![]() |
| infoparlement.com |
2014 disebut tahun politik. Sebenarnya saya paling males bahas politik. Apalagi jika harus berkaitan dengan pencitraan para calon politikus. Beuh, rasanya mules pengennya bolak-balik toilet terus. Menurut Dosen Filsafat saya, sebenarnya, politik itu bermakna luas, bukan hanya berhubungan dengan para politikus saja. Menurut beliau, pada dasarnya, politik menjadi bagian dari kehidupan kita. Untuk setia hal yang kita lakukan, pasti mengandung nilai 'politik'. Ya, mungkin juga. Apakah termasuk saat seseorang berusaha mengambil perhatian orang lain disebut politik? Hahaha... bisa jadi, bisa jadi. Politik hati mungkin namanya. #aiisshhh....
Menjelang siang, saya sudah siap pergi. Hilda, teman saya sudah menunggu di Sevel karena kami berjanji untuk pergi ke Roxy. Setelah saya kehilangan sesuatu, saya memutuskan mencari penggantinya yang baru. Mungkin, buat kalian yang mau baca kisahnya seperti apa, klik disini. Nah, si mbak tetangga saya lagi duduk-duduk di teras depan. Seperti biasa, kami bertegur sapa. Saya menyunggingkan senyum termanis. Hehe... Si mbak itu bilang, "Lia, kamu gak bisa jalan. Jalannya ditutup karena lagi ada pengajian. Kalau mau juga harus lewat gang sono dan itu jauh banget."
What? Ditutup karena ada pengajian? Sejak kapan orang yang ngaji mengganggu fasilitas umum? Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih untuk info ter-update-nya. Tentanggaku ini memang baik-baik. Itulah mengapa saya belum siap untuk pindah. Ditambah, anak kecil yang unyu-unyu yang sering manggil kalau saya baru pulang atau saat saya keluar kos. Itu tuh, rasanya seneng banget bisa dadah-dahah-an sama mereka. Aihihi... lucu banget deh.
Lalu, saya berjalan keluar. Suara orang mengaji terdengar semakin jelas. Sekitar 500 meter setelah itu, jalan yang biasa dipakai untuk lalu-lalang kendaraan, ditutup total. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjubel sedang duduk 'tanpa merasa berdosa' melafadzkan ayat Allah tanpa berpikir banyak pihak yang dirugikan, termasuk saya. :(
Mungkin, itu bisa saya toleransi, jika hanya sekedar pengajian. Kalian tahu ada apa sebenarnya? Pengajaian yang mengganggu ketenangan umum itu ternyata ada embel-embelnya. Seorang kameraman dan reporter dari Palmerah TV sedang nge-shoot beberapa bapak-bapak berkoko dan peci, beroasi dan berkata dengan lantang, "Kami mendukung Haji (tuutt.. sensor). Kami siap mendukungnya. Kami semua mendukung Haji ... dengan tekad yang bulat."
Tangan bapak-bapak itu mengepal sambil diacungkan keatas. Persis seperti adegang para demonstran yang sedang meminta harga BBm diturunkan. Sementara para ibu, duduk anteng mengaji.
Ak rpikir, walaupun ditutup, tentu ada celah jalan untuk menyelipkan diri. Ternyata, 'dipagar' dan tak seorangpun yang 'non-pengaji' bisa lewat. Hadeuh, Indonesia sudah semakin parah. Belum juga jadi Wakil Rakyat, sudah merepotkan banyak pihak dan mengganggu kepentingan umum. Jujur, Wakil Rakyat model begini nih yang gak perlu dipilih. Ckckck... #ngelusdada
Karena hak saya berjalan dirampas, saya pun gak mungkin demo karena hal semacam ini, maka saya memilih untuk lewat gang sempit ke arah kanan, gang yang tidak pernah saya lewati sebelumnya. Untuk mencari jalan keluar saja, saya kesulitan. Banyak gang-gang yang membingungkan. Akhirnya, saya ikuti saja jalan yang ukurannya cukup lebar. Muter-muter gak jelas dan ketemua sama gang keluar. Saya mencoba mengingat dimana tempat ini. Akh, ternyata di depan gang kampung Haji Sholeh. Tempat yang lumayan jauh dari kos saya.
Hilda dengan sabar nunggu, akhirnya kami langsung berangkat ke Roxy. Di jalan, saya tidak habis-habisnya mengoceh karena kesal dengan kejadian tadi. Hilda ikut-ikutan 'mengompori' sangat nyambung saya ajak bicara. Memang gak habis pikir sama Caleg jaman sekarang. Walau tidak semuanya, tapi sebagian besar aneh bin ajaib. Huaahhh...Gak perlu saya jelaskan satusatu. Kalian tentu tahu seperti apa tingkah aneh para Caleg yang sok sensasional itu.
Sebenarnya percuma juga saya berbicara panjang lebar di blog tentang kekecewaan pada orang-orang sejenis pak Haji yang mengganggu jalan umum tersebut. Toh dia juga gak mungkin tahu. Ya, setidaknya, disini kita bisa sama-sama belajar; siapa tahu diantara kalian ada yang berniat jadi Caleg nantinya. Nah, jangan pernah melakukan hal yang sama dengan pak Haji tersebut ya! Nanti bakal ada orang sejenis saya yang bakal ngedumel kayak gini. Kan kampanye atau menarik massa untuk memperoleh dukungan bisa dilakukan di tempat yang jauh lebih 'layak' tanpa mengganggu, bahkan merugikan orang lain. Bisa di Majlis Ta'lim (kalau memang sambil pengajian dan Yasinan), di lapangan (kalau memang mau orasi) atau kalau perlu di Gedung pertemuan biar lebih berkelas. Dimanapun itu sah-sah saya, selama tidak mengganggu orang lain, apalagi menghalangi jalan umum. Lu kata itu jalan milik nenek moyang lu?
Cukup segitu saja mungkin. Saya lumayan capek. Besok, kalau sempat dan tidak malas, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya dengan Moshola-Mushola di Pusat Perbelanjaan. Mina-san, Oyasuminasai. It's time to Zzz.. Zzz..Zzzz...
(Lagi rada-rada melow dikit... Hehehe...)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar