Breaking News

Kamis, 23 April 2015

Cerita Tentang Raket

2013 lalu, ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa baru, ada pertemuan Binusian 2017 di auditorium. Kegiatan tersebut untuk memperkenalkan UKM UKM Binus kepada maba.

Mulai dari UKM ST Manis, Binus TV, Paramabira dan masih banyak lagi, hingga pada UKM bulu tangkis yang tidak sedikitpun menarik minat saya. Sudah saya katakan bahwa saya sangat tidak berminat dengan segala jenis olahraga, kecuali renang. Saat itu, seorang mahasiswa memperagakan keahliannya menggunakan raket dalam bermain bulu tangkis. Ya, karena memang saat itu seluruh UKM menunjukan penampilan terbaik. Sampai akhirnya, dia selesai bermain bulu tangkis dan turun dari panggung.

Tangannya mengacungkan raket yang dia pegang. Sepertinya tidak seorangpun menaruh perhatian padanya. Saya yang kebetulan duduk di kursi paling pinggir, dekat dengan jalan keluar, otomatis bisa melihat dengan jelas upayanya untuk "menghibahkan" raket. Maka, saya acungkan tangan dan seketika itu juga, raket berpindah tangan menjadi milik saya.

Saya berterima kasih kepada orang tersebut yang memberikan raket secara cuma-cuma. Bahkan, teman di samping saya yang semula tak memperhatikan lelaki itu, kaget melihat dia memberikan raket kepada saya.

2013, 2014, hingga saat ini, tak sekalipun raket itu saya gunakan. Bahkan setahun lalu saat saya menggeser posisi meja di kamar, sedikit terkejut ada raket di pojokan. Entah apa yang membuat saya memilih untuk membiarkan raket itu menjadi pajangan. Feeling saya mengatakan bahwa nanti, raket itu akan berguna.

Hingga pada suatu malam di tepian pantai. Saat saya dan adik-adik Saung Bambu sedang sharing, karena waktu itu mereka sedang bermalam di pantai, mendirikan tenda dan mengisi beberapa kegiatan santai yang menyenangkan. Tak ada adik perempuan. Mereka hanya lelaki yang sering dikatakan komplotan anak-anak bandel. Bahkan, satu diantara mereka adalah siswa yang di keluarkan dari SD dan dipindahkan ke SD lain karena kadar kenakalannya melebihi batas, begitu kira-kira penjelasan kepala sekolah.

Sebagai bagian dari mereka, mengingat kondisinya, membuat saya prihatin. Saya pun mengakui tingkah mereka yang kerap membuat saya harus banyak beristighfar. Ribut di kelas lah, menggedor-gedor meja, berkelahi, mengganggu anak perempuan sampai membuat nangis anak perempuan. Saya acungkan jempol untuk para guru SD yang dengan kesabarannya menjalani hari-hari bersama mereka.

Tapi, di sisi lain, saya yakin ada potensi yang bisa mereka tingkatkan. Maka, malam itu saya gunakan kesempatan untuk pendekatan dengan mereka. Kami jarang berbicara seintim ini. Malam itu, saya hanya satu-satunya perempuan. Terlihat betul perlakuan mereka yang ingin "melindungi"  dan membuat saya merasa aman. Saya sadar, bagaimanapun mereka, mereka adalah lelaki.

Maka, berdiskusi lah kami tentang banyak hal. Tentang perjalanan kisah saya, dan juga tentang mimpi-mimpi mereka. Ada jawaban yang hampir seragam dari mereka, bahwa mereka menyukai olahraga.

"Kenapa gak bikin tim sepakbola aja kalau kalian pada suka bola?"

"Udah teh.  Bahkan kami kalau tanding sama SD tetangga, juara terus."

"Nama tim kalian apa?"

Mereka tertawa. Saling memukul bahu dan paha teman di sekelilingnya.

"PSPM aja teh. Persatuan Sepak Bola Pematang Warung".

"Bagus. Terus, kira-kira apa yang kalian butuhkan?"

"Kami mau jadi timnas, biar kayak bambang pamungkas. Perlu ada pelatih dan kami juga pengen punya seragam."

"Ah, kalau saya mah pengen jadi Messi, teh."

Obrolan mulai gaduh. Mereka mulai bercerita tentang bola dengan pembicara yang tidak teratur. Aku sendiri hanya mesem-mesem melihat antusiasme mereka ketika berbicara masalah bola. Padahal, ketika di kelas, mereka terlihat malas-malasan.

"Teh, kalau saya mah pengen jadi pilot, tapi jadi ustadz juga. Saya mah mau ikut kelas public speaking lah biar pinter ngomong dan ceramah." Celetuk seorang lelaki yang duduk dua baris dekat saya.

"Wah, keren. Kalau mau kayak gitu, yang rajin belajarnya. Datang terus ke Saung Bambu."

"Iya teh, siap."

Seorang anak yang sudah tidak lagi berstatus sebagai siswa SD PW tersebut, justru mengacungkan tangannya, menunggu giliran untuk berbicara.

"Iya, kenapa?"

"Teh, saya mah ja, pengen jadi pemain bulutangkis. Tapi gak punya alatnya. Gak ada pelatihnya juga."

"Emang kamu bisa?"

"Bisa lah, teh. Apalagi kalau belajar. Saya mah pengen jadi atlet bulutangkis nasional."

Saya terdiam sejenak, melihat matanya berbinar. Ada harapan yang dia utarakan ketika cita-cita itu dia sebutkan. Maka, saya langsung mengingat raket yang dipajang dipojok kamar kos. Mungkin, anak ini yang sudah seharusnya menjadi empunya. Jika benar itu adalah harapannya, saya akan berusaha bersama dia untuk mewujudkan Cita-citanya.

Selepas pertemuan dan bincang-bincang malam itu, berkali-kali saya berpapasan dengannya. Cara saya berjalan yang selalu lurus ke depan, tanpa melihat kiri kanan, kadang diidentikkan dengan sombong. Anak lelaki yang katanya bandel itu, tak pernah sekalipun bertemu saya tanpa menyapa. Dia selalu menyapa, "Teh," dibubuhkan senyum tipis dan anggukan kepala. Anak yang ramah.

Sudah beberapa bulan dari waktu itu, malam minggu kemarin, adik-adik diajak nonton bersama di gedung SD dengan menggunakan infokus dan proyektor. Saya bertemu dengan dia lagi. Kali ini, saya yakin kesungguhannya 100% untuk berlatih," teh, untuk raket, ada di teh zahra. Teteh tolong pinjemin sih sama dia. Terus yang pelatihnya itu, udah Teteh omongin?"

"Oke, siap."

Hari ini, sepulangnya saya dari kampus, saya langsung pulang ke rumah. Raket ini memang sudah harus diwariskan dan semoga akan menjadi modal awal perjuangannya. Selamat berlatih, nak.

Saya selalu berpesan kepadanya, dan semoga ini tidak menyesatkan, "menjadi nakal, kalau memang susah dihilangkan, gak apa-apa. Asal jadilah anak nakal yang berkualitas, yang punya prestasi yang bisa dibanggakan. Prestasi tidak selalu harus unggul di kelas. Tapi, cintai dan tekuni apa yang kamu suka mulai dari sekarang. Jadikan itu masa depan."

Selamat jalan raketku. Semoga kamu bisa lebih bermanfaat dengan pemilik barumu.

Tidak ada komentar:

Designed By