Aku ingin bercerita tentang hari ini. Aku katakan bahwa aku
tersesat. Bagaimana tidak? Ajakan untuk mengikuti event dari teman, ku
‘iya’-kan tanpa ba bi bu. Seusainya
kelas Intermediate Japanese, aku berencana pergi ke Plaza Blok M. Kata temanku,
Hilda, ada event dan kami datang sebagai respondent untuk di interview. Ketika
aku bertanya apa saja pertanyaan yang akan diajukan, dia sekedar menjawab “yah,
ngobrol aja kok.”
“Berhubungan dengan Jepang, gak?”
“Iya. Tapi gak apa-apa kok, yang penting kamu hadir. Datang
aja dulu, gak ngerti tentang anime-anime Jepang juga gak apa-apa.”
Berkali-kali aku ajukan pertanyaan detail, Hilda tidak
menjawabnya dan sekedar “membujuk”-ku untuk ikut. Aku agak sanksi untuk ikut.
Hanya saja, upaya “balas budi” itu membuatku sulit menolak. Ketika seminggu
lalu aku ikut aksi, dia mengantarkan aku ke gedung DPR dan ikut aksi juga.
Sekarang, saatnya aku mengabulkan permintaan temanku yang sangat addict terhadap Jepang. Halaaahhh…
Kami naik angkot M24 arah Binus - Slipi Jaya. Di sepanjang
perjalanan, Hilda berkali-kali mengirim pesan kepada orang yang mengajaknya.
Aku meminta Hilda untuk mengabari mereka bahwa kami akan telat. Waktu yang
dijanjikan adalah pukul 14.30, sementara kami diperkirakan tiba disana pukul
15.00. Itu estimasi yang realistis, mengingat siatusi jalanan dan jarak tempuh
kami yang merupakan penumpang TJ setia.
Pukul 13.20 kami sudah sampai di Slipi. Berjalan beberapa
ratus meter menuju halte Trans Jakarta dengan
kecepatan langkah maksimal. Oh Tuhan, Jakarta siang itu panas. Panasnya terasa beberapa
jengkal saja di atas kepala. Belum lagi, bayangan halte Semanggi yang terhubung
ke Bendungan Hilir, membuat aku putus asa. #EdisiLebay…
Aku tiba di halte Slipi Kemanggisan. Binusian Flaz Card
sangat membantuku yang sedang di landa krisis. Beruntung, di kartu Mahasiswa
yang merangkap sebagai Flaz Card masih ada sisa saldo. Jadi, tidak perlu
mengisi ulang kartu yang biasa kugunakan untuk tapping di pintu masuk halte. Bersama Hilda, kami menuruni anak
tangga dan berjejer bersama penumpang yang sedang menunggu TJ. Sepuluh menit berlalu (atau bahkan lebih, aku lupa
menghitungnya), yang ditunggupun tiba. Kami masuk, menjadi daftar orang yang
berdiri seperti pepesan ikan. Kepadatannya melebihi kuota. Belum lagi, Ac tidak
menyala. Jadilah kami bersauna massal di TJ.
Huaaaaahhh… Beruntung, aku tidak pingsang, teman-teman.
Perjalanan Slipi-Semanggi seperti seratus tahun lamanya.
Hilda yang berkulit putih mukanya memerah dan keringatnya deras mengucur.
Berkali-kali aku menghela napas, menahan diri dari gencetan orang-orang sekitar
ketika bis sering menghentikan lajunya, mengganggu kestabilan kami berdiri (ah elaaahhh… bahasanya gak nahan boooo!).
Slipi Petamburan, Senayan JCC dan akhirnya Semanggi. Yay! We are free.. bisa leluasa menghirup udara Jakarta yang penuh
volusi. Setidaknya, itu lebih baik daripada harus bertukar udara dengan napas
orang-orang d ruang yang pengap. Semanggi-Bendungan Hilir, kalian tahu kan? Puanjaaaaangggggnyaaaaa
minta ampun. Harus menghemat udara yang keluar masuk sepanjang perjalanan.
Langkah orang-orang yang seperti diburu waktu, membuatku terganggu. Pasalnya,
aku tidak terlalu pandai berjalan cepat seperti mereka (padahal, gampang aja ya, bilang kalau gue jalannya lambat. *hikksss….)
Beruntung, kami tak perlu menunggu lama. Karena setibanya di tempat menunggu,
bis arah Blok M berhenti. Beruntung untuk kedua kalinya, bis kali ini tidak
sepadat bis semula. Kamipun berkesempatan duduk sampai Blok M. Finally, I have a seat. Wohooo…
Sampailah kami di lantai 8 Plaza Blok M. Proses perjalanan
panjang yang banyak mengucurkan keringat; mulai dari halte busway Blok M, jalan
muter ke arah Plaza Blok M, nyari-nyari jalan penyeberangan karena sedang ada
proyek pembangunan jalan gitu, acara tersesat dan harus muter balik, sampai akhirnya
tibalah di lantai 8 Plaza Blok M.
Seorang perempuan berkerudung menyalamiku. Ia langsung
menyuruhku mengisi biodata. Kemudian dia berkata, “kamu tentu suka anime-anime
Jepang kan? Apa aja yang sering kamu tonton? Berapa jam perhari kamu habiskan
untuk menonton anime?”
Hening. Aku melirik pada Hilda. Hilda sedang sibuk mengisi
biodata, “Emangnya yang datang kesini harus suka anime Jepang? Ya ampun, salah
orang, mbak! Saya emang suka mempelajari Jepang, tapi gak tentang animenya,
kartun-kartunnya ataupun itu. Saya cuma ambil penjurusan bahasa Jepang. Itu
aja.”
“Ya udah gak apa-apa, gak ngerti juga. Disini kamu aku
ajarin ya. Pokoknya, setelah ini ada interview dan kamu bilang kalau kamu suka
banget sama Jepang. Kamu menghabiskan 2-3 jam untuk menonton anime Jepang.
Penghasilan orang tuamu 6juta, kamu tahu tentang Naruto, Attack of Titan,
Conan, dan semua anime-anime Jepang. Kamu juga sering datang ke event-event Jepang… blab la bla.”
Aku cengok. What? Jenis
kehidupan apa ini? Oh, Tuhan! Aku di “setting”
menjadi penggemar Jepang dalam sehari. Sementara hal-hal semacam itu tidak
pernah aku lakoni. Dia kemudian menjelaskan semua tentang Jepang yang perlu aku
pelajari. Sungguh, ini penyesatan, teman-teman. Hilda harus bertanggung jawab
untuk hal ini. Aku yang ingin pulang, diminta untuk mengikuti interview. Ya,
seperti yang diminta, aku harus “berbohong”. Ya Allah, maafkan Lia, ya Allah!
Aku harus berpura-pura menyukai anime Jepang. Dan kalian
tahu, ketika aku harus menceritakan tentang tokoh dari sebuah judul anime yang
kulupa namanya, aku hanya tersenyum. Man,
gue gak tau musti jawab apaaaa???
Pengen deh, saat itu teriak dan bilang, “Lepaskan
akuuuuhhhh.. lepaskan aku dari tempat ini sekarang juga.” Hmm.. tapi, kasihan
Hilda yang mengajakku. Namanya dipertaruhkan disini. Sungguh, aku tersesat,
teman-teman. #sambilMengerutkanAlisdanPasangMukaMelas.
Perut lapar, dipaksa bohong, mau pulang juga susah. Jenis
hari semacam apa ini? Interview berjalan penuh rintangan, dan aku diminta untuk
masuk ke ruang “evakuasi”. Sebenarnya bukan evakuasi juga sih. Cuma meeting point sebelum benar-benar
berdiskusi tentang anime Jepang.
“Oh iya, dek, kamu baru pulang kuliah kan? Udah makan
belum? Ini makannya!” What, adek?
Wajah kayak begini dipanggil adek? Rabun apa yak? #SambilTunjukMuka. Udah gak pantes kali dipanggil adek. Kecuali,
sama “seseorang” sih, masih boleh lah dipanggil adek. *eheeemmm…
Oke teman, perjuanganku belum berhenti sampai disini. Di
ruangan yang mempertemukan aku dengan para penggila anime yang semuanya adalah
perempuan, aku harus cengar cengir gak karuan. Mereka heboh bercerita tentang
siapalah itu namanya, yang katanya keren. Edisi terbaru dari apalah itu
namanya, aku gak menyimak. Pusing pala
nyonya…
Sementara aku,
memilih untuk bersembunyi dibalik senyum termanis yang aku pasang khusus untuk
hari ini. Pada akhirnya, pertanyaan itu sampai juga kepadaku, “Kalau Lia,
paling suka anime apa ya?”
Pengen deh menghilang dari sini. Sumpah! Kemudian aku
ingat, beberapa minggu lalu mendampingi ponakan menonton Conan. Ketiga
ponakanku memang menggemar anime Jepang. Akhirnya beginilah jawabanku, “Conan.”
“Kenapa Conan?”
Pengen deh ngebenturin kepala berkali-kali ke tembok,
teman-teman. Biar lupa ingatan.
Lumpuhkanlah
ingatanku, hapuskan tentang dia. *plak-plak… Tampar muka bolak balik sambil
nyanyiin lagunya Geisha.
Aku memasang senyum,
melihat satu per satu wajah mereka yang menunggu jawabanku, “Karena keren aja.
Seorang detektif bisa memecahkan masalah. Sesuatu yang gak pernah kita pikir
sebagai ‘kode’, justru bisa dijadikan kunci untuk membongkar masalah. Bagaimana
dia mencari tahu dari hal-hal detail untuk setiap kemungkinan. Wah, pokoknya
kreatif banget deh.” Elaaaahhh.. bahasa
gue basi, man! Sok iyes banget dah! Jijaaaaayyyy…
Mereka kemudian membahas hal-hal lain yang semakin tidak
kupahami. Baiklah, menjadi patung dalam sehari. Makanan yang diberikan sebagai
konsumsi lumayan mengobatiku. Sekotak teh dan Hokben. Harusnya aku makan. Tetiba
lapar itu hilang. Aku justru ingin segera pulang ke alam nyata, bukan berada di
planet ini.
