Breaking News

Minggu, 12 Oktober 2014

Tahun Pencapaian dan Kehilangan

blogger.com
2014 bisa kusebut sebagai tahun pencapaian. Karena di tahun ini, hampir setiap rencana yang aku susun sejak lama, mulai menampakan hasil. Syukur yang tak terhingga atas karunia-Nya pada setiap ridho yang Dia berikan untukku. Namun, tahun ini juga aku banyak kehilangan orang-orang yang aku cintai. Keluarga-keluarga terdekat mulai pergi meninggalkan aku, menghadap Sang Khalik. Berawal dari Juni 2014. Istri dari Uwa ku, yang akrab ku sebut Mih, istilah keluargaku untuk menyebut kakak perempuan dari ibu, menghembuskan nafas terakhir. 22 hari berselang, Uwa ku, suami dari almarhum Mih, yaitu Uwa Supardi (akrab kupanggil Mbah) menutup mata. Keduanya menikah saat usia remaja, dan tetap bersama hinggal ajal memisahkan. Bahkan, belum genap satu bulan, Mbah menyusul Mih-ku yang seolah tak ingin berpisah meski di alam sana. Sebuah pukulan yang berat bagiku kala itu. Aku masih ingat bagaimana Mbah berpesan kepadaku ketika aku mengunjunginya, bahwa sebagai anak tertua dari pihak ibu, beliau menginginkan penerus-penerusnya menyambung silaturahim. “Ulah pareumeun obor”, katanya.

Aku melihat bagaimana beliau begitu bahagia mendengar kabar dariku yang bisa melanjutkan kuliah keperguruan tinggi. Bahkan dengan bangga beliau berkata, “Mungkin ini jawaban Tuhan dari doa Mbah setiap waktu, bahwa Mbah berharap anak-anak Mbah bisa menjadi orang yang sukses. Pesan Mbah, jangan sombong, jangan lupa shalat lima waktu, berbakti sama orang tua, dan jaga silaturahim dengan keluarga. Jangan sampai keluarga kita kehilangan jejak.” Banyak petuah darinya yang membekas di hatiku hingga kini. Aku berterima kasih telah dianugerahkan seorang Mbah seperti beliau. Beliau adalah pengganti kakekku yang memang sejak lahir, aku tidak pernah kenal dengan kakek.

***

Pada saat pemakaman almarhum Mbah, aku bertemu dengan Uwa Eman, adik pertama dari Mbah. Di usia senjanya, Uwa Eman masih terlihat gagah dan tak menunjukan tanda-tanda bahwa beliau sakit. Kami banyak membahas tentang silsilah keluarga dari pihak kakek yang berasal dari Sumedang. Bahkan beliau berjanji akan mengajakku untuk berkunjung ke keluarga di Sumedang dan berziarah ke makam leluhur kami disana. Jelas aku setuju. Namun, rencana tinggal rencana. Setelah beberapa minggu pertemuan kami di rumah almarhum Mbah, aku mendapat kabar dari anaknya bahwa Uwa Eman jatuh dari kamar mandi dan harus di rawat di rumah sakit. Sekitar tiga minggu setelah kabar itu, beliaupun menghembuskan nafas terakhir. Aku mengenang sosok beliau yang begitu khawatir dan peduli pada keluarga. Dari cerita yang aku dengar dari ibu tentangnya, beliau adalah kakak yang paling bandel, tapi paling peduli pada adiknya. Sosok yang keras tapi penyayang.

Belum lagi berakhir, berita duka itu kembali datang. kakak iparku yang ada di Tasik pun berpulang setelah lama menderita komplikasi. Beberapa tahun terakhir beliau terkena stroke. Duka yang mendalam tentunya harus dirasakan oleh kakakku yang harus mengurus satu putera dan empat orang puterinya yang masih kecil. Aku masih ingat bagaimana kakak iparku itu bersikap sebagai seorang menantu yang baik untuk orang tuaku, dan berperan sebagai kakak yang baik untuk adik-adiknya. Aku seolah tak berjarak dengannya. Walaupun beliau adalah kakak ipar, tapi perhatiannya sama, atau mungkin melebihi kakak kandungku. Setiap datang ke rumah, beliau selalu bertanya padaku, “Ia (panggilannya untukku), mau dimasakin apa sama Aa?” beliau selalu memasak makanan yang enak. Tak seorangpun yang diijinkan untuk membantunya ketika ia masak. Beliau tak pernah sekalipun ingin merepotkan orang lain. Selalu memberikan petuah-petuah yang baik. Selalu bertanya tentang keadaanku, pekerjaanku, hingga kuliahku. Bahkan, ketika ia sakitpun, beliau begitu peduli dengan keadaanku yang hidup sendiri diperantauan. Beliau selalu mengatakan, “Ia, maafin Aa ya, karena Aa gak bisa bantu Ia untuk biaya sekolah. Aa cuma berdoa semoga apa yang Ia cita-citakan tercapai. Jaga diri dan kesehatan, dan jangan lupa berdoa.” Itu adalah wujud perhatian yang luar biasa bagiku. Ketika seorang kakak bertanya keadaan adiknya, itu adalah perhatian yang lebih berharga dari uang. Aku tak mengharapkan financial support dari keluargaku. Cukup doa dan perhatian, itu saja. Karena untuk kebutuhan sehari-hariku, insyaAllah aku sanggup menutupinya. Perhatian seperti itu yang dibutuhkan olehku, yang mungkin saja belum aku dapatkan dari saudara kandungku.

Dan, 11 Oktober 2014, belum juga kabar kehilangan itu memudar dari duka keluarga, dua orang sekaligus meninggalkanku dan keluarga kami. Uwa Anti, kakak ipar ibuku menghembuskan nafas terakhirnya setelah empat bulan sakit. Aku orang pertama yang dihubungi oleh pihak keluarga disana. Sekitar pukul 21.00 saat aku diperjalanan penuju Bojong Gede, telepon genggamku bergetar. Telepon dari sepupuku. Aku segera angkat. Ternyata, bukan sepupuku, melainkan ibunya. Mereka memintaku untuk menyampaikan kabar duka ini pada kedua orang tuaku. Uwa Anti, yang kukenang selama hidupnya adalah perempuan tangguh yang tak mengandalkan hidup pada penghasilan suami. Sejak dulu, ketika suaminya bekerja di Jakarta, Uwa memilih bersawah dan menjadi petani. Beliau tidak sepenuhnya menengadahkan tangan pada penghasilan suami. Bahkan terahhir kami bertemu, Uwa Anti terlihat jauh lebih sehat daripada suaminya. Tapi, maut adalah rahasia Ilahi. Kita tak akan pernah tahu, siapa yang akan lebih dulu pulang menghadap-Nya.

Setelah aku mendapatkan kabar duka itu, aku menghubungi bapak, mengabarkan bahwa Uwa telah tiada. Aku justru tidak tahu harus berbuat apa selain banyak beristighar mendengar kabar tersebut. Sekitar pukul 23.00, bapak meneleponku. Telepon dengan nada suara yang aneh. Bapak mengabarkan bahwa kakak pertamaku, teh Neneng Mulyanah menghembuskan nafas terakhir. Sontak aku terkejut. Bagaimana mungkin berita duka ini datang berurutan? Aku bergetar dan hampir tak mampu mengendalikan diri. Tetehku memang sudah lama mengidap tumor hidung. Beberapa tahun lalu, beliau mengeluh sakit kepala dan hidungnya meler tidak henti-henti. Beliau memeriksakan diri ke Dokter dan menganggap itu sebagai sakit flu biasa. Ternyata, setelah diperiksa dokter, teteh memerlukan perawatan yang lebih intens lagi. aku sempat mengantarkan beliau ke RS ke pusat THT untuk memeriksakan hidungnya. Dan beliau mwngidap tumor. Dokter memberikan pilihan; operasi atau membiarkan tubuhnya digerogoti tumor. Akhirnya teteh memilih jalan operasi. Operasi pertama berhasil. Teteh tidak merasakan sakit yang luar biasa pada hidung dan matanya. Tapi, entah ada kesalahan medis atau apa, benjolannya kembali tumbuh dan semakin membesar. Itu tandanya teteh harus dioperasi. Operasi kedua, tidak ada pilihan selain menghilangkan hidungnya atau teteh kehilangan nyawa. Atas kesepakatan keluarga, teteh menjalani operasi pengangkatan hidung untuk melepaskan benjolan pada hidung. Sejak saat itu, teteh harus rajin check-up ke Dokter untuk mengontrol perkembangan sel kanker dari hidungnya.

Setelah bagian hidungnya bolong, teteh selalu menutupi hidungnya dengan masker. Setiap aku berkesempatan mengunjunginya, aku selalu bertanya bagaimana sakitnya sudah hilang apa belum? Katanya, setelah operasi, beliau jauh lebih leluasa bernafas dan lega. Aku lumayan lega mendengar kabar “baik” tersebut. Walau disisi lain, aku tidak sanggup menahan ngeri saat melihat langsung dengan mata kepalaku, hidung kakakku sudah rata dan terlihat lubang besar yang langsung terhubung ke tenggorokan. Aku sempat bergetar dan sedikit ketakutan. Hanya saja, aku berusaha bersikap biasa dihadapannya.

Belum genap satu tahun, banyak benjolan tumbuh disekitar pipi, leher dan punggung. Bahkan yang lebih parahnya adalah benjolan yang tumbuh di pipi sebelah kiri dan menghalangi penglihatan mata sebelah kirinya. Mata teteh sering berair dan beliau mengeluh manas dan sakit yang menggigil. Bahkan ada nada putus ada darinya saat kami berbicara di ruang tamu. Aku memintanya untuk rajin-rajin kontrol kesehatan, tapi teteh justru menjawab, “Udahlah Li, teteh udah capek. Kurang apa ikhtiar. Tapi hasilnya bukan membaik malah kayak gini. Sekarang mah pasrah aja. Kalau harus pulang ya pulang aja. Buat apa juga teteh lama-lama kalau keadaannyakayak gini.”

“Ikh, teteh jangan ngomong kayak gitu lah. Teteh pasti sembuh. Yang penting sabar aja.” Jawabku dengan nada yang bergetar. Aku benar-benar melihat tatapan yang kosong darinya. Beliau benar-benar putus ada. Segala macam pengobatan sudah dijalani. Mulai dari modern hingga tradisional. Tapi memang, keadaannya tak kunjung membaik. Setiap aku ada kesempatan pulang dan waktu yang sedikit luang, aku menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, sekedar bertanya kabar dan melihat perkembangannya. Beliau selalu berkata, “Sering-sering main kesini ya Li. Jengukin teteh kalau ada waktu.”

Aku mengangguk dan memang aku ingin lebih sering berkunujung ke tempatnya. Rencananya, hari Jumat, 17 Oktober ini saya akan pulang untuk mengurus kegiatan yang baru saya rintis dan akan mengunjunginya lagi. Tapi, takdir berkehendak lain. Allah telah menjemputnya sebelum aku sempat bertemu beliau. RIP teteh… semoga Alloh memberikan tempat terindah untukmu disana. Sekarang teteh udah bebas dari sakit yang teteh derita. Allah sayang sama teteh… Semua nilai-nilai hidup yang teteh ajarkan buatku; baik secara tindakan atau lisan, akan menjadi pelajaran yang berharga untukku. Tenanglah disisi-Nya. Karena Dia-lah tempat kita kembali. Semoga aku kuat menjalani semuanya.


Duka pasti masih ada. Sedih, tentu saja. Mustahil orang yang masih punya rasa tak merasakan kesedihan saat keluarganya meninggal. Hanya saja, tak ada cara lain untuk menerima kepergian ini selain berusaha untuk ikhlas. Toh, segalanya bukan milik kita. Tak ada keabadian di dunia ini. Selain ikhlas, apa lagi? Berdoa, itu pasti! Selamat jalan untuk mereka yang mendahuluiku. Bahagialah kalian di tempat yang semestinya menjadi pemberhentian terakhir. Allah akan menjaga kalian disana. 


Tidak ada komentar:

Designed By