Breaking News

Kamis, 12 Februari 2015

Akankah menjadi "Nanti" setelah "Kini" terlewati?

Akankah ini menjadi ikatan yang seketika hadir dan menguap seiring waktu yang mengarahkan kami pada perpisahan? Atau, akan menjadi awal sebuah ikatan yang kami sebut persaudaraan? Karena bagiku, jarak hanya jeda. Semua akan terbayar oleh komunikasi yang bisa dijangkau dalam durasi yang begitu cepat.

18 Januari 2015, adalah hari dimana aku menyebut ini sebagai anugerah. Saung Bambu yang merupakan Youth COmmunity, baru saja meretas untuk melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD dalam kegiatan belajar. Kelas yang sebelumnya hanya melibatkan kelas 5 dan 6, kini diisi oleh siswa yang berjumlah sekitar 70 orang . Wajah lucu yang berseri, menyimpul harap pada sesuatu 'yang baru' mereka dapatkan di kampung ini. Semoga Saung Bambu bisa memberikan harapan tersebut.

Seperti biasa, kelas dimulai pukul sembilan pagi. Aku tengah  terlibat dalam atmosfer kebersamaan yang hangat antara relawan dan siswa. Pada kesempatan ini pula, para relawan sudah memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi masing-masing SAUNG. SAUNG 1 untuk kelas 1 dan 2 SD, SAUNG 2 untuk kelas 3 dan 4 SD, dan SAUNG 3 untuk kelas 5 dan 6 SD. 28 Mahasiswa UNJ dengan almamater hijau yang mereka kenakan, berduyun-duyun masuk. Mereka mendapatkan informasi dari relawan Saung Bambu yang rumahnya menjadi shelter selama sebulan menjalani KKN di Desa Mekarsari. Aku meminta mereka untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Wajah ceria adik-adik tak luput dari perhatianku. Mata mereka berbinar ketika wajah-wajah baru itu tampil. Aku bahagia melihat mereka antusias dengan kehadiran orang-orang baru.

Sesi perkenalan terjalin singkat. Karena setelahnya, kami menginisiasi untuk membagi mereka ke dalam beberapa kelompok sesuai SAUNG. Adik-adik akan lebih leluasa mengenal guest facilitators dari UNJ tersebut. Aku mengenal Indra dan beberapa nama yang sulit diingat dalam waktu singkat. Dia adalah Ketua Kordinator dari mahasiswa UNJ. Kami terlibat dalam beberapa percakapan. Ketika atribut Saung Bambu kulepaskan, aku katakan bahwa aku bahagia. Ada suntikan semangat yang membuat aku harus terus survive disini. Tuhan selalu memberikan kejutan-kejutan manis yang tak terduga.

Ada pertemuan lanjutan setelah kelas yang berdurasi dua jam tersebut selesai. Ada perkenalan lanjutan antara kami dan perwakilan mahasiswa UNJ. Semoga ini bukan cara yang salah untuk melakukan pendekatan. Kami berusaha menyambut kehadiran mereka, dan menjadikan mereka sebagai bagian dari komunitas ini. Agar mereka tak sekedar menjalankan tugas dan kemudian pulang tak berbekas. Kamipun, tak ingin ketika mereka yang secara 'ajaib' dipertemukan dengan Saung Bambu berlalu tanpa kesan. Aku percaya, tak ada istilah kebetulan. Tentu ada alasan-alasan mengapa kami dipertemukan.

Tak sulit beradabtasi dengan mereka. Mungkin, karena jarak usia kami yang tak terlalu jauh, tak terlalu mencipta sekat yang teramat. Ada warna baru yang kujumpai disini. Teman-teman baru yang mungkin akan menjadi teman lama nantinya. Semoga!

Waktu yang begitu cepat menyimpulkan perjumpaan, pada akhirnya memberikan batas untuk kami saling mengikat. Terikat dalam 'kepentingan' yang sama, dalam percakapan yang serupa, dalam cerita yang hampir tak ada beda, atau dalam kesalahpahaman yang menetaskan pendewasaan baru sebagai sebuah proses. Aku menikmati pertemuan ini. Pertemuan yang tak akan mungkin terluang lagi. Kisah yang akan terlewati sekali seumur hidup. Sekalipun hal serupa terulang, namun rasa dan jiwanya tentu berbeda.

28 adalah jumlah yang tak sedikit. Tak semua nama kuhapal, kecuali wajah-wajah mereka yang kuingat. Keburukanku adalah sulit mengingat nama dan sangat mudah mengingat wajah. Dari 28 pula, aku tak bisa merasakan keterlibat personal secara emosional. Mungkin, setelah perjumpaan ini, hanya beberapa yang akan membekas dan kuingat, dan mungkin pula akan hadir kembali dalam kehidupanku. For the rest, I'm not really sure! Tidakkan kita memiliki keterbatasan untuk mengingat? Bahkan setiap hal pun tentu akan mengerucut menjadi sebuah simpul dari cerita yang general. Begitupun dengan kehadiran Mahasiswa KKN UNJ di Desa tempat aku bertumbuh ini. Wajah mereka taka sing jika kelak kami dipertemukan di tempat berbeda. Namun, hanya ada beberapa daftar nama yang mengikatku. Kelima teman lelaki dari UNJ yang memang lebih sering meluangkan waktu untuk berkumpul. Jogging, berenang, jalan, atau sekedar terlibat dalam obrolan santai di balai bambu. Sementara, untuk perempuan hanya beberapa saja yang kuingat.

14 Februari 2015 adalah hari terakhir mereka di Desa Mekarsari. Pertemuan yang terlalu singkat dan kuharap mengikat. Sering kukatakan pada mereka bahwa aku ingin hubungan yang sudah terjalin, tidak sekedar berjalan selama proses menyelesaikan masa tugas dan berlalu setelah semuanya selesai. Kusaksikan betapa adik-adik Saung Bambu terikat secara emosional kepada mereka, ketika mereka ‘berpamit’. Bahkan, ada yang meneteskan air mata. Aku terharu. Seperti itukah cinta? Haruskah tangis menjadi ucapan selamat jalan, ketika perjumpaan berbatas pada kata pisah; yang entah sementara atau selamanya. Aku enggan menenggelamkan haru dalam keindahan bersama. Menyadari bahwa ini adalah minggu terakhir mereka, ada yang hilang. Semua memang kembali pada siatuasi ‘normal’. Namun, justru terasa janggal. Kami mulai membiasa dengan kehadiran mereka. Ucapan terima kasih, tidak sebanding dengan apa yang Saung Bambu dapat. Pengalaman ini terlalu berharga untuk dikenang. Thanks for being a part of Saung Bambu family!

8 Februari 2015 mereka menyelesaikan tugasnya. Ada bingkisan yang mereka bagi untuk adik-adik. Mereka sepertinya lebih  tahu bagaimana membahagiakan hati adik-adik? Kuucapkan terima kasih telah memahami mereka dan memberikan hadiah untuk mereka yang memang mencintai kalian.

10 Februari 2015 adalah hari yang disepakati untuk gathering antara relawan dengan Mahasiswa UNJ. Di waktu bersamaan, kakak iparku akan melahirkan dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Bayi tak bisa keluar dan proses persalinan terhambat karena bidan yang bertugas di klinik dekat rumah, tidak mampu menangani. Kakak akhirnya di rujuk ke Rumah Sakit dengan dua pilihan, di vacuum atau di operasi? Jelas, kondisi semacam ini tak membuatku diam apalagi berminat untuk melanjutkan kegiatan yang sudah disepakati. Kakak adalah prioritas. Dengan sangat menyesal, aku batal bergabung. Sangat merasa berdosa. AKu memilih untuk mengunjungi kakak yang berada di Rumah Sakit Pandeglang. Tempat yang ditempuh sekitar dua jam lebih dengan kendaraan bermotor. Beruntung, Gian, Aep dan kak Banjar bersedia menemaniku ke Rumah Sakit. Tapi, tidakkah Tuhan tahu atas setiap rencana yang tak sedikitpun mampu kubaca? Biarlah, semua ini berjalan sebagaimana mestinya. Aku tak punya kuasa atas apa yang aku jalani setelahnya. Tuhanlah yang telah menyusun cerita. Kecewa tidak akan mengembalikan waktu yang terlewati. Yang kupikirkan adalah bagaimana memperbaiki komunikasi kedepannya, jika memang komunikasi tersebut masih diperlukan. 

Kuucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah menjalinkan kisah dalam pertemuan dengan teman-teman UNJ sebagai bagian dari seni hidupku. Ketika malam ini aku bercerita, kutanggalkan Saung Bambu dari identitasku. Aku mengatakan murni dari diriku sebagai Lia, bukan sebagai perwakilan komunitas. Dari ‘kepentingan’ inilah cerita ini terjalin. Dari rangkaian kalimat yang kuurai inilah, akan menjadi sejarah bahwa kita pernah dipertemukan di tempat yang mungkin tak pernah kalian duga, pun aku yang tak pernah menyangka akan terlibat dalam sedikit catatan hidup kalian. 

Lalu, pertanyaanku, berapa banyak nama yang akan ‘mengikat’ setelah tugas ini usai? Tak perlu terlalu berspekulasi tentang kemungkinan itu. Waktu yang akan mengabariku, seberapa banyak nama yang akan menjadi nanti setelah kini terlewati. Karena kupercaya, dari ribuan langkah kaki, tentu ada beberapa jejak yang membekas. Dan kuharap kamu, adalah salah satunya!

Farewell to you, guys! Selamat menjalani kehidupan kalian yang normal. Dan sukses untuk kalian semua.
berpose antara Mahasiswa UNJ, Relawan dan siswa Saung Bambu

Jogging di Pantai Jayakarta  
JJS di Pantai Mercusuar Bojong, Anyer

Tidak ada komentar:

Designed By