Hilda yang mendapat jatah interview paling belakang,
akhirnya datang. Aku mengetik pesan di tab-nya dan protes. Tidak mungkin juga
aku membicarakan hal ini dihadapan mereka. Bibirku sudah gatal untuk
ngomel-ngomel.
Sumpah il, aku bingung.
Tempat apa ini? Kenapa kamu gak bilang kalau yang datang ternyata harus
penggemar anime Jepang?Tega banget deh. Aduuuhhhh… Sumpah, aku gak ngerti apa-apa.
“Gomennasai, Li-chan. Hehehe..” jawabnya dengan wajah tak
berdosa.
“Iil….”
Dia terbahak-bahak melihat aku menjelma sebagai orang
terbodoh di ruang ini. Sementara aku, ingin penderitaan ini berakhir. Aku
menjitak kepalanya. Ia semakin terkekeh. Aku yang semula ingin ngomel-ngmel,
justru batal. Melihat Hilda sebahagia itu, membuat aku ikut merasakan
kebahagiaan yang sama. Justru aku geli pada diri sendiri yang bersikap konyol
hari ini. Ah, Hilda. Dasar kau ya!
Beruntung, jumlah responden yang datang 8 orang dan yang
diminta adalah 6 orang, karena ruang terbatas untuk diskusi. Sehingga, aku dan seorang
lagi bebas bernapas lega. Maka pulang menjadi pilihan. Sebelum pulang, seorang
petugas memanggil namaku. Kami diajak ke ruang yang ukurannya begitu mungil.
“Buat adik-adik berdua, aku ucapin makasih udah datang.
Sebagai ucapan terima kasih, kami memberikan kalian ini. Tapi, tolong di foto
dulu ya! Ini, voucher belanja di Giant sebesar
100 ribu. Lumayankan?”
“Makasih kak.”
Kemudian satu jepretan menjadi penutup pertemuan kami. Dua
lembar voucher yang masing-masing berisi 50ribu itu dimasukan ke dalam amplop.
Aku bersama teman baruku yang merupakan Mahasiswi UI jurusan Sejarah semester
akhir itu, langsung keluar dan menuju Mushola. Yah, selalu ada hikmah dibalik
musibah. Voucher belanja 100ribu, booo…! Lumayan banget tuh. Rejeki anak sholeh
emang. Haha.. Siap deh shopping tralala…
Wohooo…
Betewe, diluar
semua itu, yang kugarisbawahi adalah Hilda. Kecintaanya pada Jepang membuat ia
mendalami semua hal tentang Jepang. Bahkan bahasanya ia pelajari secara
otodidak. Tak heran jika Hilda menonjol untuk satu bidang study, yaitu Jepang. Dia
yang masih saja merasa “nyasar” di HI, terlihat semangat ketika mengikuti mata
kuliah Jepang. Dia yang pendiam akan banyak bicara ketika bersinggungan tentang
Jepang. Aku mengenal Hilda sejak kami semester 1. Dia tidak banyak bicara. Di
kelaspun dia tidak terlalu suka berbaur dengan orang lain. Hilda dengan
dunianya sendiri, akan enjoy bersama orang-orang yang membuat dia nyaman. Dia
tidak akan keberatan untuk membungkam mulutnya berjam-jam di kelas, jika tidak
ada orang yang dia anggap ayak diajak bicara.
Tapi, ketika dia sudah nyaman berteman, dia adalah teman
yang perhatian. Dia yang selalu ingat apa yang kusampaikan. Cara dia merespon
adalah diam, namun memikirkan. Beberapa hari sebelum imlek, Hilda menemaniku
aksi di gedung DPR. Setelah itu kami makan siang di Ayam Lepaas di Rawa belong.
Dia bercerita tentang ikan bandeng yang di jual menjelang imlek di sepanjang
jalan situ dengan ukuran besar. Aku yang memang belum pernah tahu, sekedar
merespon, “Masa sih? Aku belum pernah makan tuh, Il.”
Dia diam. Kemudian, “Insha Allah deh, besok aku bawain
bandeng masakan ibu buat kamu.”
Benar saja, keesokan harinya dia datang ke kosanku sekedar
untuk mengantarkan bandeng masakan ibunya, supaya aku bisa tahu bandeng besar
hidangan imlek. Kemudia dia pulang setelah mengantarkan aku bandeng. So sweet kan? Sekilas tentang Hilda.
Kembali pada Jepang dan kesukaannya. Untuk hari ini, tentu dia akan mendapatkan
reword atas apa yang ia geluti
sebagai murni kecintaan. Totalitas dalam mencintai itu ternyata penting. Apa
bedanya dengan urusan hati? Tentang seseorang yang kita “pilih”, mungkin? Ya,
aku harus belajar banyak pada Hilda untuk hal ini. Menjadikan apa yang ia
cintai sebagai diri dan jiwanya. Cinta bisa merubah seorang menjadi sesuatu yang
kadang tak bisa kita pikirkan akan terjadi. Ya, itulah cinta.
Thanks, Hilda untuk hari ini. Kamu menjadi guruku hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar