UAS Mandarin selesai. Tandanya aku bisa bernafas sedikit
lega. Karena Mandarin adalah mata kuliah yang sangat kuantikan. Aku merasa
salah mengambil bahasa peminatan. Sekalipun aku tidak menginginkan Mandarin,
bukan waktunya menyesal. Berusaha untuk menerima. Anggap saja, aku dijodohkan
dengan Mandarin. Meskipun aku tidak mencintainya, aku harus berusaha
mencintainya, setidaknya, menganggap Mandarin sebagai bagian dari hidupku.
Proses penerimaan ini tidak semudah yang kupikirkan.
Mandarin, terlalu dramatis membicarakan mata kuliah yang
satu ini. Penyesalan terdalam adalah ketika kita tidak berniat menyakiti orang
lain, tapi sikap kita justru menunjukan tanda-tanda semacam itu. Belum pernah
merasakan sesal sedalam ini, semenjak menjadi Mahasiswi Binus. Tapi untuk hari
ini, kuakui bahwa aku merasakannya. Maaf untuk Laoshi Mandarin. Tak perlu
kusebutkan namanya. Teman-teman seangkatan tentu paham siapa yang kumaksud.
Yang kusesali adalah, betapa aku belum juga merasa menjadi
bagian dari mata kuliah yang kupelajari. Aku mencoba, tapi tak sedikitpun membekas.
Aku terlanjur menganggap diriku ‘tidak mampu’. Baiklah, kujabarkan apa yang
membuat penyesalan ini melekat. Laoshi Mandarinku masih muda. Perempuan dengan
kemampuan mengontrol diri dan emosi dengan baik. Atau mungkin Laoshi adalah
orang yang tidak bisa marah? Istilah kerennya woles banget! Setiap Mahasiswanya telat masuk, beliau tidak
menegur. Hanya berkata bahwa besok-besok jangan telat lagi. Ada senyum yang
beliau bubuhkan sebagai bonus. Ketika kelas hening, dan tak seorangpun bertanya
tentang mata kuliah yang beliau sampaikan, tak terlihat wajah jengkel. Justru
beliau tersenyum dan berkata dengan gaya tomboy-nya, “bagaimana, ngerti gak?
Ada yang mau tanya? Oh, gak ada ya? Pasti gak ada! Oke, kita lanjut!”
Gayanya yang santai dan tidak pernah marah dengan kelakukan
kami –yang secara pribadi kuakui sangat menjengkelkannya, beliau justru fokus
bagaimana Mahasiswanya paham dengan materi yang disampaikan. Aku mengaggumi
caranya mengajar. Santai dan kocak. Terlihat sederhana tapi menyenangkan.
Mandarin yang secara pribadi kuanggap sulit, justru beliau 'menyemangatiku' bahwa Mandarin itu mudah. Aku harap, kamu tidak menganggapku manja. Apalagi berpikiran bahwa aku selalu ingin 'disuapi'. Bukan ini tujuanku. Ketika aku berusaha untuk menerima Mandarin, Laoshi memberikan motivasi di masa aku berproses. Sebenarnya, motivas-motivasi ini selalu kudapatkan dari Dosen-Dosen mata kuliah lain. Namun, Laoshi begitu membekas karena ada jarak yang kubuat dengan Mandarin dan beliau mampu sedikit meyakinkanku, bahwa itu tidak seperti yang kuanggapkan.
Bahkan ketika itu, aku yang tidak bisa menguasai hapalan
bahasa Mandarin, beliau hanya menarik napas dengan senyum yang tak dibuat-buat.
Beliau mengatakan, “iya, gak apa-apa, Lia. Kamu coba lagi ya!” Aku melihat ada luka yang berusaha beliau simpan. Mungkin, dari hati terdalamnya beliau merasa sedih, karena usaha yang beliau lakukan, tidak mendapatkan hasil maksimal. Tapi, lagi-lagi wajah tegar itu menggugahku bahwa Laoshi begitu luar biasa.
Aku tak mengatakan beliau lebih baik dari Dosen lain.
TIDAK! Aku percaya, setiap orang memiliki kekhasan tersendiri, dan cara
menyampaikan pesan yang berbeda. Aku tidak sedang membandingkan. Namun, Laoshi
yang satu ini membekas untukku, setidaknya mengikis ‘kebencianku’ pada bahasa
Mandarin. Dan ketika UAS hari ini selesai, aku cukup merasakan sesal itu. Beliau
sudah melakukan hal sebaik mungkin agar nilai UAS kami tidak anjlok. Aku justru
tidak menguasai secara penuh apa yang beliau sampaikan. Bagaimana mungkin aku
mampu memulai, sementara dari mana starting
point yang bisa kujadikan acuan? Aku blank!
Sejujurnya aku membenci keadaanku seperti ini. Aku berusaha, tapi belum juga
ada pencerahan untuk ini. Atau mungkin aku yang terlalu bebal? Entahlah!
Maaf untuk Laoshi karena selama satu Semester ini, aku
belum bisa menyerap setiap ilmu yang Laoshi berikan. Tapi, Inshaa Alloh,
setelah ini, akan kusungguhkan diriku mendalami bahasa ini. Jikapun nanti aku
mampu menguasai bahasa Mandarin, tidak sepenuhnya ini atas kerja kerasku.
Laoshi berperan dalam hal ini.
Laoshi, terima kasih telah mengajarkanku bagaimana bersikap
sederhana namun membekas. Mangkin aku harus belajar banyak bagaimana menjadi
orang sesantai dan sesabar Laoshi. Xie xie, Laoshi.
Sesal tak pernah datang dari awal. Tapi bukan berarti tidak ada peluang untuk menjadikan sesal sebagai langkah untuk memperbaiki diri, bukan? Semester depan, Mandarian akan menjadi teman. Mulai berdamai dengan mata kuliah yang secara paksa berjodoh denganku.
![]() |
| http://blogger.com |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar