Breaking News

Minggu, 02 Maret 2014

Satu-satu

Blgospot.com
"Satu satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda

Satu satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda," (Satu-satu, Iwan fals disini)

***
Wajahnya saat ini berkelabat dalam ingatan. Kenangan yang pernah kami lalui kini hidup lagi. Beliau adalah sosok ibu, pejuang yang tangguh, teman dan juga orang yang penting untuk banyak orang. Mengenal beliau secara pribadi adalah anugerah yang tak berhenti kusyukuri. Pribadi yang baik; tulus, hangat dan bersahabat dan low profile. 

Bagaimana tidak? Walau beliau adalah orang yang sangat berpengaruh, beliau tidak menunjukan bahwa 'inilah aku dengan segudang talenta dan kebaikan yang pernah aku bagi'. Setiap menghadiri acara penting, beliau lebih senang mengenakan kaos oblong dan sandal daripada bergaya perlente. Sangat sederhana. Aku jadi teringat ucapan seorang seniman lukis yang aku kenal di Serang saat aku masih bergabung dengan kawan-kawan KPJ sana, "Orang luar biasa itu biasanya biasa-biasa saja, Lia."

Ya, beliau adalah orang luar biasa yang biasa-biasa saja. Baginya, apa yang beliau punya hanyalah milik Tuhan. Saat pulang nanti, yang akan ia pertanggungjawabkan bukan pakaian bagus, rumah mewah dan semua yang berbau duniawi, melainkan kebaikan-kebaikan yang sudah beliau lakukan. 

Kami sering mengunjungi pantai. Disitulah tempat kami bertukar pikiran. Beliau mengajarkan saya banyak hal. Saya harus berterima kasih jika beberapa petuah beliau hingga saat ini masih tertanam di hati saya. Menjadi prinsip yang kokoh untuk tetap saya pegang teguh. Kebersamaan yang indah, walau kenyataannya tidak semua hal indah itu kami lewati. Beliau pernah marah, kami pernah selisih, namun Tuhan mengembalikan kami pada keadaan yang baik setelah semua pembelajaran itu.

***
Sebelum sakit.
Jakarta pada Januari lalu. Rindu yang seolah meledak saat bersua, membuat air mataku meleleh, "Jangan menangis. Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kita semua pernah salah. Sekarang saatnya melihat masa depan dan memaafkan masa lalu. Anggap, tidak pernah ada masalah apapun."

Ada sebuah obrolan setelah aku puas membuncahkan rindu yang terpendam selama itu. Beliau bertanya kabarku; bertanya seperti apa hidupku. Betapa bahagianya beliau saat tahu aku sudah aktif kuliah dan tinggal di Jakarta. 

"Aku sering mengatakan padamu, Tuhan memang baik, kan? Aku akan melanjutkan pekerjaanku di Jakarta dan kesulitan mencari orang yang bisa dipercaya, ternyata kamu tinggal disini. Padahal yang aku tahu, dulu kamu akan membuka kursus untuk anak-anak di kampungmu," ucapnya bersemangat.

Aku menunduk. Ya, dulu, seharusnya seperti itu. Kecintaanku pada anak-anak membuatku ingin mendirikan tempat kursus gratis bagi mereka. Berbagi apa yang aku bisa, walau aku tidak bisa dikategorikan orang yang pintar. Sayangnya, saat itu aku terlanjur kecewa pada keadaan dan 'melarikan diri' ke Jakarta. Tapi percayalah, entah kapan itu, akan kulanjutkan cita-cita itu. Mungkin saat ini, kunikmati Jakarta dengan keberagamannya, dan akan kuaplikasikan nanti, setelah aku benar-benar berbekal segala hal, bukan hanya sekedar 'tekad'.

"Aku sudah tua. Semua organisasi yang sudah aku rintis, tidak akan berguna jika kalian, generasi-generasi muda tidak mau melanjutkannya. Aku hanya ingin, kamu melanjutkan apa yang sudah aku rintis dan menyebar kebaikan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Jadi, nanti kalaupun aku harus meninggal, aku akan meninggal dengan keadaan tersenyum," tambahnya.

Bulu kudukku berdiri saat itu. Aku tidak mau beliau mengatakan itu. Aku belum siap saja jika harus mendengarnya, sungguh.

"Tolong jangan katakan hal itu," protesku.

"Lho, memangnya kenapa? Orang hidup pasti akan mati, Lia. Waktunya kapan, kita tidak tahu. Bisa saja bulan depan, minggu depan, besok atau mungkin hari ini. Kematian itu misteri, Lia. Kita tidak pernah tahu, atau bahkan tidak perlu tahu. yang kita perlukan adalah siap."

Lalu, obrolan berlanjut pada tanggung jawab yang akan aku pegang nanti, setelah semua proses dijalankan. "Janji mau bantu aku?"

"Ya, janji!" Jawabku. Beliau menggenggam tanganku erat. Ada gurat bahagia yang ia suguhkan padaku. Aku mampu merasakan betapa besar harapannya untuk merealisasikan mimpinya tersebut. Tuhan, berikan beliau kesehatan agar apa yang beliau cita-citakan bisa dijalankan dengan baik, doaku dalam hati saat itu. Sore itupun kami mencari tempat makan untuk mengisi perut. Beliau mengajakku menikmati nasi padang di restoran Padang beberapa ratus meter dari Hotel tempatnya Meeting.

***
Beberapa minggu setelah pertemuan berkualitas itu, aku dikejutkan oleh kabar bahwa beliau jatuh sakit dan tengah di rawat di Rumah Sakit. Sangat tidak bisa dipercaya. Baru saja aku merampungkan kerinduan untuk bertemu, baru saja kami membahas tentang pekerjaan yang akan beliau dirikan di Jakarta; semua baru saja dan belum dimulai, beliau terbaring sakit. Beruntungnya, beliau memiliki staffs yang loyal dan benar-benar bekerja dengan hati untuk beliau dan pekerjaannya. Sehingga, semua bisa diatasi tanpa pengawasan beliau. 
Seorang yang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik. Kalaupun harus dipertemukan dengan orang yang 'kurang baik', dengan sendirinya waktu akan melakukan penyesuaian dengan melakukan seleksi alam.
 Ada saat dimana nanti, yang mudalah yang menggantikan yang tua. Yang tua mnyalurkan semangat untuk yang muda, dan yang mudalah yang seharusnya berkarya. Melanjutkan cita-cita itu dengan keikhlasan dan loyalitas. Agar kebaikan selamanya tertanam dan dinikmati oleh mereka yang memang benar-benar membutuhkan.

Terima kasih untuk beliau yang mengajarkan saya arti ketulusan. Arti berbuat baik yang sebenarnya dan arti kebahagiaan karena berbagi. Semoga lekas sembuh. Semua orang yang menyayangimu tentu berharap engkau bisa pulih seperti sedia kala.We love you

Tidak ada komentar:

Designed By