![]() |
| blogger.com |
Menunggu kereta
arah Bogor di Bojong Gede pagi ini, tak memerlukan waktu yang lama. Aku bersiap
untuk menghadiri Southeast Asian Regional Meeting for legal aid and
referral for migrant workers and victims of trafficking yang
dilaksanakan pada 20-21 Agustus di Novotel Bogor. Karena aku adalah bagian dari
panitia penyelenggara, yang merupakan kerjasama TIFA dengan HOME Singapura,
maka sehari sebelumnya aku harus datang ke tempat. Rasanya, Agustus ini aku
begitu akrab dengan kota Bogor. beberapa hari sebelumnya, aku menghadiri
meeting di kota hujan ini, untuk isu PRTA. Dan hari ini, kereta arah Bogor
mengantarkanku pada tempat tujuan.
Ini
pertama kalinya aku mengunjungi Novotel. Sebenarnya, yang ingin aku ceritakan
bukanlah Novotel, namun perjalanan aku hingga tiba di tempat ini. Bojong
Gede-Novotel tidak memerlukan waktu yang lama meski ditempuh dengan kendaraan
umum. Tidak lebih dari dua jam aku sudah sampai. Tak sepadat sore hari, kereta
arah Bogor masih menyisakan kursi yang bisa kududuki, walau tidak bisa
dikatakan kosong. Bojong Gede-Bogor hanya melewati stasiun Cilebut, yang
kemarin diberitakan terjadi longsor sehingga menghambat perjalanan kereta.
Setibanya disana, aku berduyun-duyun bersama penumpang yang turun di stasiun
yang sama. Bukan stasiun kereta Bogor namanya jika sepi penumpang. Mengantri
untuk tapping ke pintu keluar sudah hal yang kuanggap biasa, dan memang itu
sudah membiasa. Beberapa tawaran datang bergantian; mulai dari tukang ojek,
penjual koran, penjual tisu, dan pedagang asongan lainnya. Aku mengabaikan hal
itu untuk saat ini. Karena pagi hari, aku harus segera tiba di Novotel.
Menaiki
angkot warna hijau nomor 2 arah Bubulak-Baranang Siang, aku menjejalkan diri
diantara penumpang yang sudah padat. Angkot yang mengetem, tak akan berangkat
sebelum seluruh kursinya penuh oleh penumpang. Bising suara kalkson, teriakan
calon, dan debu dari asap kendaraan, membuat volusi jiwa. Beruntung masih pagi,
energiku masih lumayan full untuk menghindari keadaan yang kurang menyenangkan.
Ttak terlalu lama menunggu, angkot berjalan diantara antrian kendaraan lain
yang ingin segera sampai pada tujuan masing-masing. Tiba di Botani Square, aku
berjalan dan berada diantara orang-orang asing. Aku belum menemukan taksi.
Menurut pihak TIFA, tidak ada kendaraan umum yang lewat Novotel. Maka taksi
adalah alternatifnya.
Karena
ini pertama kalinya ke tempat ini, aku sedikit bingung. Aku bertanya kepada
dua orang bapak-bapak berseragam Damri, tapi mereka tak terlalu paham
lokasinya, justru mereka berdua melempar pertanyaanku kepada seorang lelaki yang
sedang duduk. Percakapan singkatpun terjadi,
Aku :
"Pak, ada taksi ke arah Novotel gak? atau shuttle-nya gitu?"
Orang 1
: "Taksi ya?" (dia kembali melempar pertanyaanku kepada lelaki
yang sedang berdiri bersandar di sebelah kiriku) "Sini, ada yang nanyain
taksi nih. Ke Novotel katanya. Berapa duit?"
Orang 2 : "Ke Novotel?
Hmm.. tujuh puluh ribu aja neng."
Aku :" Lho kok taksi
ditargetin harganya dari awal? Emangnya gak ada argonya?"
"Orang 2 :
"Disini gak ada taksi neng. Kalau mau diantar ya segitu."
Aku : "Teman saya
bilang, ada taksi ke Novotel lho pak. Bapak beneran supir taksi?"
Orang 2 : "Saya
kan udah bilang, disini gak ada taksi. Nanti saya anter pake avanza, tapi bukan taksi. Kalau argo gak ada, tapi saya bisa kasih kwitansi pembayarannya kok."
Aku : "Wah, gak deh
pak, makasih."
Aku justru memilih bergi
dari mereka dan jalan lurus menuju pintu masuk Botani Square. Sempat merasa
cemas jika benar tidak ada taksi. Tapi, belum saatnya memutuskan sesuatu
sebelum bertanya pada orang yang jauh lebih bisa dipercaya. Dua orang security
berdiri dipintu masuk, percakapan kembali terjadi,
Aku : "Pak, disini
emangnya gak ada taksi ya?"
Security : "Oh, ada
mbak. Mbak jalan aja lurus kesana, terus belok kanan. Nah, di belakang situ ada
taksi."
Aku : "Oh, makasih ya
pak."
Security : "Emangnya
mbak mau kemana?"
Aku : "Mau ke Novotel
pak. "
Security : "Oh,
Novotel ya? Itu lumayan dekat dari sini kok."
Aku kemudian berjalan
mengikuti arah yang sudah ditunjukan oleh kedua Security tersebut. Beberapa
mobil pribadi menghambat jalanku. Sesekali aku berhenti untuk mempersilahkan
mobil tersebut melintas perlahan di hadapanku menuju tempat parkir. Aku berjalan
ke belakang menuju sekumpulan bakap supir taksi yang sedang menikmati kopinya.
Seorang bapak menghampiri setelah kupanggil. Aku segera memintanya
mengantarkanku ke Novotel.
Di dalam taksi, justru aku
merasa prihatin dengan kejanggalan yang aku alami barusan. Seperti yang aku
alami barusan, apakah itu dikategorikan praktek pencaloan? Ah, entah. Aku hanya
menyayangkan, jika mental orang-orang kebanyakan seperti ini, maka orang-orang
Indonesia akan mengalami krisis kepercayaan. Aku bertanya pada mereka dimana
taksi, tapi mereka justru menawarkan kendaraan lain dengan mematok harga
"sesuka" hati. Bahkan, dengan santai mengatakan bahwa tidak ada taksi
di daerah sini. Bagaimana mungkin mereka berkata seperti itu? Jika alasannya
tidak tahu, aku rasa itu mustahil. Mereka tentu tahu ada taksi. Orang tersebut
terkesan "memanfaatkan keadaan". Bukan sekali dua kali saya mengalami
hal serupa. kejadiannya sedikiti berbeda, tapi tetap, Indonesia sedang
mengalami krisis kepercayaan. Bahkan ada beberapa ojek dan juga supir angkot
yang mematok harga tinggi untuk pendatang yang masih 'awam' nominal untuk
sekali jalan. Itulah mengapa, taksi menjadi pilihan ketika kita berada di
tempat baru. Karena taksi, lebih bisa dipercaya.
Baiklah, anggap aku sudah
sampai di Novotel dan tidak ada masalah apapun yang aku alami selain duduk
berlama-lama di taman depan hotel, menunggu pihak dari Singapura yang akan
datang hari ini. Mereka berempat baru saja meneleponku sekotar pukul 11am baru tiba di bandara Soeta. DIperkirakan beberapa jam lagi mereka sampai sini. Oiya, ada hal yang ingin aku ceritakan tentang kepercayaan. Aku ingat, beberapa waktu lalu temanku berjanji akan
mengantarkanku kesini. Kebetulan dia berdomisili di Bogor dan sudah hafal
daerah sini. Tawaran baiknya aku terima. Sayangnya, beberapa hari sebelum hari
H, saat aku mengonfirmasi kesediaan atas tawaran yang dia ajukan, justru dia
mengatakan bahwa dia tidak bisa mengantarkan aku ke Novotel dengan alasan yang
menurutku "kurang kuat". Kedua kalinya kepercayaanku pada temanku itu dia rusak. Janji yang kedua kalinya dia batalkan. Dari janji yang dibatalakan itulah aku "terbiasa" dengan keputusannya yang datang tiba-tiba. Baiklah, dari sini aku belajar bagaimana
sulitnya membangun sebuah kepercayaan. Jangankan bagi orang asing, untuk orang
yang sudah kukenalpun kepercayaan masih belum sepenuhnya terbangun. Ya,
mungkin ini yang dinamakan krisis kepercayaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar