![]() |
| Blogspot.com |
Mengebet lembar demi lembar dirimu. Membaca ulang, lagi dan lagi. Belum juga aku mengerti makna goresan yang kauurai. Putih lembarmu, berubah menjadi coretan berwarna yang membuat aku berusaha tuk terus mengerti. Dimana kau mulai sebuah cerita? Sampai mana cerita kau akhiri? Awalkah, atau akhir kisahmu yang kini kupelajari? Beberapa lembarmu telah kau sobek. Ada cerita yang tak bisa kubaca; atau mungkin sengaja kau hilangkan keberadaannya, agar tak kubaca kau secara utuh. Lalu, seperti apa dirimu layak kumaknai?
***
"Akulah bayang yang tak mungkin menjelma menjadi makhluk serupa dirimu," katamu saat kujumpai kau malam itu.
Hanya senyum yang kusunggingkan. Kau seolah meragu pada nuraniku. Mungkin karena kau tak tahu, bahwa aku pernah mencintai angin sebelum kau tunjukan dirimu sebagai bayang. Tidakkah kau lebih nyata dari sekedar angin? Ya, wujudmu tak tampak, tapi aku masih sanggup melihatmu dalam bentuk bayang hitam ketika temaram itu memantulkan percikan cahayanya dikegelapan.
Kau jauh lebih ada dari sekedar angin, sungguh. Aku menjabarkan rasaku sebagai cinta murni pada angin yang tak pernah kuketahui wujudnya. Ia ada hanya dalam pencitraan jiwa saja. Ia kubentuk dari angan. Ia hidup dari setiap hembusannya yang menyejukan. Aku terbuai oleh hawa yang kerap menemaniku dalam kesendirian. Ia menawarkan udara yang menetramkan. Hingga kujabarkan itu cinta.
Mereka menertawakan keputusanku untuk mencintai angin. Angin yang tak berwujud, hanya cerita maya yang akan lenyap dengan sendirinya, kata mereka dengan cibiran yang tak berhenti ditujukan padaku. Mereka menganggap aku konyol. Aku biarkan kata mereka. Peduli apa aku padanya? Ini hidupku, jalan yang tak sedikitpun membutuhkan mereka dalam setiap keputusan yang kuambil.
Tahun berganti, aku masih menautkan rasa pada angin yang setia menemaniku kemanapun aku pergi. Membagi setiap kisah yang ia bawa dari berbagai belahan bumi. Mendongeng tentang anak kecil yang merindukan dekapan bunda, tentang orang-ornag yang kelaparan, tentang polusi dan segala jenis kasus yang ada di bumi. Dongeng yang membuai hingga aku terlelap. Lalu ia pergi meninggalkan aku, saat aku mulai bergelut dengan mimpi indah.
Tahukah kau setelah aku tak sanggup hidup tanpa angin? Setelah aku abdikan rasaku pada angin yang menjelma menjadi malaikat yang tak bisa kulewatkan seharipun tanpa berpikir tentangnya? Ia berubah dalam kengerian yang memporakporandakan aku dan segala hal yang kupunya. Ia menghancurkan setiap hal yang ada dalam genggamanku. Bahkan ia tega melempar aku sejauh mungkin dari tempat asalku. Hingga aku tersesat pada kehidupan asing yang tak kukenal. Tempat yang tak kukehendaki menjadi bagian hidupku. Dan, aku patah hati. Patah hati karena angin meninggalkan aku begitu saja setelah aku berharap banyak pada kehadirannya. Semua orang mendengar kabar patah hatiku. Anginlah yang menebar berita duka tentangku, sementara ia bertutur pada mereka dengan bangga telah menghancurkan aku sebagai sosok wakhluk yang berwujud. Ia melenyapkan aku dengan caranya. Mereka berucap syukur karena menurutnya aku telah kembali menjadi aku yang dulu. Mereka mengutuki angin yang telah menyesatkan aku seperti ini. Walau tak sedikit dari mereka menertawakan aku yang tengah berduka.
Aku tak peduli. Yang aku ingin hanyalah pulang. Maka aku tinggalkan tempat ini dan berjalan. Berjalan kemanapun aku mau, hingga tanda-tanda kehidupan kembali menyambutku.
***
Aku berjalan sendiri tanpa peduli siang-malam, mengabaikan sapaan orang asing yang bergantian datang. Ada yang mengajakku rehat sejenak di rumahnya, menawarkan air minum, menyuguhkan aku makanan lezat, atau hanya sekedar mengajakku bersalaman. Aku anggap mereka tak ada. Aku terus berjalan hingga waktu mempertemukan kita di malam itu. Kau menyapaku saat aku berteduh di bawah sebuah pohon, ketika hujan mengguyur jalanan tiba-tiba. Aku mencari sosokmu, namun hanya bayangan hitam yang tampak.
Kau mengajakku berteman. Lalu kau bercerita tentang malam dan siang. Kau bercerita tentang apa saja yang perlu aku dengar. Bahkan aku melupakan tujuanku berjalan, yaitu untuk pulang. Pulang untuk menemukan kembali tempat tinggalku yang hilang.
Kau tunjukan padaku sebuah buku usang. Itulah dirimu, katamu.
"Pelajarilah, maka kau akan tahu aku," ucapmu dengan suara datar.
Maka kuhabiskan hariku untuk membaca. Memahami setiap baris kalimat yang kau susun. Tapi tetap kau tak kukenali sebagaimana dirimu yang aku anggap ada. Ada lembar-lembar yang kau sobek, dan aku tak mampu memaknai kau seperti apa. Aku bertanya, kau hanya diam. Lalu aku berdiri, bertanya untuk terakhir kalinya dengan tekanan suara yang lebih tinggi dari semula, "hei, sebenarnya kau siapa?"
"Hahahaha..."
Ya, kau hanya tertawa setelah berpuluh kali kau saksikan aku mengerutkan kening seperti ini.
"Akulah bayang yang tak mungkin menjelma menjadi makhluk serupa dirimu," katamu saat kujumpai kau malam itu.
Hanya senyum yang kusunggingkan. Kau seolah meragu pada nuraniku. Mungkin karena kau tak tahu, bahwa aku pernah mencintai angin sebelum kau tunjukan dirimu sebagai bayang. Tidakkah kau lebih nyata dari sekedar angin? Ya, wujudmu tak tampak, tapi aku masih sanggup melihatmu dalam bentuk bayang hitam ketika temaram itu memantulkan percikan cahayanya dikegelapan.
Kau jauh lebih ada dari sekedar angin, sungguh. Aku menjabarkan rasaku sebagai cinta murni pada angin yang tak pernah kuketahui wujudnya. Ia ada hanya dalam pencitraan jiwa saja. Ia kubentuk dari angan. Ia hidup dari setiap hembusannya yang menyejukan. Aku terbuai oleh hawa yang kerap menemaniku dalam kesendirian. Ia menawarkan udara yang menetramkan. Hingga kujabarkan itu cinta.
Mereka menertawakan keputusanku untuk mencintai angin. Angin yang tak berwujud, hanya cerita maya yang akan lenyap dengan sendirinya, kata mereka dengan cibiran yang tak berhenti ditujukan padaku. Mereka menganggap aku konyol. Aku biarkan kata mereka. Peduli apa aku padanya? Ini hidupku, jalan yang tak sedikitpun membutuhkan mereka dalam setiap keputusan yang kuambil.
Tahun berganti, aku masih menautkan rasa pada angin yang setia menemaniku kemanapun aku pergi. Membagi setiap kisah yang ia bawa dari berbagai belahan bumi. Mendongeng tentang anak kecil yang merindukan dekapan bunda, tentang orang-ornag yang kelaparan, tentang polusi dan segala jenis kasus yang ada di bumi. Dongeng yang membuai hingga aku terlelap. Lalu ia pergi meninggalkan aku, saat aku mulai bergelut dengan mimpi indah.
Tahukah kau setelah aku tak sanggup hidup tanpa angin? Setelah aku abdikan rasaku pada angin yang menjelma menjadi malaikat yang tak bisa kulewatkan seharipun tanpa berpikir tentangnya? Ia berubah dalam kengerian yang memporakporandakan aku dan segala hal yang kupunya. Ia menghancurkan setiap hal yang ada dalam genggamanku. Bahkan ia tega melempar aku sejauh mungkin dari tempat asalku. Hingga aku tersesat pada kehidupan asing yang tak kukenal. Tempat yang tak kukehendaki menjadi bagian hidupku. Dan, aku patah hati. Patah hati karena angin meninggalkan aku begitu saja setelah aku berharap banyak pada kehadirannya. Semua orang mendengar kabar patah hatiku. Anginlah yang menebar berita duka tentangku, sementara ia bertutur pada mereka dengan bangga telah menghancurkan aku sebagai sosok wakhluk yang berwujud. Ia melenyapkan aku dengan caranya. Mereka berucap syukur karena menurutnya aku telah kembali menjadi aku yang dulu. Mereka mengutuki angin yang telah menyesatkan aku seperti ini. Walau tak sedikit dari mereka menertawakan aku yang tengah berduka.
Aku tak peduli. Yang aku ingin hanyalah pulang. Maka aku tinggalkan tempat ini dan berjalan. Berjalan kemanapun aku mau, hingga tanda-tanda kehidupan kembali menyambutku.
***
Aku berjalan sendiri tanpa peduli siang-malam, mengabaikan sapaan orang asing yang bergantian datang. Ada yang mengajakku rehat sejenak di rumahnya, menawarkan air minum, menyuguhkan aku makanan lezat, atau hanya sekedar mengajakku bersalaman. Aku anggap mereka tak ada. Aku terus berjalan hingga waktu mempertemukan kita di malam itu. Kau menyapaku saat aku berteduh di bawah sebuah pohon, ketika hujan mengguyur jalanan tiba-tiba. Aku mencari sosokmu, namun hanya bayangan hitam yang tampak.
Kau mengajakku berteman. Lalu kau bercerita tentang malam dan siang. Kau bercerita tentang apa saja yang perlu aku dengar. Bahkan aku melupakan tujuanku berjalan, yaitu untuk pulang. Pulang untuk menemukan kembali tempat tinggalku yang hilang.
Kau tunjukan padaku sebuah buku usang. Itulah dirimu, katamu.
"Pelajarilah, maka kau akan tahu aku," ucapmu dengan suara datar.
Maka kuhabiskan hariku untuk membaca. Memahami setiap baris kalimat yang kau susun. Tapi tetap kau tak kukenali sebagaimana dirimu yang aku anggap ada. Ada lembar-lembar yang kau sobek, dan aku tak mampu memaknai kau seperti apa. Aku bertanya, kau hanya diam. Lalu aku berdiri, bertanya untuk terakhir kalinya dengan tekanan suara yang lebih tinggi dari semula, "hei, sebenarnya kau siapa?"
"Hahahaha..."
Ya, kau hanya tertawa setelah berpuluh kali kau saksikan aku mengerutkan kening seperti ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar