Tepat pukul satu hari Kamis ini, saya mulai ujian Intermediate Japanese 1 di kampus Anggrek, di ruang 322, nomor kursi 26. Saya yang duduk di kursi pojok kiri barisan ketiga, datang agak telat. Seorang pengawas perempuan duduk di depan, dan teman kelas saya sudah sibuk mengisi lembar jawaban ujian. Saya menunjukan Binusian flazz card dan KMK, kemudian dua lembar kertas ujian berpindah tangan pada saya. Duduklah saya di kursi yang sudah diletakan kertas jawaban soal
Satu persatu tugas saya isi, entah benar atau tidak. Karena yang saya pelajari tidak ada di ujian tadi. Sudahlah, yang terpenting saya sudah berusaha dengan baik, hasilnya.. ya kita lihat saja nanti.
Seusainya ujian, saya langsung pamit pulang ke teman-teman yang masih duduk di luar, menunggu teman-teman lainnya yang masih mengerjakan ujian di dalam. Pukul dua siang hari, saya berjalan menuju gerbang kampus dan menunggu angkot 24 arah Slipi Jaya. Ada waktu tiga hari yang bisa saya luangkan di Anyer. Mengingat, besok adalah May Day dan untuk tahun ini saya memulai kegiatan dengan komunitas yang baru saya dirikan.
Ongkos 4ribu rupiah harus saya keluarkan setelah sampai di pasar Slipi Jaya. Tetiba perut menagih haknya. Saya mencari tempat terdekat untuk makan. Bagi kamu yang sering melewati Slipi, di kolong, tepatnya arah penyeberangan dari pasar Slipi ke Slipi Jaya, ada deretan pedagang kaki lima yang menjadi pemandangan khas tempat ini. Deretan pedagang kaki lima tersebut menyuguhkan beraneka makanan. Mulai dari nasi goreng, bakso, mi ayam, hingga soto. Saya yang sedang ingin makan makanan berkuah, memilih untuk makan soto ceker yang letaknya persis di depan pintu keluar bank BRI Slipi.
Ketika saya duduk di kursi panjang yang mengarah pada meja yang menempel pada pagar kawat besi, tak ada pedagang yang duduk disini. Seorang penjual mi ayam menatap ke arah saya.
"Mas, yang jual soto mana?"
Dia mengarahkan bola mata ke sekitar. Kemudian, dia berjalan mendekat. Lantas dia bertanya, "mau makan soto ayam apa ceker?"
"Ceker ya mas. Nasinya setengah aja."
Tangannya mulai meracik soto; mulai dari memasukan bihun, kol, bumbu, daun bawang, ceker hingga menggugurkan kuah pada semangkuk soto. Dia kemudian meletakkannya di hadapan saya dengan sikap ramah ala pedagang.
"Mbak, nasinya segini cukup?"
Saya melihat porsi nasi yang dia takar, saya anggukan kepala. Menu makan siang pun siap disantap. Tak lupa, segelas es teh manis menjadi pelengkap. Kemudian, lelaki yang melayani di warung soto tersebut berjalan kearah gerobak mi ayam miliknya.
Saya mulai mengagumi kebersamaan para pedagang kaki lima tersebut. Ketika pedagang soto tidak ada di tempat, justru dengan sukarela dia melayani pelanggan tanpa perintah. Tentu saja, itu bukan kebetulan. Yang terpikir dibenak saya adalah ikatan. Rasa memiliki dan peduli satu sama lain. Berjualan, sama-sama mencari keuntungan, tapi saling melengkapi, bukan berkompetisi. Situasi seperti ini kerap saya jumpai di tempat-tempat makan kaki lima seperti ini. Makan selesai, penjual sotopun datang. Ya, saya membayar biaya makan siang dan bergegas menuju halte Slipi Jaya. Hari ini, mengajarkan saya tentang ikatan persaudaraan dari mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar