Tiba di Cilegon sekitar jam dua lewat. Aku tidak terlalu ingat jam berapa tepatnya. Bis yang kutumpangi adalah arah Kali deres-Merak. Seharusnya aku turun di terminal Seruni. Kemudian menyambung dengan menaiki angkot ungu arah PCI-Cilegon. Hanya saja, aku kerap dibuat kesal oleh perlakuan calo dan supir angkot. mengetem berlama-lama dan selalu menjejalkan penumpang. Kondisi yang tidak nyaman! Sumpah!
Jika tidak terlalu buru-buru, aku memilih turun di Damkar, di tol Cilegon Barat. Angkot yang kunaiki adalah angkot merah jurusan Merak-Cilegon. Selain langsung jalan, keadaan di angkot jauh lebih manusiawi. Tak lama turun dari bis, angkot merah yang belum berisi penumpang tersebut berhenti di hadapanku. Aku selalu mengajukan pertanyaan, "Langsung?" Jika supir mengatakan iya, maka aku naik. Aku paling tidak suka menunggu.
Mulai Damkar hingga Cilegon Junction, belum seorangpun penumpang. Aku sempat iba melihat supir angkot yang tak seorangpun naik selain diriku. Tak lama, segerombolan anak-anak SMP naik. Aku yang tak sengaja mendengar topik pembicaraan mereka hari ini, sedikit tergelitik ketika "valentine" mereka bahas. Bukan tentang kekasih, bunga atau cokelat yang mereka sebutkan untuk pasangan, melainkan adanya demo di bunderan Cilegon.
"Penting gak sih demo tentang Valentine? Kalau mereka demo tentang Valentine gitu, emang Jokowi bisa apa?" ucap seorang lelaki yang duduknya tepat di samping kananku.
"Tau, tuh! Emang ngaruh ya demo kayak gitu? Paling juga yang demonya para jomblo itu." Celetuk anak bertubuh tambun sambil mengetukkan kaki ke lantai angkot.
"Iya lah para jomblo sirik tuh. Kalau mereka punya pacar gak mungkin demo. Mendingan mereka isi demonya dengan tulisan 'tolak valentine karena jomblo'. Kurang kerjaan banget!"
Angkot sudah sampai di bunderan Cilegon. Aku yang semula memilih untuk turun di depan Mall Cilegon, urung. dan memilih untuk turun. Ada beberapa gambar yang sempat kuabadikan. Aku justru tertarik ketika melihat para demonstran dipenuhi oleh pemuda. Ada bendera kuning yang mereka kibarkan. Ada beberapa spanduk yang mereka tuliskan. Aku sempat menangkap beberapa kalimat. Yang paling membekas adalah "Tolak hari Zinah Sedunia". Seorang gadis yang memegang spanduk itu begitu bangga dengan apa yang dia genggam. Sementara aku, mencoba untuk lebih netral dalam menyikapi ini. Beberapa menit aku berdiri dekat dengan kerumunan remaja tersebut. Ketika satu orang mengarah padaku, aku mendekat. Ada sedikit percakapan antara kami sebelum akhirnya aku meninggalkan tempat ini.
Mereka adalah perwakilan dari IPM (Ikatan Pelajar Muhamadiyah), sangat tegas menolak hari Valentine karena bagi mereka Islam tidak pernah mengajarkan tentang hal tersebut. Yang kupikirkan, justru bukan masalah setuju atau tidaknya dengan Valentine. Karena setiap orang memiliki hak untuk mengambil sikap. Justru, yang mengganggu pikiranku adalah spanduk yang bertuliskan "tolak hari zinah sedunia". Sedangkal itukah pola pikir mereka, yang menganggap bahwa valentine adalah hari zinah sedunia? Apakah "kasih sayang" yang disampiakan di hari valentine adalah gambaran zinah?Yang aku tangkap dari mereka yang merayakan valentine adalah bukan seperti apa valentine itu sejarahnya, namun karena lebih kepada 'kasih sayang'. Jika memang kasih sayang itu menjadi poin penting dair valentine, tidakkah kasih sayang adalah makna universal untuk segala bentuk kasih dan sayang, yang tidak hanya terbatas pada hubungan sepasang sejola. Namun lebih kepada hubungan antara beberapa undivdu yang memiliki ikatan kasih yang terjalin. Teman, keluarga, dan lainnya adalah objek yang bisa dimasukkan ke dalam kategori "kasih sayang".

Sungguh, aku tidak ingin, atas nama agama.. justru membawa citra bahwa Islam itu tidak memiliki kasih sayang. Sekalipun kita tidak setuju dengan valentine, tidakkah sebaiknya menyampaikan dengan bahasa baik? Kita tidak bisa mengajak orang untuk 'ikut' dengan pikiran kita. Dan terlebih, memasukan unsur 'zinah' pada kasih sayang tersebut. Karena pada hakikatnya, kasih sayang adalah murni dari hati yang tidak semudah itu bisa dimaknai oleh sesuatu yang bukan bagian dari "kasih sayang" itu sendiri.
Bukankah setiap agama mengajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi?
***
Setibanya di rumah, justru aku dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya cinta. Aku bersama beberapa relawan menikmati malam di kebun Buah Naga. Furkon, relawan Saung Bambu yang mengkordirin adik-adik Saung Bambu untuk bermalam di kebun. Meluangkan waktu bersama adalah healing dari rutinitas yang lumayan padat. Berbagi tawa dengan mereka yang kita cinta, merasakan bahagia dengan kebersamaan yang ada, bukankah itu adalah kasih sayang juga? Lalu, apa yang salah dengan hari kasih sayang? Ya, walaupun secara pribadi aku lebih memilih untuk mengungkapkan kasih sayang kapanpun aku mau.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar