![]() |
| senja di pasir Putih |
Biarkan aku berkisah,
sejenak saja –tentang senja yang kerap mencipta rindu, tentang penantian yang
tak berpenghujung, tentang aku, kamu, dan mereka. Aku masih bersama senja,
setelah langkah kita tak lagi menapak di tanah yang sama. Ada jarak yang
merentang, ada cerita yang menjeda. Tak kusudahkan artimu sebagai henti. Karena
waktu masih berdetak di jarum yang sama.
Kudatangi tempat dimana
kita pernah duduk bersama dalam cerita yang begitu ringan tertutur. Kuritualkan
diri menyapa kisah yang belum berganti. Masih utuh meski
lusuh. Duduklah aku di deretan karang yang tak memberi kepastian berapa tingkat
ketajaman dari setiap runcingannya. Seperti halnya aku, yang tak pernah
membedakan sepi atau sendiri. Tak ada dirimu disini adalah sepi, juga
sendiri.
Debur ombak, semilir
angin, dan aroma laut menjadi teman setiaku dalam hampa berkepanjangan. Aku tak
berpenemu. Di sekeliling, yang kutatap hanyalah langit oranye, bayangan hitam
dari ombak yang beriring, dan guratan awan berwarna abu. Sempat aku meminta
Tuhan mengembalikan fajar, agar setelahnya mampu kutatap dengan jelas biru
laut, awan putih, dan langit cerah. Aku selalu meminta pada Tuhan agar fajar
kembali sebagai keajaiban. Karena yang pernah kulalui hnayalah dua fase itu.
Aku takut. Aku kerap
mempertakut diri ketika kutinggalkan senja, tak akan kujumpai kamu dengan cara
berbeda. Aku pernah mendengar tentang malam; tentang bulan yang membulat kala
purnama, tentang percikan cahaya bintang yang bertebaran di langit, tentang
pendar lampu-lampu jalanan, dan tentang dongeng penghantar tidur. Ada cerita
lain setelah itu, dan selalu begitu.
Katanya –ya, hanya
katanya, bahwa masih ada lagi cerita setelah malam. Cerita tentang mimpi; mimpi
indah, mimpi buruk, bahkan mimpi yang akan hadir sebagai sesuatu yang nyata di
lain hari. Terlalu banyak aku mendengar tentang semuanya. Aku hanya mendengar, dan tetap membiarkan diri terperangkap pada senja yang kutakuti akan mematikan
kisah kita ketika aku beranjak.
Satu, dua, tiga… hingga langkah
ketujuh, belumpun aku bergegas. Kulihat banyak cerita yang bergantian memintaku
untuk beranjak dari sini. Mereka mengabarkan kisah-kisah tentang malam, tentang
mimpi, tentang fajar setelah mimpi, tentang siang hari dan kembali pada senja di lain hari.
Kuberanikan diri untuk
bangkit; beranjak pada malam yang sebentar lagi melipat langit oranye menjadi
hitam pekat. Aku berdiri. Perlahan, warna langit memudar. Satu langkah
kuayunkan, hitam beranjak. Kumundurkan tubuh selangkah, oranye menampak. Beberapa aku melangkah mundur, kembaliku pada tempat duduk diantara runcing karang.
Maka, kuayunkan langkah mundur kehitungan sebelum tujuh. Perlahan, langit
mencerah, awan memutih, laut membiru, dan semakin jauh aku berjalan mundur,
kita bertemu lagi di fajar itu. Ya, aku bertemu denganmu seperti tujuh hitungan
yang berawal dari sini.
Aku bahagia bisa
bersamamu. Bisa menatapmu sedekat ini dan bisa berada di langkah awal sebelum mencapai tujuh. Namun, aku tak melihat burung yang beriringan, tak ada lagi hijau
pepohonan yang merimbun, dan tak ada lagi suara bising seperti kita di langkah awal tsebelum tujuh ini. Aku bisu, kamu bisu, mereka bisu, alampun membisu.
Kembaliku pada tempat
semula. Aku memutuskan untuk tetap duduk seperti ritualku yang sudah membelenggu.
Tetiba, ada sebuah bisikan yang tak terdengar telingaku. Bisikan yang
hanya sampai pada nurani bahwa aku harus melewati malam. Perlahan, aku
mengayunkan langkah. Satu, dua, tiga, dan seterusnya hingga tak kulihat lagi
awan berwarna abu. Adalah langit hitam pekat yang kulihat. Satu persatu menampak;
bintang bertebaran di langit, memukauku dalam sendiri dan sepi. Kemudian bulan
membulat saat purnama, juga pendar lampu jalanan.
“Seharusnya aku sudah
sampai disini sejak dulu,” sesalku. Lalu, aku mencecapi mimpi. Kulalui mimpi
buruk, mimpi indah, dan mimpi yang akan menjadi nyata di hari nanti. Akupun
terbangun dalam keadaan setengah sadar. Ada seseorang yang berdiri di hadapanku
dengan senyum yang jelas kutangkap maknanya, namun tak terlihat jelas raut
wajahnya, “akulah pembisik itu. Akulah sumber suara di nuranimu.”
“Kaukah yang akan
menemaniku pada fajar setelah ini?”
Dia masih berdiri, dengan
senyum yang mampu kumaknai namun wajah yang samar. Aku belum terbangun
sempurna. Sekali lagi aku bertanya, “Kaukah yang akan menemaniku pada fajar
setelah ini?”
Tetiba hujan mengguyur. Aku
menghisap aroma tanah dari gemericik hujan. Hujan yang menderas mengurungkan cerahnya mentari pagi. Mendung dan awan menjadi gelap.
“Hi, kau pembisik nurani…
tidakkah hujan ini kan berhenti? Aku ingin segera terbangun sempurna, menjumpa
pagi yang cerah dan menyapa fajar seperti sediakala.”
Ia tak menjawab. Aku
kembali bertanya sekali lagi. Kali ini, dia membalikkan badan, memunggungiku dan berjalan perlahan, kemudian berkata, “fajar akan tiba
setelah aku kembali dari siang. Tunggulah!”
"Benarkah kau akan kembali?"
"Ya, jika aku tak terjebak terang."
Ia berlalu. Aku menunggu.
***
Aroma tanah, gemericik hujan, dan desir angin adalah
simbol kerinduan yang tak meluputkanku darimu. Karena disinilah aku kerap
menyapamu dalam diam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar