Breaking News

Selasa, 24 Februari 2015

Tersesat

Aku ingin bercerita tentang hari ini. Aku katakan bahwa aku tersesat. Bagaimana tidak? Ajakan untuk mengikuti event dari teman, ku ‘iya’-kan tanpa ba bi bu. Seusainya kelas Intermediate Japanese, aku berencana pergi ke Plaza Blok M. Kata temanku, Hilda, ada event dan kami datang sebagai respondent untuk di interview. Ketika aku bertanya apa saja pertanyaan yang akan diajukan, dia sekedar menjawab “yah, ngobrol aja kok.”   
“Berhubungan dengan Jepang, gak?”
“Iya. Tapi gak apa-apa kok, yang penting kamu hadir. Datang aja dulu, gak ngerti tentang anime-anime Jepang juga gak apa-apa.”
Berkali-kali aku ajukan pertanyaan detail, Hilda tidak menjawabnya dan sekedar “membujuk”-ku untuk ikut. Aku agak sanksi untuk ikut. Hanya saja, upaya “balas budi” itu membuatku sulit menolak. Ketika seminggu lalu aku ikut aksi, dia mengantarkan aku ke gedung DPR dan ikut aksi juga. Sekarang, saatnya aku mengabulkan permintaan temanku yang sangat addict terhadap Jepang. Halaaahhh…
Kami naik angkot M24 arah Binus - Slipi Jaya. Di sepanjang perjalanan, Hilda berkali-kali mengirim pesan kepada orang yang mengajaknya. Aku meminta Hilda untuk mengabari mereka bahwa kami akan telat. Waktu yang dijanjikan adalah pukul 14.30, sementara kami diperkirakan tiba disana pukul 15.00. Itu estimasi yang realistis, mengingat siatusi jalanan dan jarak tempuh kami yang merupakan penumpang TJ setia.
Pukul 13.20 kami sudah sampai di Slipi. Berjalan beberapa ratus meter menuju halte Trans Jakarta dengan kecepatan langkah maksimal. Oh Tuhan, Jakarta siang itu panas. Panasnya terasa beberapa jengkal saja di atas kepala. Belum lagi, bayangan halte Semanggi yang terhubung ke Bendungan Hilir, membuat aku putus asa. #EdisiLebay
Aku tiba di halte Slipi Kemanggisan. Binusian Flaz Card sangat membantuku yang sedang di landa krisis. Beruntung, di kartu Mahasiswa yang merangkap sebagai Flaz Card masih ada sisa saldo. Jadi, tidak perlu mengisi ulang kartu yang biasa kugunakan untuk tapping di pintu masuk halte. Bersama Hilda, kami menuruni anak tangga dan berjejer bersama penumpang yang sedang menunggu TJ. Sepuluh menit berlalu (atau bahkan lebih, aku lupa menghitungnya), yang ditunggupun tiba. Kami masuk, menjadi daftar orang yang berdiri seperti pepesan ikan. Kepadatannya melebihi kuota. Belum lagi, Ac tidak menyala. Jadilah kami bersauna massal di TJ. Huaaaaahhh… Beruntung, aku tidak pingsang, teman-teman.
Perjalanan Slipi-Semanggi seperti seratus tahun lamanya. Hilda yang berkulit putih mukanya memerah dan keringatnya deras mengucur. Berkali-kali aku menghela napas, menahan diri dari gencetan orang-orang sekitar ketika bis sering menghentikan lajunya, mengganggu kestabilan kami berdiri (ah elaaahhh… bahasanya gak nahan boooo!). Slipi Petamburan, Senayan JCC dan akhirnya Semanggi. Yay! We are free.. bisa leluasa menghirup udara Jakarta yang penuh volusi. Setidaknya, itu lebih baik daripada harus bertukar udara dengan napas orang-orang d ruang yang pengap. Semanggi-Bendungan Hilir, kalian tahu kan? Puanjaaaaangggggnyaaaaa minta ampun. Harus menghemat udara yang keluar masuk sepanjang perjalanan. Langkah orang-orang yang seperti diburu waktu, membuatku terganggu. Pasalnya, aku tidak terlalu pandai berjalan cepat seperti mereka (padahal, gampang aja ya, bilang kalau gue jalannya lambat. *hikksss….) Beruntung, kami tak perlu menunggu lama. Karena setibanya di tempat menunggu, bis arah Blok M berhenti. Beruntung untuk kedua kalinya, bis kali ini tidak sepadat bis semula. Kamipun berkesempatan duduk sampai Blok M. Finally, I have a seat. Wohooo…
Sampailah kami di lantai 8 Plaza Blok M. Proses perjalanan panjang yang banyak mengucurkan keringat; mulai dari halte busway Blok M, jalan muter ke arah Plaza Blok M, nyari-nyari jalan penyeberangan karena sedang ada proyek pembangunan jalan gitu, acara tersesat dan harus muter balik, sampai akhirnya tibalah di lantai 8 Plaza Blok M.
Seorang perempuan berkerudung menyalamiku. Ia langsung menyuruhku mengisi biodata. Kemudian dia berkata, “kamu tentu suka anime-anime Jepang kan? Apa aja yang sering kamu tonton? Berapa jam perhari kamu habiskan untuk menonton anime?”
Hening. Aku melirik pada Hilda. Hilda sedang sibuk mengisi biodata, “Emangnya yang datang kesini harus suka anime Jepang? Ya ampun, salah orang, mbak! Saya emang suka mempelajari Jepang, tapi gak tentang animenya, kartun-kartunnya ataupun itu. Saya cuma ambil penjurusan bahasa Jepang. Itu aja.”
“Ya udah gak apa-apa, gak ngerti juga. Disini kamu aku ajarin ya. Pokoknya, setelah ini ada interview dan kamu bilang kalau kamu suka banget sama Jepang. Kamu menghabiskan 2-3 jam untuk menonton anime Jepang. Penghasilan orang tuamu 6juta, kamu tahu tentang Naruto, Attack of Titan, Conan, dan semua anime-anime Jepang. Kamu juga sering datang ke event-event Jepang… blab la bla.”
Aku cengok. What? Jenis kehidupan apa ini? Oh, Tuhan! Aku di “setting” menjadi penggemar Jepang dalam sehari. Sementara hal-hal semacam itu tidak pernah aku lakoni. Dia kemudian menjelaskan semua tentang Jepang yang perlu aku pelajari. Sungguh, ini penyesatan, teman-teman. Hilda harus bertanggung jawab untuk hal ini. Aku yang ingin pulang, diminta untuk mengikuti interview. Ya, seperti yang diminta, aku harus “berbohong”. Ya Allah, maafkan Lia, ya Allah!
Aku harus berpura-pura menyukai anime Jepang. Dan kalian tahu, ketika aku harus menceritakan tentang tokoh dari sebuah judul anime yang kulupa namanya, aku hanya tersenyum. Man, gue gak tau musti jawab apaaaa???
Pengen deh, saat itu teriak dan bilang, “Lepaskan akuuuuhhhh.. lepaskan aku dari tempat ini sekarang juga.” Hmm.. tapi, kasihan Hilda yang mengajakku. Namanya dipertaruhkan disini. Sungguh, aku tersesat, teman-teman. #sambilMengerutkanAlisdanPasangMukaMelas.
Perut lapar, dipaksa bohong, mau pulang juga susah. Jenis hari semacam apa ini? Interview berjalan penuh rintangan, dan aku diminta untuk masuk ke ruang “evakuasi”. Sebenarnya bukan evakuasi juga sih. Cuma meeting point sebelum benar-benar berdiskusi tentang anime Jepang.
“Oh iya, dek, kamu baru pulang kuliah kan? Udah makan belum? Ini makannya!” What, adek? Wajah kayak begini dipanggil adek? Rabun apa yak? #SambilTunjukMuka. Udah gak pantes kali dipanggil adek. Kecuali, sama “seseorang” sih, masih boleh lah dipanggil adek. *eheeemmm…
Oke teman, perjuanganku belum berhenti sampai disini. Di ruangan yang mempertemukan aku dengan para penggila anime yang semuanya adalah perempuan, aku harus cengar cengir gak karuan. Mereka heboh bercerita tentang siapalah itu namanya, yang katanya keren. Edisi terbaru dari apalah itu namanya, aku gak menyimak. Pusing pala nyonya…
 Sementara aku, memilih untuk bersembunyi dibalik senyum termanis yang aku pasang khusus untuk hari ini. Pada akhirnya, pertanyaan itu sampai juga kepadaku, “Kalau Lia, paling suka anime apa ya?”
Pengen deh menghilang dari sini. Sumpah! Kemudian aku ingat, beberapa minggu lalu mendampingi ponakan menonton Conan. Ketiga ponakanku memang menggemar anime Jepang. Akhirnya beginilah jawabanku, “Conan.”
“Kenapa Conan?”
Pengen deh ngebenturin kepala berkali-kali ke tembok, teman-teman. Biar lupa ingatan.
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia. *plak-plak… Tampar muka bolak balik sambil nyanyiin lagunya Geisha.
 Aku memasang senyum, melihat satu per satu wajah mereka yang menunggu jawabanku, “Karena keren aja. Seorang detektif bisa memecahkan masalah. Sesuatu yang gak pernah kita pikir sebagai ‘kode’, justru bisa dijadikan kunci untuk membongkar masalah. Bagaimana dia mencari tahu dari hal-hal detail untuk setiap kemungkinan. Wah, pokoknya kreatif banget deh.” Elaaaahhh.. bahasa gue basi, man! Sok iyes banget dah! Jijaaaaayyyy…
Mereka kemudian membahas hal-hal lain yang semakin tidak kupahami. Baiklah, menjadi patung dalam sehari. Makanan yang diberikan sebagai konsumsi lumayan mengobatiku. Sekotak teh dan Hokben. Harusnya aku makan. Tetiba lapar itu hilang. Aku justru ingin segera pulang ke alam nyata, bukan berada di planet ini.
Hilda yang mendapat jatah interview paling belakang, akhirnya datang. Aku mengetik pesan di tab-nya dan protes. Tidak mungkin juga aku membicarakan hal ini dihadapan mereka. Bibirku sudah gatal untuk ngomel-ngomel.
Sumpah il, aku bingung. Tempat apa ini? Kenapa kamu gak bilang kalau yang datang ternyata harus penggemar anime Jepang?Tega banget deh.  Aduuuhhhh… Sumpah, aku gak ngerti apa-apa.
“Gomennasai, Li-chan. Hehehe..” jawabnya dengan wajah tak berdosa.
“Iil….”
Dia terbahak-bahak melihat aku menjelma sebagai orang terbodoh di ruang ini. Sementara aku, ingin penderitaan ini berakhir. Aku menjitak kepalanya. Ia semakin terkekeh. Aku yang semula ingin ngomel-ngmel, justru batal. Melihat Hilda sebahagia itu, membuat aku ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Justru aku geli pada diri sendiri yang bersikap konyol hari ini. Ah, Hilda. Dasar kau ya!
Beruntung, jumlah responden yang datang 8 orang dan yang diminta adalah 6 orang, karena ruang terbatas untuk diskusi. Sehingga, aku dan seorang lagi bebas bernapas lega. Maka pulang menjadi pilihan. Sebelum pulang, seorang petugas memanggil namaku. Kami diajak ke ruang yang ukurannya begitu mungil.
“Buat adik-adik berdua, aku ucapin makasih udah datang. Sebagai ucapan terima kasih, kami memberikan kalian ini. Tapi, tolong di foto dulu ya! Ini, voucher belanja di Giant sebesar 100 ribu. Lumayankan?”
“Makasih kak.”
Kemudian satu jepretan menjadi penutup pertemuan kami. Dua lembar voucher yang masing-masing berisi 50ribu itu dimasukan ke dalam amplop. Aku bersama teman baruku yang merupakan Mahasiswi UI jurusan Sejarah semester akhir itu, langsung keluar dan menuju Mushola. Yah, selalu ada hikmah dibalik musibah. Voucher belanja 100ribu, booo…! Lumayan banget tuh. Rejeki anak sholeh emang. Haha.. Siap deh shopping tralala… Wohooo…
Betewe, diluar semua itu, yang kugarisbawahi adalah Hilda. Kecintaanya pada Jepang membuat ia mendalami semua hal tentang Jepang. Bahkan bahasanya ia pelajari secara otodidak. Tak heran jika Hilda menonjol untuk satu bidang study, yaitu Jepang. Dia yang masih saja merasa “nyasar” di HI, terlihat semangat ketika mengikuti mata kuliah Jepang. Dia yang pendiam akan banyak bicara ketika bersinggungan tentang Jepang. Aku mengenal Hilda sejak kami semester 1. Dia tidak banyak bicara. Di kelaspun dia tidak terlalu suka berbaur dengan orang lain. Hilda dengan dunianya sendiri, akan enjoy bersama orang-orang yang membuat dia nyaman. Dia tidak akan keberatan untuk membungkam mulutnya berjam-jam di kelas, jika tidak ada orang yang dia anggap ayak diajak bicara.
Tapi, ketika dia sudah nyaman berteman, dia adalah teman yang perhatian. Dia yang selalu ingat apa yang kusampaikan. Cara dia merespon adalah diam, namun memikirkan. Beberapa hari sebelum imlek, Hilda menemaniku aksi di gedung DPR. Setelah itu kami makan siang di Ayam Lepaas di Rawa belong. Dia bercerita tentang ikan bandeng yang di jual menjelang imlek di sepanjang jalan situ dengan ukuran besar. Aku yang memang belum pernah tahu, sekedar merespon, “Masa sih? Aku belum pernah makan tuh, Il.”
Dia diam. Kemudian, “Insha Allah deh, besok aku bawain bandeng masakan ibu buat kamu.”
Benar saja, keesokan harinya dia datang ke kosanku sekedar untuk mengantarkan bandeng masakan ibunya, supaya aku bisa tahu bandeng besar hidangan imlek. Kemudia dia pulang setelah mengantarkan aku bandeng. So sweet kan? Sekilas tentang Hilda. Kembali pada Jepang dan kesukaannya. Untuk hari ini, tentu dia akan mendapatkan reword atas apa yang ia geluti sebagai murni kecintaan. Totalitas dalam mencintai itu ternyata penting. Apa bedanya dengan urusan hati? Tentang seseorang yang kita “pilih”, mungkin? Ya, aku harus belajar banyak pada Hilda untuk hal ini. Menjadikan apa yang ia cintai sebagai diri dan jiwanya. Cinta bisa merubah seorang menjadi sesuatu yang kadang tak bisa kita pikirkan akan terjadi. Ya, itulah cinta.

Thanks, Hilda untuk hari ini. Kamu menjadi guruku hari ini.

Tidak ada komentar:

Designed By