Breaking News

Kamis, 05 Februari 2015

Bukan Drama; ini Tentang Mandarin

UAS Mandarin selesai. Tandanya aku bisa bernafas sedikit lega. Karena Mandarin adalah mata kuliah yang sangat kuantikan. Aku merasa salah mengambil bahasa peminatan. Sekalipun aku tidak menginginkan Mandarin, bukan waktunya menyesal. Berusaha untuk menerima. Anggap saja, aku dijodohkan dengan Mandarin. Meskipun aku tidak mencintainya, aku harus berusaha mencintainya, setidaknya, menganggap Mandarin sebagai bagian dari hidupku. Proses penerimaan ini tidak semudah yang kupikirkan.

Mandarin, terlalu dramatis membicarakan mata kuliah yang satu ini. Penyesalan terdalam adalah ketika kita tidak berniat menyakiti orang lain, tapi sikap kita justru menunjukan tanda-tanda semacam itu. Belum pernah merasakan sesal sedalam ini, semenjak menjadi Mahasiswi Binus. Tapi untuk hari ini, kuakui bahwa aku merasakannya. Maaf untuk Laoshi Mandarin. Tak perlu kusebutkan namanya. Teman-teman seangkatan tentu paham siapa yang kumaksud.

Yang kusesali adalah, betapa aku belum juga merasa menjadi bagian dari mata kuliah yang kupelajari. Aku mencoba, tapi tak sedikitpun membekas. Aku terlanjur menganggap diriku ‘tidak mampu’. Baiklah, kujabarkan apa yang membuat penyesalan ini melekat. Laoshi Mandarinku masih muda. Perempuan dengan kemampuan mengontrol diri dan emosi dengan baik. Atau mungkin Laoshi adalah orang yang tidak bisa marah? Istilah kerennya woles banget! Setiap Mahasiswanya telat masuk, beliau tidak menegur. Hanya berkata bahwa besok-besok jangan telat lagi. Ada senyum yang beliau bubuhkan sebagai bonus. Ketika kelas hening, dan tak seorangpun bertanya tentang mata kuliah yang beliau sampaikan, tak terlihat wajah jengkel. Justru beliau tersenyum dan berkata dengan gaya tomboy-nya, “bagaimana, ngerti gak? Ada yang mau tanya? Oh, gak ada ya? Pasti gak ada! Oke, kita lanjut!”

Gayanya yang santai dan tidak pernah marah dengan kelakukan kami –yang secara pribadi kuakui sangat menjengkelkannya, beliau justru fokus bagaimana Mahasiswanya paham dengan materi yang disampaikan. Aku mengaggumi caranya mengajar. Santai dan kocak. Terlihat sederhana tapi menyenangkan. Mandarin yang secara pribadi kuanggap sulit, justru beliau 'menyemangatiku' bahwa Mandarin itu mudah. Aku harap, kamu tidak menganggapku manja. Apalagi berpikiran bahwa aku selalu ingin 'disuapi'. Bukan ini tujuanku. Ketika aku berusaha untuk menerima Mandarin, Laoshi memberikan motivasi di masa aku berproses. Sebenarnya, motivas-motivasi ini selalu kudapatkan dari Dosen-Dosen mata kuliah lain. Namun, Laoshi begitu membekas karena ada jarak yang kubuat dengan Mandarin dan beliau mampu sedikit meyakinkanku, bahwa itu tidak seperti yang kuanggapkan.

Bahkan ketika itu, aku yang tidak bisa menguasai hapalan bahasa Mandarin, beliau hanya menarik napas dengan senyum yang tak dibuat-buat. Beliau mengatakan, “iya, gak apa-apa, Lia. Kamu coba lagi ya!” Aku melihat ada luka yang berusaha beliau simpan. Mungkin, dari hati terdalamnya beliau merasa sedih, karena usaha yang beliau lakukan, tidak mendapatkan hasil maksimal. Tapi, lagi-lagi wajah tegar itu menggugahku bahwa Laoshi begitu luar biasa.

Aku tak mengatakan beliau lebih baik dari Dosen lain. TIDAK! Aku percaya, setiap orang memiliki kekhasan tersendiri, dan cara menyampaikan pesan yang berbeda. Aku tidak sedang membandingkan. Namun, Laoshi yang satu ini membekas untukku, setidaknya mengikis ‘kebencianku’ pada bahasa Mandarin. Dan ketika UAS hari ini selesai, aku cukup merasakan sesal itu. Beliau sudah melakukan hal sebaik mungkin agar nilai UAS kami tidak anjlok. Aku justru tidak menguasai secara penuh apa yang beliau sampaikan. Bagaimana mungkin aku mampu memulai, sementara dari mana starting point yang bisa kujadikan acuan? Aku blank! Sejujurnya aku membenci keadaanku seperti ini. Aku berusaha, tapi belum juga ada pencerahan untuk ini. Atau mungkin aku yang terlalu bebal? Entahlah!

Maaf untuk Laoshi karena selama satu Semester ini, aku belum bisa menyerap setiap ilmu yang Laoshi berikan. Tapi, Inshaa Alloh, setelah ini, akan kusungguhkan diriku mendalami bahasa ini. Jikapun nanti aku mampu menguasai bahasa Mandarin, tidak sepenuhnya ini atas kerja kerasku. Laoshi berperan dalam hal ini.


Laoshi, terima kasih telah mengajarkanku bagaimana bersikap sederhana namun membekas. Mangkin aku harus belajar banyak bagaimana menjadi orang sesantai dan sesabar Laoshi. Xie xie, Laoshi.

Sesal tak pernah datang dari awal. Tapi bukan berarti tidak ada peluang untuk menjadikan sesal sebagai langkah untuk memperbaiki diri, bukan? Semester depan, Mandarian akan menjadi teman. Mulai berdamai dengan mata kuliah yang secara paksa berjodoh denganku.

http://blogger.com

Tidak ada komentar:

Designed By