![]() |
| blogger.com |
2014
bisa kusebut sebagai tahun pencapaian. Karena di tahun ini, hampir setiap
rencana yang aku susun sejak lama, mulai menampakan hasil. Syukur yang tak
terhingga atas karunia-Nya pada setiap ridho yang Dia berikan untukku. Namun,
tahun ini juga aku banyak kehilangan orang-orang yang aku cintai.
Keluarga-keluarga terdekat mulai pergi meninggalkan aku, menghadap Sang Khalik.
Berawal dari Juni 2014. Istri dari Uwa ku, yang akrab ku sebut Mih, istilah keluargaku untuk menyebut
kakak perempuan dari ibu, menghembuskan nafas terakhir. 22 hari berselang, Uwa ku,
suami dari almarhum Mih, yaitu Uwa
Supardi (akrab kupanggil Mbah) menutup mata. Keduanya menikah saat usia remaja,
dan tetap bersama hinggal ajal memisahkan. Bahkan, belum genap satu bulan, Mbah menyusul Mih-ku yang seolah tak ingin berpisah meski di alam sana. Sebuah
pukulan yang berat bagiku kala itu. Aku masih ingat bagaimana Mbah berpesan kepadaku ketika aku
mengunjunginya, bahwa sebagai anak tertua dari pihak ibu, beliau menginginkan
penerus-penerusnya menyambung silaturahim. “Ulah
pareumeun obor”, katanya.
Aku
melihat bagaimana beliau begitu bahagia mendengar kabar dariku yang bisa
melanjutkan kuliah keperguruan tinggi. Bahkan dengan bangga beliau berkata,
“Mungkin ini jawaban Tuhan dari doa Mbah
setiap waktu, bahwa Mbah berharap
anak-anak Mbah bisa menjadi orang
yang sukses. Pesan Mbah, jangan
sombong, jangan lupa shalat lima waktu, berbakti sama orang tua, dan jaga
silaturahim dengan keluarga. Jangan sampai keluarga kita kehilangan jejak.”
Banyak petuah darinya yang membekas di hatiku hingga kini. Aku berterima kasih
telah dianugerahkan seorang Mbah seperti
beliau. Beliau adalah pengganti kakekku yang memang sejak lahir, aku tidak
pernah kenal dengan kakek.
***
Pada
saat pemakaman almarhum Mbah, aku bertemu
dengan Uwa Eman, adik pertama dari Mbah. Di
usia senjanya, Uwa Eman masih terlihat gagah dan tak menunjukan tanda-tanda bahwa
beliau sakit. Kami banyak membahas tentang silsilah keluarga dari pihak kakek
yang berasal dari Sumedang. Bahkan beliau berjanji akan mengajakku untuk
berkunjung ke keluarga di Sumedang dan berziarah ke makam leluhur kami disana.
Jelas aku setuju. Namun, rencana tinggal rencana. Setelah beberapa minggu
pertemuan kami di rumah almarhum Mbah, aku
mendapat kabar dari anaknya bahwa Uwa Eman jatuh dari kamar mandi dan harus di
rawat di rumah sakit. Sekitar tiga minggu setelah kabar itu, beliaupun
menghembuskan nafas terakhir. Aku mengenang sosok beliau yang begitu khawatir
dan peduli pada keluarga. Dari cerita yang aku dengar dari ibu tentangnya,
beliau adalah kakak yang paling bandel, tapi paling peduli pada adiknya. Sosok
yang keras tapi penyayang.
Belum
lagi berakhir, berita duka itu kembali datang. kakak iparku yang ada di Tasik
pun berpulang setelah lama menderita komplikasi. Beberapa tahun terakhir beliau
terkena stroke. Duka yang mendalam tentunya harus dirasakan oleh kakakku yang
harus mengurus satu putera dan empat orang puterinya yang masih kecil. Aku
masih ingat bagaimana kakak iparku itu bersikap sebagai seorang menantu yang
baik untuk orang tuaku, dan berperan sebagai kakak yang baik untuk adik-adiknya.
Aku seolah tak berjarak dengannya. Walaupun beliau adalah kakak ipar, tapi
perhatiannya sama, atau mungkin melebihi kakak kandungku. Setiap datang ke
rumah, beliau selalu bertanya padaku, “Ia (panggilannya untukku), mau dimasakin
apa sama Aa?” beliau selalu memasak
makanan yang enak. Tak seorangpun yang diijinkan untuk membantunya ketika ia
masak. Beliau tak pernah sekalipun ingin merepotkan orang lain. Selalu
memberikan petuah-petuah yang baik. Selalu bertanya tentang keadaanku,
pekerjaanku, hingga kuliahku. Bahkan, ketika ia sakitpun, beliau begitu peduli
dengan keadaanku yang hidup sendiri diperantauan. Beliau selalu mengatakan,
“Ia, maafin Aa ya, karena Aa gak bisa bantu Ia untuk biaya
sekolah. Aa cuma berdoa semoga apa yang Ia cita-citakan tercapai. Jaga diri dan
kesehatan, dan jangan lupa berdoa.” Itu adalah wujud perhatian yang luar biasa
bagiku. Ketika seorang kakak bertanya keadaan adiknya, itu adalah perhatian
yang lebih berharga dari uang. Aku tak mengharapkan financial support dari keluargaku. Cukup doa dan perhatian, itu
saja. Karena untuk kebutuhan sehari-hariku, insyaAllah aku sanggup menutupinya.
Perhatian seperti itu yang dibutuhkan olehku, yang mungkin saja belum aku
dapatkan dari saudara kandungku.
Dan,
11 Oktober 2014, belum juga kabar kehilangan itu memudar dari duka keluarga,
dua orang sekaligus meninggalkanku dan keluarga kami. Uwa Anti, kakak ipar
ibuku menghembuskan nafas terakhirnya setelah empat bulan sakit. Aku orang
pertama yang dihubungi oleh pihak keluarga disana. Sekitar pukul 21.00 saat aku
diperjalanan penuju Bojong Gede, telepon genggamku bergetar. Telepon dari
sepupuku. Aku segera angkat. Ternyata, bukan sepupuku, melainkan ibunya. Mereka
memintaku untuk menyampaikan kabar duka ini pada kedua orang tuaku. Uwa Anti,
yang kukenang selama hidupnya adalah perempuan tangguh yang tak mengandalkan
hidup pada penghasilan suami. Sejak dulu, ketika suaminya bekerja di Jakarta,
Uwa memilih bersawah dan menjadi petani. Beliau tidak sepenuhnya menengadahkan
tangan pada penghasilan suami. Bahkan terahhir kami bertemu, Uwa Anti terlihat
jauh lebih sehat daripada suaminya. Tapi, maut adalah rahasia Ilahi. Kita tak
akan pernah tahu, siapa yang akan lebih dulu pulang menghadap-Nya.
Setelah
aku mendapatkan kabar duka itu, aku menghubungi bapak, mengabarkan bahwa Uwa
telah tiada. Aku justru tidak tahu harus berbuat apa selain banyak beristighar
mendengar kabar tersebut. Sekitar pukul 23.00, bapak meneleponku. Telepon
dengan nada suara yang aneh. Bapak mengabarkan bahwa kakak pertamaku, teh
Neneng Mulyanah menghembuskan nafas terakhir. Sontak aku terkejut. Bagaimana
mungkin berita duka ini datang berurutan? Aku bergetar dan hampir tak mampu
mengendalikan diri. Tetehku memang sudah lama mengidap tumor hidung. Beberapa
tahun lalu, beliau mengeluh sakit kepala dan hidungnya meler tidak henti-henti.
Beliau memeriksakan diri ke Dokter dan menganggap itu sebagai sakit flu biasa.
Ternyata, setelah diperiksa dokter, teteh memerlukan perawatan yang lebih
intens lagi. aku sempat mengantarkan beliau ke RS ke pusat THT untuk
memeriksakan hidungnya. Dan beliau mwngidap tumor. Dokter memberikan pilihan;
operasi atau membiarkan tubuhnya digerogoti tumor. Akhirnya teteh memilih jalan
operasi. Operasi pertama berhasil. Teteh tidak merasakan sakit yang luar biasa
pada hidung dan matanya. Tapi, entah ada kesalahan medis atau apa, benjolannya
kembali tumbuh dan semakin membesar. Itu tandanya teteh harus dioperasi.
Operasi kedua, tidak ada pilihan selain menghilangkan hidungnya atau teteh
kehilangan nyawa. Atas kesepakatan keluarga, teteh menjalani operasi
pengangkatan hidung untuk melepaskan benjolan pada hidung. Sejak saat itu,
teteh harus rajin check-up ke Dokter untuk mengontrol perkembangan sel kanker
dari hidungnya.
Setelah
bagian hidungnya bolong, teteh selalu menutupi hidungnya dengan masker. Setiap
aku berkesempatan mengunjunginya, aku selalu bertanya bagaimana sakitnya sudah
hilang apa belum? Katanya, setelah operasi, beliau jauh lebih leluasa bernafas
dan lega. Aku lumayan lega mendengar kabar “baik” tersebut. Walau disisi lain,
aku tidak sanggup menahan ngeri saat melihat langsung dengan mata kepalaku,
hidung kakakku sudah rata dan terlihat lubang besar yang langsung terhubung ke
tenggorokan. Aku sempat bergetar dan sedikit ketakutan. Hanya saja, aku
berusaha bersikap biasa dihadapannya.
Belum
genap satu tahun, banyak benjolan tumbuh disekitar pipi, leher dan punggung.
Bahkan yang lebih parahnya adalah benjolan yang tumbuh di pipi sebelah kiri dan
menghalangi penglihatan mata sebelah kirinya. Mata teteh sering berair dan
beliau mengeluh manas dan sakit yang menggigil. Bahkan ada nada putus ada
darinya saat kami berbicara di ruang tamu. Aku memintanya untuk rajin-rajin
kontrol kesehatan, tapi teteh justru menjawab, “Udahlah Li, teteh udah capek.
Kurang apa ikhtiar. Tapi hasilnya bukan membaik malah kayak gini. Sekarang mah
pasrah aja. Kalau harus pulang ya pulang aja. Buat apa juga teteh lama-lama
kalau keadaannyakayak gini.”
“Ikh,
teteh jangan ngomong kayak gitu lah. Teteh pasti sembuh. Yang penting sabar
aja.” Jawabku dengan nada yang bergetar. Aku benar-benar melihat tatapan yang
kosong darinya. Beliau benar-benar putus ada. Segala macam pengobatan sudah
dijalani. Mulai dari modern hingga tradisional. Tapi memang, keadaannya tak
kunjung membaik. Setiap aku ada kesempatan pulang dan waktu yang sedikit luang,
aku menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, sekedar bertanya kabar dan
melihat perkembangannya. Beliau selalu berkata, “Sering-sering main kesini ya
Li. Jengukin teteh kalau ada waktu.”
Aku
mengangguk dan memang aku ingin lebih sering berkunujung ke tempatnya.
Rencananya, hari Jumat, 17 Oktober ini saya akan pulang untuk mengurus kegiatan
yang baru saya rintis dan akan mengunjunginya lagi. Tapi, takdir berkehendak
lain. Allah telah menjemputnya sebelum aku sempat bertemu beliau. RIP teteh…
semoga Alloh memberikan tempat terindah untukmu disana. Sekarang teteh udah
bebas dari sakit yang teteh derita. Allah sayang sama teteh… Semua nilai-nilai
hidup yang teteh ajarkan buatku; baik secara tindakan atau lisan, akan menjadi
pelajaran yang berharga untukku. Tenanglah disisi-Nya. Karena Dia-lah tempat
kita kembali. Semoga aku kuat menjalani semuanya.
Duka pasti masih ada. Sedih, tentu saja. Mustahil orang yang masih punya rasa tak merasakan kesedihan saat keluarganya meninggal. Hanya saja, tak ada cara lain untuk menerima kepergian ini selain berusaha untuk ikhlas. Toh, segalanya bukan milik kita. Tak ada keabadian di dunia ini. Selain ikhlas, apa lagi? Berdoa, itu pasti! Selamat jalan untuk mereka yang mendahuluiku. Bahagialah kalian di tempat yang semestinya menjadi pemberhentian terakhir. Allah akan menjaga kalian disana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar