bisa diam kalau ada sesuatu yang tidak beres. Rasanya, tergerak untuk melakukan sesuatu, ya.. walaupun gak jarang cuma memikirkan tapi no action. Da aku mah apa atuh? *Iyyyuuuuhhh…

Kelas XI SMA, saya tertarik pada sastra lama dan mulai menekuni kegemaran tersebut. Sering sekali menghabiskan waktu istirahat di Perpus dan selalu membawa buku pinjaman dari perpus. Dengan pustakawannya saja sudah seperti teman sendiri. Padahal saya tidak terlalu suka membaca. Untuk sastra, karena saya tertarik mempelajarinya, sudah banyak buku yang saya lahap. Seminggu minimal tiga judul novel atau roman yang saya baca. Itu minimal, lho.

Selulusnya dari SMA, saya berbekal berbagai pengalaman kerja yang waktunya cuma sebentar. Tidak pernah betahan sih orangnya. Sifat seperti ini benar-benar menjadi sesuatu tantangan besar. Pada akhirnya, Jakarta menjadi tempat perantauan selanjutnya untuk saya, dan disinilah semua bermulai.

Ketika tahun 2013 berkesempatan kuliah di Bina Nusantara dan menjadi Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, saya seperti orang linglung yang belum tahu harus pergi kemana. Lha wong saya tidak tahu arah, kok. Saya tidak membenci jurusan ini, tidak juga begitu saja menerimanya. Menjalani perlahan, sambil mempelajarinya adalah cara saya bertahan. Semester 1, 2, dan 3 adalah proses pengenalan. Saya mulai berkenalan dengan jurusan ini. Masih belum ada chemistry, teman-teman. Saya mudah jenuh di kelas, tidak aktif selama proses belajar. Tapi, ketika ada tugas video project saya sangat antusias. Saya semangat dan benar-benar total dalam mengerjakannya, walau harus banyak menghabiskan waktu. Tugas untuk membuat paper sebagai tugas akhir lebih “menantang”, daripada harus mengisi jawaban di kertas ujian dalam durasi 100 menit. Sangat membosankan. Saya tidak suka terlalu lama memfokuskan mata pada bacaan-bacaan yang menurut saya “menjenuhkan”. Tapi saya akan menghabiskan waktu berlama-lama di Perpustakaan, berdiskusi dengan orang, dan membaca sesuatu yang menurut saya harus dilakukan jika berhubungan dengan istilah “tanggung jawab” yang saya kriteriakan sendiri.

Semester 3, saya harus dibingungkan oleh proses penjurusan. MNC, Security, Diplomasi dan Media. Saya dilema saat itu. Untuk MNC, tentu tidak akan jauh-jauh dari koridor bisnis. Dan saya tidak terlalu berbakat untuk bidang ekonomi.

Security, menurut pandangan saya tentu tentang keamanaan, peperangan dan sejenis itulah. Sejak Semester 1, nilai Security saya  ada diangka rata-rata, dan saya menyadari kurang bakat dibidang tersebut. Karena mungkin saya cinta damai? #Plak.. #MintadigamparDosen. Benar lho, teman-teman, saya tidak suka berkonflik. Saya lebih memilih cara aman untuk hidup. Hihihihi… Apa-apaan ini? Apa hubungannya streaming security dengan jalan hidup yang saya pilih? Mungkin, kali ini saya tidak nyambung.

Kalau Diplomasi, saya tidak terlalu pintar me-lobby orang. Buktinya, sampai sekarang masih jomblo. Kenapa? Karena saya gak bisa me-lobby hati gebetan. #Gubraaaakkk… GARING saudara-saudara! Bukan, bukan karena itu. Yang ada dibayangan saya adalah.. bahwa diplomasi tentunya akan menjadi jalan awal bagi para calon diplomat. Diplomat yang ada dalam bayangan saya tentu tidak akan jauh dari penampilan yang rapi. Kemampuan juga menjadi hal perlu dipersiapkan, lah. Itu tidak perlu dibahas secara detail. Semua tentu tahu. Saya tidak terlalu suka berpenampilan formal. Saya lebih nyaman berpakaian casual. Dan itu, mungkin menjadi sesuatu yang menghambat. Ah, ini orang banyak beralibi ya? Intinya, sulit bagi saya untuk berpenampilan rapi. Sudah pernah mencoba, tapi tetap, bukan bakatnya.

Nah, yang agak menyerempet dekat dengan saya, dan mudah-mudahan bisa saya lewati, yaitu streaming International Media and Multiculturalism. Setidaknya, ini adalah rumah yang jauh lebih nyaman untuk saya singgahi sementara. Walau, saya bukan pembicara yang baik di depan kelas. Hikkss…

Jadilah saya menikmati hari-hari sebagai Mahasiswa HI untuk streaming Media Internasional. Disini, saya masih ragu. Sementer 4 masih merasa ragu dengan jurusan ini. Tapi, kabar baiknya adalah saya mulai nyaman berada disini. Saya mulai tertarik untuk benar-benar menjadi “bagian” dari kelas. Saya merasa bahwa saya baru mulai kuliah di semester ini. Saya tak lagi menganggap bahwa saya “tidak tahu arah”, karena disinilah saya menemukan arah tersebut. Kesadaran itu diperkuat dengan keterlibatan saya sebagai relawan di JALA PRT untuk isu pekerja rumah tangga. Saya merasakan situasi kerja yang menyenangkan. Dihadapkan pada orang yang berbeda dari institusi dan kepentingan berbeda. Ketika terlibat dengan mereka, banyak hal baru yang saya dapatkan, dan mungkin belum di dapatkan di kampus. Keyakinan saya untuk lebih mendalami peran di LSM diperkuat dengan komitmen saya untuk membuat LSM yang sekarang masih berbentuk komunitas remaja. Menjadikan masyarakat perdesaan sebagai fokus utama komunitas kami. Saung Bambu, ya… disinilah saya memulai.

Banyak yang berkata bahwa, “Wah, kuliah di HI calon diplomat nih.”

Saya hanya tersenyum. Senyum yang sok bijak gitu. Hihihihi. 

HI adalah bidang yang membuka jalan bagi saya untuk menemukan apa yang saya ‘butuhkan’ sebagai tujuan
. Menjadi apa setelah ini, tentu itu pilihan dan juga takdir. Toh, banyak yang lulusan HI tapi tidak mesti menjadi diplomat. Banyak kawan-kawan aktivis yang saya kenal, mereka adalah alumni HI dari berbagai Universitas di Indonesia. Intinya, salah jurusan ataupun ‘tidak tahu jurusan”, hanya awal untuk pengenalan. Selama ada penerimaan dari apa yang kita anggap sebagai sesuatu hal yang tidak sesuai, akan membuka peluang baru dan jalan yang lebih baik dari rencana awal.


Saat ini saya katakan bahwa saya tidak lagi tersesat. Saya sudah tahu jalan. Dan HI adalah jalan yang saya tempuh untuk mencapai cita-cita sebagai tujuannya.

Tidak ada komentar:

Designed By