Breaking News

Kamis, 20 Maret 2014

Fajar pun Bercerita




Merindukan kebersamaan yang usang, aku kehilangan. Mengingat kebersamaan masa silam, aku tenggelam. Sudah kucukupkan angin berhembus pada alur lalu. Menebar aroma kematian dalam semerbak wangi bunga. Akal berdiam di satu sisi; langkah terasa mati, aku terpatri. Semu itu membuka wacana baru tentang cinta lama yang kututupi keberadaanya. Membiarkan ia bersarang rapi di naluriku. Cukup aku yang tahu, atau mingkin berharap kamu masih menyadarinya. Fajar, aku masih ada untuk cerita kita. Pada nostalgia yang hidup nyata di jiwa.

 Rasa yang kuendapkan memaksa untuk diungkapkan kepermukaan. Dan kamu kembali datang setelah lama tak kutemukan. Bertahun-tahun merantau, untuk cita-citamu menyandang gelar Sarjana. Kini aku menagih kesetiaan yang aku selamatkan.

***
 Aku memarkirkan motor. Bermaksud menikmati makan malam di warung seafood pinggir jalan. Fajar? Aku terkejut. Malam ini aku melihatmu, pertemuan yang tak direncanakan. Gelak tawa hiasi kebersamaanmu dengan teman-teman.

“Fajar? Ya ampun, aku dengar kabar kamu udah pulang. Gak nyangka yabisa ketemu kamu disini. Kamu apa kabar?”

Kamu melirik ke arahku, “Asri? Udah. Baik. Apa kabar?”Datar kau menyikapiku.

Temanmu menyuruhku duduk diantara kalian. Aku tahu, aku tak sepopuler dirimu dulu. Tak semua orang mengenalku di SMA, kecuali teman-teman yang pernah sekelas denganku. Keadaan yang bertolak belakang denganmu bukan?

Menu sudah aku pesan. Kamupun mulai menyantap makanan. Udang saus tiram dan cumi goreng tepung dengan nasi dan segelas jeruk hangat. Obrolan ringan itu mulai mewarna pertemuan kita. Kamu lebih banyak diam. Entah, apa yang membuatmu tetap bungkam. Mungkin karena kehadiranku yang membuatmu merasa tidak nyaman? Bisa saja!

“Eh, kalian dulu pernah pacaran, kan?” Temanmu melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba. Beberapa yang lainnya, mengarahkan padangan padaku. Aku hanya diam menutupi malu.

“Gak kok. Apaan sih? Udah ah, jangan bahas masa lalu.”

Tidak jawabmu? Ingin rasanya mengguncangakan tubuhmu, mengingatkanmu bahwa aku adalah perempuan pertama yang pernah menjadi pacarmu. Orang yang mampu membuatmu memberanikan diri mengungkapkan kata cinta. Bahkan, aku orang yang kamu datangi untuk berpamitan, sebelum kamu pergi menjemput impian. Sudahkah kau lupa akan hal itu, Jar?

Hambar, seketika aku kehilangan selera makan. Mengawali purnama dengan kecewa, aku pulang. Kamupun pulang tanpa memberikan kesan. Kita berpisah tanpa ucapan atau sekedar senyuman. Aku tancapkan gas menuju tempat perenungan. Disinilah aku lepaskan gelisah. Pantai Pasir putih empat tahun silam, masih kujadikan sandaran untuk berdiam. Karena disini, awal kita mengukir tali kasih. Pantai yang kini bernama Florida Indah yang terletak di Ciparay; kawasan pantai Anyer, menyeruak kisah-kisah usang yang meledak menjadi cerita muda.

Datanglah malam pada siang yang congkang dengan keangkuhan cahaya. Aku ingin, hening dalam kilau rembulan yang teduh  menyinari malam. Walau tak seberani terangnya siang, rembulan selalu tampak indah untuk kurenungi.

Menggenggam nyeriku diperaduan waktu, menyalami tetesan air mata ketika cinta yang masih hidup harus dikubur oleh pengakuan yang tak sedikitpun mengarah pada kisah yang pernah ada. Haruskah kubuang semua yang kusimpan rapi selama lebih dari empat tahun ini? Aku pernah meminta kita berpisah, tapi tidak hatiku. Harusnya saat itu kamu meyakinkan aku bahwa penantianku tak sia-sia. Kamu akan kembali pada cintaku setelah cita-citamu tercapai. Bukan mengabaikan aku, membiarkan aku menangisi kepergianmu tanpa permisi. Tak ada penjelasan, tak ada hal lebih yang kamu lakukan selain mengabaikan aku yang enggan berpisah. Lalu aku, mencoba menyelematkan kisah dengan kesetiaan. Aku tak ingin, ada nama baru yang menggantikanmu. Aku hanya ingin menegaskan, aku masih setia padamu!

Gazebo ini, menjadi teman yang hangat untuk perenungan. Tak seorangpun yang menggangguku dikesendirian. Tiba-tiba kamu datang. Siapa yang mengundangmu, Fajar? Aku hanya diam, ketika aroma parfummu mampir di hidungku. Deru ombak begitu pasang. Hempasan angin pantai menerpa wajahku tajam.

“Untuk apa kamu datang?”

“Hanya memastikan, bahwa masih ada orang yang tetap hanyut pada nostalgianya. Sih, apa kamu masih menungguku?”

Aku mengangguk tanpa menoleh padamu. Aku merasakan firasat yang buruk kali ini.

“Untuk apa menungguku? Empat tahun, kamu sia-siakan waktu untuk penantian? Haha… sementara, kamu tak memperbaiki kesalahan.”

Belum sempat aku menjawab, kamu melanjutkan pembicaraan, “Sih, berhentilah menunggu! Dulu, aku masih sempat berharap, ada kisah lanjutan setelah kamu memintaku mengakhiri hubungan kita. Tapi, ternyata kamu tak melakukan apa-apa. Kamu hanya diam. Dan diammu kuanggap sebuah keputusan. Keputusan yang mengharuskan kita untuk tidak sama-sama lagi.”

“Harusnya kamu gak pergi gitu, aja, Jar! Kamu juga harus tahu, aku gak mungkin pacaran sama orang lain. Kamu harus meyakinkan aku, bahwa kamu pasti kembali dengan cinta yang sama-sama kita jaga.”

“Kamu tahu, aku tak pernah main-main dengan perasaan. Kamu pasti sadar, aku setia selama itu. Oya, aku harus tegaskan! Aku bukan paranormal yang bisa baca pikiran kamu. Aku perlu tindakan, setidaknya ucapan sebagai bukti. Tapi, apa yang kamu lakukan? Gak ada, Asih!” Kamu menghela nafas. Sorot mata tajam kau arahkan pada biru laut membentang. Purnama itu, kini mencapai bulatan yang sempurna. Kita hanya diam. Nyiur meliuk perlahan saat angin menggoyangkan tubuhnya.

“Aku baru tahu kamu masih menungguku, setelah aku bertunangan!” Lirih kamu berucap. Ada sengatan yang menyayat saat getaran suara itu kau utarakan.

Fajar, detak nafasku masih mengisahkan tali kasih kita. Aku belum lepas dari ikatan ini. Hari ini, sebuah kenyataan kuhadapi, kamu telah memilih seseorang sebagai bagian dari masa depanmu kelak? Lalu aku, bagaimana aku harus memulai hidup? Aku tak menemukan sisi lain diri selain kesetiaan utuh ini. Inikah cara Tuhan mempertemukan kita? Inikah berita yang ingin Tuhan sampaikan? Ah, betapa konyolnya aku meneteskan air mata di hadapanmu, Fajar. Aku ingin menagih setia yang kuselamatkan dari teror waktu, Jar.

“Berhentilah menangis, Sih! Aku mengikutimu kesini, karena aku ingin mememintamu untuk berhenti menungguku! Orang yang kamu tunggu tak akan kembali. Sih, aku pamit pulang! Biarkan aku pergi, sebagai orang yang tak tahu tentang perasaanmu. Aku akan berusaha tak peduli padamu. Selamat malam.” Kamu bangkit, menepuk pundakku dengan helaan nafas yang berat. Ada nyeri yang kau bawa bersama langkahmu yang menjauh. Fajar, kamu biarkan aku sendiri? Inikah akhir cerita kita?*
blogspot.com


Dimuat di Radar Banten, Edisi 1 Desember 2013






















Tidak ada komentar:

Designed By