Breaking News

Senin, 18 Agustus 2014

Krisis kepercayaan


blogger.com
Menunggu kereta arah Bogor di Bojong Gede pagi ini, tak memerlukan waktu yang lama. Aku bersiap untuk menghadiri Southeast Asian Regional Meeting for legal aid and referral for migrant workers and victims of trafficking yang dilaksanakan pada 20-21 Agustus di Novotel Bogor. Karena aku adalah bagian dari panitia penyelenggara, yang merupakan kerjasama TIFA dengan HOME Singapura, maka sehari sebelumnya aku harus datang ke tempat. Rasanya, Agustus ini aku begitu akrab dengan kota Bogor. beberapa hari sebelumnya, aku menghadiri meeting di kota hujan ini, untuk isu PRTA. Dan hari ini, kereta arah Bogor mengantarkanku pada tempat tujuan. 

Ini pertama kalinya aku mengunjungi Novotel. Sebenarnya, yang ingin aku ceritakan bukanlah Novotel, namun perjalanan aku hingga tiba di tempat ini. Bojong Gede-Novotel tidak memerlukan waktu yang lama meski ditempuh dengan kendaraan umum. Tidak lebih dari dua jam aku sudah sampai. Tak sepadat sore hari, kereta arah Bogor masih menyisakan kursi yang bisa kududuki, walau tidak bisa dikatakan kosong. Bojong Gede-Bogor hanya melewati stasiun Cilebut, yang kemarin diberitakan terjadi longsor sehingga menghambat perjalanan kereta. Setibanya disana, aku berduyun-duyun bersama penumpang yang turun di stasiun yang sama. Bukan stasiun kereta Bogor namanya jika sepi penumpang. Mengantri untuk tapping ke pintu keluar sudah hal yang kuanggap biasa, dan memang itu sudah membiasa. Beberapa tawaran datang bergantian; mulai dari tukang ojek, penjual koran, penjual tisu, dan pedagang asongan lainnya. Aku mengabaikan hal itu untuk saat ini. Karena pagi hari, aku harus segera tiba di Novotel. 

Menaiki angkot warna hijau nomor 2 arah Bubulak-Baranang Siang, aku menjejalkan diri diantara penumpang yang sudah padat. Angkot yang mengetem, tak akan berangkat sebelum seluruh kursinya penuh oleh penumpang. Bising suara kalkson, teriakan calon, dan debu dari asap kendaraan, membuat volusi jiwa. Beruntung masih pagi, energiku masih lumayan full untuk menghindari keadaan yang kurang menyenangkan. Ttak terlalu lama menunggu, angkot berjalan diantara antrian kendaraan lain yang ingin segera sampai pada tujuan masing-masing. Tiba di Botani Square, aku berjalan dan berada diantara orang-orang asing. Aku belum menemukan taksi. Menurut pihak TIFA, tidak ada kendaraan umum yang lewat Novotel. Maka taksi adalah alternatifnya. 

Karena ini pertama kalinya ke tempat ini, aku sedikit bingung. Aku bertanya kepada dua orang bapak-bapak berseragam Damri, tapi mereka tak terlalu paham lokasinya, justru mereka berdua melempar pertanyaanku kepada seorang lelaki yang sedang duduk.  Percakapan singkatpun terjadi,

Aku : "Pak, ada taksi ke arah Novotel gak? atau shuttle-nya gitu?"
Orang 1 : "Taksi ya?" (dia kembali melempar pertanyaanku kepada lelaki yang sedang berdiri bersandar di sebelah kiriku) "Sini, ada yang nanyain taksi nih. Ke Novotel katanya. Berapa duit?"

Orang 2 : "Ke Novotel? Hmm.. tujuh puluh ribu aja neng."

Aku :" Lho kok taksi ditargetin harganya dari awal? Emangnya gak ada argonya?"

"Orang 2 : "Disini gak ada taksi neng. Kalau mau diantar ya segitu."

Aku : "Teman saya bilang, ada taksi ke Novotel lho pak. Bapak beneran supir taksi?"

 Orang 2 : "Saya kan udah bilang, disini gak ada taksi. Nanti saya anter pake avanza, tapi bukan taksi. Kalau argo gak ada, tapi saya bisa kasih kwitansi pembayarannya kok."

Aku : "Wah, gak deh pak, makasih."

Aku justru memilih bergi dari mereka dan jalan lurus menuju pintu masuk Botani Square. Sempat merasa cemas jika benar tidak ada taksi. Tapi, belum saatnya memutuskan sesuatu sebelum bertanya pada orang yang jauh lebih bisa dipercaya. Dua orang security berdiri dipintu masuk, percakapan kembali terjadi,

Aku : "Pak, disini emangnya gak ada taksi ya?"

Security : "Oh, ada mbak. Mbak jalan aja lurus kesana, terus belok kanan. Nah, di belakang situ ada taksi."

Aku : "Oh, makasih ya pak."

Security : "Emangnya mbak mau kemana?"

Aku : "Mau ke Novotel pak. "

Security : "Oh, Novotel ya? Itu lumayan dekat dari sini kok."

Aku kemudian berjalan mengikuti arah yang sudah ditunjukan oleh kedua Security tersebut. Beberapa mobil pribadi menghambat jalanku. Sesekali aku berhenti untuk mempersilahkan mobil tersebut melintas perlahan di hadapanku menuju tempat parkir. Aku berjalan ke belakang menuju sekumpulan bakap supir taksi yang sedang menikmati kopinya. Seorang bapak menghampiri setelah kupanggil. Aku segera memintanya mengantarkanku ke Novotel. 

Di dalam taksi, justru aku merasa prihatin dengan kejanggalan yang aku alami barusan. Seperti yang aku alami barusan, apakah itu dikategorikan praktek pencaloan? Ah, entah. Aku hanya menyayangkan, jika mental orang-orang kebanyakan seperti ini, maka orang-orang Indonesia akan mengalami krisis kepercayaan. Aku bertanya pada mereka dimana taksi, tapi mereka justru menawarkan kendaraan lain dengan mematok harga "sesuka" hati. Bahkan, dengan santai mengatakan bahwa tidak ada taksi di daerah sini. Bagaimana mungkin mereka berkata seperti itu? Jika alasannya tidak tahu, aku rasa itu mustahil. Mereka tentu tahu ada taksi. Orang tersebut terkesan "memanfaatkan keadaan". Bukan sekali dua kali saya mengalami hal serupa. kejadiannya sedikiti berbeda, tapi tetap, Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan. Bahkan ada beberapa ojek dan juga supir angkot  yang mematok harga tinggi untuk pendatang yang masih 'awam' nominal untuk sekali jalan. Itulah mengapa, taksi menjadi pilihan ketika kita berada di tempat baru. Karena taksi, lebih bisa dipercaya.

Baiklah, anggap aku sudah sampai di Novotel dan tidak ada masalah apapun yang aku alami selain duduk berlama-lama di taman depan hotel, menunggu pihak dari Singapura yang akan datang hari ini. Mereka berempat baru saja meneleponku sekotar pukul 11am baru tiba di bandara Soeta. DIperkirakan beberapa jam lagi mereka sampai sini. Oiya, ada hal yang ingin aku ceritakan tentang kepercayaan. Aku ingat, beberapa waktu lalu temanku berjanji akan mengantarkanku kesini. Kebetulan dia berdomisili di Bogor dan sudah hafal daerah sini. Tawaran baiknya aku terima. Sayangnya, beberapa hari sebelum hari H, saat aku mengonfirmasi kesediaan atas tawaran yang dia ajukan, justru dia mengatakan bahwa dia tidak bisa mengantarkan aku ke Novotel dengan alasan yang menurutku "kurang kuat". Kedua kalinya kepercayaanku pada temanku itu dia rusak. Janji yang kedua kalinya dia batalkan. Dari janji yang dibatalakan itulah aku "terbiasa" dengan keputusannya yang datang tiba-tiba. Baiklah, dari sini aku belajar bagaimana sulitnya membangun sebuah kepercayaan. Jangankan bagi orang asing, untuk orang yang sudah kukenalpun kepercayaan masih belum sepenuhnya terbangun. Ya, mungkin ini yang dinamakan krisis kepercayaan. 

Tidak ada komentar:

Designed By