Breaking News

Kamis, 02 April 2015

Masih bersama senja

senja di pasir Putih

Biarkan aku berkisah, sejenak saja –tentang senja yang kerap mencipta rindu, tentang penantian yang tak berpenghujung, tentang aku, kamu, dan mereka. Aku masih bersama senja, setelah langkah kita tak lagi menapak di tanah yang sama. Ada jarak yang merentang, ada cerita yang menjeda. Tak kusudahkan artimu sebagai henti. Karena waktu masih berdetak di jarum yang sama. 
Kudatangi tempat dimana kita pernah duduk bersama dalam cerita yang begitu ringan tertutur. Kuritualkan diri menyapa kisah yang belum berganti. Masih utuh meski lusuh. Duduklah aku di deretan karang yang tak memberi kepastian berapa tingkat ketajaman dari setiap runcingannya. Seperti halnya aku, yang tak pernah membedakan sepi atau sendiri. Tak ada dirimu disini adalah sepi, juga sendiri.
Debur ombak, semilir angin, dan aroma laut menjadi teman setiaku dalam hampa berkepanjangan. Aku tak berpenemu. Di sekeliling, yang kutatap hanyalah langit oranye, bayangan hitam dari ombak yang beriring, dan guratan awan berwarna abu. Sempat aku meminta Tuhan mengembalikan fajar, agar setelahnya mampu kutatap dengan jelas biru laut, awan putih, dan langit cerah. Aku selalu meminta pada Tuhan agar fajar kembali sebagai keajaiban. Karena yang pernah kulalui hnayalah dua fase itu.
Aku takut. Aku kerap mempertakut diri ketika kutinggalkan senja, tak akan kujumpai kamu dengan cara berbeda. Aku pernah mendengar tentang malam; tentang bulan yang membulat kala purnama, tentang percikan cahaya bintang yang bertebaran di langit, tentang pendar lampu-lampu jalanan, dan tentang dongeng penghantar tidur. Ada cerita lain setelah itu, dan selalu begitu.
Katanya –ya, hanya katanya, bahwa masih ada lagi cerita setelah malam. Cerita tentang mimpi; mimpi indah, mimpi buruk, bahkan mimpi yang akan hadir sebagai sesuatu yang nyata di lain hari. Terlalu banyak aku mendengar tentang semuanya. Aku hanya mendengar, dan tetap membiarkan diri terperangkap pada senja yang kutakuti akan mematikan kisah kita ketika aku beranjak.
Satu, dua, tiga… hingga langkah ketujuh, belumpun aku bergegas. Kulihat banyak cerita yang bergantian memintaku untuk beranjak dari sini. Mereka mengabarkan kisah-kisah tentang malam, tentang mimpi, tentang fajar setelah mimpi, tentang siang hari dan kembali pada senja di lain hari.
Kuberanikan diri untuk bangkit; beranjak pada malam yang sebentar lagi melipat langit oranye menjadi hitam pekat. Aku berdiri. Perlahan, warna langit memudar. Satu langkah kuayunkan, hitam beranjak. Kumundurkan tubuh selangkah, oranye menampak. Beberapa aku melangkah mundur, kembaliku pada tempat duduk diantara runcing karang. Maka, kuayunkan langkah mundur kehitungan sebelum tujuh. Perlahan, langit mencerah, awan memutih, laut membiru, dan semakin jauh aku berjalan mundur, kita bertemu lagi di fajar itu. Ya, aku bertemu denganmu seperti tujuh hitungan yang berawal dari sini.
Aku bahagia bisa bersamamu. Bisa menatapmu sedekat ini dan bisa berada di langkah awal sebelum mencapai tujuh. Namun, aku tak melihat burung yang beriringan, tak ada lagi hijau pepohonan yang merimbun, dan tak ada lagi suara bising seperti kita di langkah awal tsebelum tujuh ini. Aku bisu, kamu bisu, mereka bisu, alampun membisu. 
Kembaliku pada tempat semula. Aku memutuskan untuk tetap  duduk seperti ritualku yang sudah membelenggu.
Tetiba, ada sebuah bisikan yang tak terdengar telingaku. Bisikan yang hanya sampai pada nurani bahwa aku harus melewati malam. Perlahan, aku mengayunkan langkah. Satu, dua, tiga, dan seterusnya hingga tak kulihat lagi awan berwarna abu. Adalah langit hitam pekat yang kulihat. Satu persatu menampak; bintang bertebaran di langit, memukauku dalam sendiri dan sepi. Kemudian bulan membulat saat purnama, juga pendar lampu jalanan.
“Seharusnya aku sudah sampai disini sejak dulu,” sesalku. Lalu, aku mencecapi mimpi. Kulalui mimpi buruk, mimpi indah, dan mimpi yang akan menjadi nyata di hari nanti. Akupun terbangun dalam keadaan setengah sadar. Ada seseorang yang berdiri di hadapanku dengan senyum yang jelas kutangkap maknanya, namun tak terlihat jelas raut wajahnya, “akulah pembisik itu. Akulah sumber suara di nuranimu.”
“Kaukah yang akan menemaniku pada fajar setelah ini?”
Dia masih berdiri, dengan senyum yang mampu kumaknai namun wajah yang samar. Aku belum terbangun sempurna. Sekali lagi aku bertanya, “Kaukah yang akan menemaniku pada fajar setelah ini?”
Tetiba hujan mengguyur. Aku menghisap aroma tanah dari gemericik hujan. Hujan yang menderas mengurungkan cerahnya mentari pagi. Mendung dan awan menjadi gelap.
“Hi, kau pembisik nurani… tidakkah hujan ini kan berhenti? Aku ingin segera terbangun sempurna, menjumpa pagi yang cerah dan menyapa fajar seperti sediakala.”
Ia tak menjawab. Aku kembali bertanya sekali lagi. Kali ini, dia membalikkan badan, memunggungiku dan berjalan perlahan, kemudian berkata, “fajar akan tiba setelah aku kembali dari siang. Tunggulah!”
"Benarkah kau akan kembali?"
"Ya, jika aku tak terjebak terang."
Ia berlalu. Aku menunggu.

***

Aroma tanah, gemericik hujan, dan desir angin adalah simbol kerinduan yang tak meluputkanku darimu. Karena disinilah aku kerap menyapamu dalam diam. 

Tidak ada komentar:

Designed By