Akankah ini menjadi ikatan yang seketika hadir dan menguap seiring waktu yang mengarahkan kami pada perpisahan? Atau, akan
menjadi awal sebuah ikatan yang kami sebut persaudaraan? Karena bagiku, jarak
hanya jeda. Semua akan terbayar oleh komunikasi yang bisa dijangkau
dalam durasi yang begitu cepat.
18 Januari 2015, adalah hari dimana aku menyebut
ini sebagai anugerah. Saung Bambu yang merupakan Youth COmmunity, baru
saja meretas untuk melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD dalam kegiatan
belajar. Kelas yang sebelumnya hanya melibatkan kelas 5 dan 6, kini diisi oleh
siswa yang berjumlah sekitar 70 orang . Wajah lucu yang berseri, menyimpul harap pada sesuatu 'yang
baru' mereka dapatkan di kampung ini. Semoga Saung Bambu bisa memberikan
harapan tersebut.
Seperti biasa, kelas dimulai pukul sembilan
pagi. Aku tengah terlibat dalam atmosfer kebersamaan yang hangat antara
relawan dan siswa. Pada kesempatan ini pula, para relawan sudah memiliki tanggung
jawab untuk memfasilitasi masing-masing SAUNG. SAUNG 1 untuk kelas 1 dan 2 SD,
SAUNG 2 untuk kelas 3 dan 4 SD, dan SAUNG 3 untuk kelas 5 dan 6 SD. 28
Mahasiswa UNJ dengan almamater hijau yang mereka kenakan, berduyun-duyun masuk.
Mereka mendapatkan informasi dari relawan Saung Bambu yang rumahnya menjadi shelter selama sebulan menjalani KKN di
Desa Mekarsari. Aku meminta mereka untuk memperkenalkan diri di depan kelas.
Wajah ceria adik-adik tak luput dari perhatianku. Mata mereka berbinar ketika
wajah-wajah baru itu tampil. Aku bahagia melihat mereka antusias dengan
kehadiran orang-orang baru.
Sesi perkenalan terjalin singkat. Karena
setelahnya, kami menginisiasi untuk membagi mereka ke dalam beberapa kelompok
sesuai SAUNG. Adik-adik akan lebih leluasa mengenal guest facilitators dari UNJ tersebut. Aku mengenal Indra dan
beberapa nama yang sulit diingat dalam waktu singkat. Dia adalah Ketua
Kordinator dari mahasiswa UNJ. Kami terlibat dalam beberapa percakapan. Ketika
atribut Saung Bambu kulepaskan, aku katakan bahwa aku bahagia. Ada suntikan
semangat yang membuat aku harus terus survive disini. Tuhan
selalu memberikan kejutan-kejutan manis yang tak terduga.
Ada pertemuan lanjutan setelah kelas yang
berdurasi dua jam tersebut selesai. Ada perkenalan lanjutan antara kami dan
perwakilan mahasiswa UNJ. Semoga ini bukan cara yang salah untuk melakukan
pendekatan. Kami berusaha menyambut kehadiran mereka, dan menjadikan mereka sebagai
bagian dari komunitas ini. Agar mereka tak sekedar menjalankan tugas dan kemudian
pulang tak berbekas. Kamipun, tak ingin ketika mereka yang secara 'ajaib'
dipertemukan dengan Saung Bambu berlalu tanpa kesan. Aku percaya, tak ada
istilah kebetulan. Tentu ada alasan-alasan mengapa kami dipertemukan.
Tak sulit beradabtasi dengan mereka. Mungkin,
karena jarak usia kami yang tak terlalu jauh, tak terlalu mencipta sekat yang
teramat. Ada warna baru yang kujumpai disini. Teman-teman baru yang mungkin
akan menjadi teman lama nantinya. Semoga!
Waktu yang begitu cepat menyimpulkan perjumpaan,
pada akhirnya memberikan batas untuk kami saling mengikat. Terikat dalam
'kepentingan' yang sama, dalam percakapan yang serupa, dalam cerita yang hampir
tak ada beda, atau dalam kesalahpahaman yang menetaskan pendewasaan baru
sebagai sebuah proses. Aku menikmati pertemuan ini. Pertemuan yang tak akan
mungkin terluang lagi. Kisah yang akan terlewati sekali seumur hidup. Sekalipun
hal serupa terulang, namun rasa dan jiwanya tentu berbeda.
28 adalah jumlah yang tak sedikit. Tak semua
nama kuhapal, kecuali wajah-wajah mereka yang kuingat. Keburukanku adalah sulit
mengingat nama dan sangat mudah mengingat wajah. Dari 28 pula, aku tak bisa
merasakan keterlibat personal secara emosional. Mungkin, setelah perjumpaan
ini, hanya beberapa yang akan membekas dan kuingat, dan mungkin pula akan hadir
kembali dalam kehidupanku. For the rest, I'm not really sure!
Tidakkan kita memiliki keterbatasan untuk mengingat? Bahkan setiap hal pun
tentu akan mengerucut menjadi sebuah simpul dari cerita yang general. Begitupun dengan kehadiran
Mahasiswa KKN UNJ di Desa tempat aku bertumbuh ini. Wajah mereka taka sing jika
kelak kami dipertemukan di tempat berbeda. Namun, hanya ada beberapa daftar
nama yang mengikatku. Kelima teman lelaki dari UNJ yang memang lebih sering
meluangkan waktu untuk berkumpul. Jogging, berenang, jalan, atau sekedar
terlibat dalam obrolan santai di balai bambu. Sementara, untuk perempuan hanya
beberapa saja yang kuingat.
14 Februari 2015 adalah hari terakhir mereka di
Desa Mekarsari. Pertemuan yang terlalu singkat dan kuharap mengikat. Sering
kukatakan pada mereka bahwa aku ingin hubungan yang sudah terjalin, tidak
sekedar berjalan selama proses menyelesaikan masa tugas dan berlalu setelah
semuanya selesai. Kusaksikan betapa adik-adik Saung Bambu terikat secara
emosional kepada mereka, ketika mereka ‘berpamit’. Bahkan, ada yang meneteskan
air mata. Aku terharu. Seperti itukah cinta? Haruskah tangis menjadi ucapan
selamat jalan, ketika perjumpaan berbatas pada kata pisah; yang entah sementara
atau selamanya. Aku enggan menenggelamkan haru dalam keindahan bersama.
Menyadari bahwa ini adalah minggu terakhir mereka, ada yang hilang. Semua
memang kembali pada siatuasi ‘normal’. Namun, justru terasa janggal. Kami mulai
membiasa dengan kehadiran mereka. Ucapan terima kasih, tidak sebanding dengan
apa yang Saung Bambu dapat. Pengalaman ini terlalu berharga untuk dikenang. Thanks for being a part of Saung Bambu
family!
8 Februari 2015 mereka menyelesaikan tugasnya.
Ada bingkisan yang mereka bagi untuk adik-adik. Mereka sepertinya lebih tahu bagaimana membahagiakan hati adik-adik?
Kuucapkan terima kasih telah memahami mereka dan memberikan hadiah untuk mereka
yang memang mencintai kalian.
10 Februari 2015 adalah hari yang disepakati
untuk gathering antara relawan dengan
Mahasiswa UNJ. Di waktu bersamaan, kakak iparku akan melahirkan dengan kondisi
yang mengkhawatirkan. Bayi tak bisa keluar dan proses persalinan terhambat
karena bidan yang bertugas di klinik dekat rumah, tidak mampu menangani. Kakak
akhirnya di rujuk ke Rumah Sakit dengan dua pilihan, di vacuum atau di operasi?
Jelas, kondisi semacam ini tak membuatku diam apalagi berminat untuk
melanjutkan kegiatan yang sudah disepakati. Kakak adalah prioritas. Dengan
sangat menyesal, aku batal bergabung. Sangat merasa berdosa. AKu memilih untuk mengunjungi kakak yang berada di Rumah Sakit Pandeglang. Tempat yang ditempuh sekitar dua jam lebih dengan kendaraan bermotor. Beruntung, Gian, Aep dan kak Banjar bersedia menemaniku ke Rumah Sakit. Tapi, tidakkah
Tuhan tahu atas setiap rencana yang tak sedikitpun mampu kubaca? Biarlah, semua
ini berjalan sebagaimana mestinya. Aku tak punya kuasa atas apa yang aku jalani
setelahnya. Tuhanlah yang telah menyusun cerita. Kecewa tidak akan mengembalikan waktu yang terlewati. Yang kupikirkan adalah bagaimana memperbaiki komunikasi kedepannya, jika memang komunikasi tersebut masih diperlukan.
Kuucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah
menjalinkan kisah dalam pertemuan dengan teman-teman UNJ sebagai bagian dari
seni hidupku. Ketika malam ini aku bercerita, kutanggalkan Saung Bambu dari
identitasku. Aku mengatakan murni dari diriku sebagai Lia, bukan sebagai
perwakilan komunitas. Dari ‘kepentingan’ inilah cerita ini terjalin. Dari rangkaian
kalimat yang kuurai inilah, akan menjadi sejarah bahwa kita pernah dipertemukan
di tempat yang mungkin tak pernah kalian duga, pun aku yang tak pernah
menyangka akan terlibat dalam sedikit catatan hidup kalian.
Lalu, pertanyaanku, berapa banyak nama yang akan
‘mengikat’ setelah tugas ini usai? Tak perlu terlalu berspekulasi tentang
kemungkinan itu. Waktu yang akan mengabariku, seberapa banyak nama yang akan
menjadi nanti setelah kini terlewati. Karena kupercaya, dari ribuan langkah
kaki, tentu ada beberapa jejak yang membekas. Dan kuharap kamu, adalah salah
satunya!
Farewell to you, guys! Selamat menjalani kehidupan kalian yang normal. Dan sukses untuk kalian semua.
Farewell to you, guys! Selamat menjalani kehidupan kalian yang normal. Dan sukses untuk kalian semua.
| berpose antara Mahasiswa UNJ, Relawan dan siswa Saung Bambu |
![]() |
| Jogging di Pantai Jayakarta |
![]() |
| JJS di Pantai Mercusuar Bojong, Anyer |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar