Berawal dari kesadaran akan bakat dan minat anak-anak yang beragam, Saung Bambu yang merupakan komunitas yang kurintis bersama teman-teman pemuda lainnya, mulai membuka kelas vokal dan musik, kelas public speaking dan creative writing, serta kelas teater dan tari.
Kami, para relawan sepakat untuk menyediakan ruang bagi mereka berekspresi. Setiap sebulan sekali mereka tampil. 19 april lalu, mereka tampil. Mulai dari MC hingga performer adalah adik-adik. Sebagian dari mereka mengenakan kebaya, ada juga yang mengenakan batik atau busana muslim. Disesuaikan dengan pakaian yang mereka miliki saja. Antusiasme terlihat saat mereka akan tampil di hari H. Tanggung jawab mereka terlihat dengan semangat yang membuat aku kagum pada jagoan jagoan cilik.
MC pada hari itu adalah Amanda dan Bila. Mereka adalah kelompok public speaking. Paduan suara dan pemain pianika tentu dari kelas vokal dan musik. Pembaca puisi dan pidato dari public speaking, dan anak teater menampilkan seni drama tentang Kartini dengan pemain utamanya adalah Karin.
Mereka tampil memukau dengan keterbatasan di Saung Bambu. Apalagi, ketik melihat penampilan adik-adik dari public speaking. Sebagian besar dari mereka kelas 1 dan 2 SD yang masih malu-malu. Bahkan, ketika di kelas mereka susah diarahkan maju ke depan. Harus ada "paksaan" halus agar mereka berani berdiri di depan. Sekalipun berdiri, suara mereka menghilang saat berbicara. Relawan SB perlu mendekatkan telinga ke arah mereka karena benar-benar berbisik. Namun, ketika memperingati Hari Kartini, mereka tampil berani tanpa malu dan dengan suara yang lantang.
Di public speaking yang menonjol hanya Amanda. Karena dia memang sudah berbakat menjadi anak yang cerdas dan sangat aktif. Di Saung Bambu bakatnya tersebut semakin menonjol. Dan, yang membahagiakan adalah ketika gadis-gadis kecil pemberani itu berkata pada saya, "Teh, aku pengin ikut lomba pidato. Aku pengen jadi juara. Teteh ajak aku lomba dong."
Tambah yang lainnya juga dengan ucapan senada. Saya katakan bahwa nanti akan diajak lomba kalau ada perlombaan. Ketika adik-adik sudah mengajukan diri untuk berkompetisi, tentu sudah tertanam rasa percaya diri. Dan semangat percaya diri itu harus tumbuh dari gadis-gadis cilik pemberani tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar