Merindukan
kebersamaan yang usang, aku kehilangan. Mengingat kebersamaan masa silam, aku
tenggelam. Sudah kucukupkan angin berhembus pada alur lalu. Menebar aroma
kematian dalam semerbak wangi bunga. Akal berdiam di satu sisi; langkah terasa
mati, aku terpatri. Semu itu membuka wacana baru tentang cinta lama yang
kututupi keberadaanya. Membiarkan ia bersarang rapi di naluriku. Cukup aku yang
tahu, atau mingkin berharap kamu masih menyadarinya. Fajar, aku masih ada
untuk cerita kita. Pada nostalgia yang hidup nyata di jiwa.
Rasa yang kuendapkan memaksa untuk
diungkapkan kepermukaan. Dan kamu kembali datang setelah lama tak kutemukan.
Bertahun-tahun merantau, untuk cita-citamu
menyandang gelar Sarjana. Kini aku menagih kesetiaan yang aku selamatkan.
***
Aku memarkirkan motor. Bermaksud menikmati
makan malam di warung seafood pinggir jalan. Fajar? Aku terkejut. Malam ini aku melihatmu, pertemuan yang tak direncanakan.
Gelak tawa hiasi kebersamaanmu dengan teman-teman.
“Fajar? Ya
ampun, aku dengar kabar kamu udah pulang. Gak nyangka yabisa ketemu kamu
disini. Kamu apa kabar?”
Kamu melirik
ke arahku, “Asri? Udah. Baik. Apa kabar?”Datar kau menyikapiku.
Temanmu
menyuruhku duduk diantara kalian. Aku tahu, aku tak sepopuler dirimu
dulu. Tak semua orang mengenalku di SMA, kecuali teman-teman
yang pernah sekelas denganku. Keadaan yang bertolak belakang denganmu bukan?
Menu sudah
aku pesan. Kamupun mulai menyantap makanan. Udang saus tiram dan cumi goreng
tepung dengan nasi dan segelas jeruk hangat. Obrolan ringan itu mulai mewarna
pertemuan kita. Kamu lebih banyak diam. Entah, apa yang
membuatmu tetap bungkam. Mungkin karena kehadiranku yang membuatmu merasa tidak
nyaman? Bisa saja!
“Eh, kalian
dulu pernah pacaran, kan?” Temanmu melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba. Beberapa
yang lainnya, mengarahkan padangan padaku. Aku hanya diam menutupi malu.
“Gak kok.
Apaan sih? Udah ah, jangan bahas masa lalu.”
Tidak
jawabmu? Ingin rasanya mengguncangakan tubuhmu, mengingatkanmu bahwa aku adalah
perempuan pertama yang pernah menjadi pacarmu. Orang yang mampu membuatmu
memberanikan diri mengungkapkan kata cinta. Bahkan, aku orang yang kamu datangi
untuk berpamitan, sebelum kamu pergi menjemput impian. Sudahkah kau lupa akan hal itu, Jar?
Hambar,
seketika aku kehilangan selera makan. Mengawali purnama dengan kecewa, aku
pulang. Kamupun pulang tanpa memberikan kesan. Kita berpisah tanpa ucapan atau sekedar senyuman. Aku tancapkan gas menuju tempat
perenungan. Disinilah aku lepaskan gelisah. Pantai Pasir putih empat tahun
silam, masih kujadikan sandaran untuk berdiam. Karena disini, awal kita mengukir
tali kasih. Pantai yang kini bernama Florida Indah yang terletak di Ciparay;
kawasan pantai Anyer, menyeruak kisah-kisah usang yang meledak menjadi cerita
muda.
Datanglah
malam pada siang yang congkang dengan keangkuhan cahaya. Aku ingin, hening dalam
kilau rembulan yang teduh menyinari
malam. Walau tak seberani terangnya siang, rembulan selalu tampak indah untuk
kurenungi.
Menggenggam nyeriku
diperaduan waktu, menyalami tetesan air mata ketika cinta yang masih hidup
harus dikubur oleh pengakuan yang tak sedikitpun mengarah pada kisah yang
pernah ada. Haruskah kubuang semua yang kusimpan rapi selama lebih dari empat
tahun ini? Aku pernah meminta kita berpisah, tapi tidak hatiku. Harusnya saat
itu kamu meyakinkan aku bahwa penantianku tak sia-sia. Kamu akan kembali pada
cintaku setelah cita-citamu tercapai. Bukan mengabaikan aku, membiarkan aku
menangisi kepergianmu tanpa permisi. Tak ada penjelasan, tak ada hal lebih yang
kamu lakukan selain mengabaikan aku yang enggan berpisah. Lalu aku, mencoba
menyelematkan kisah dengan kesetiaan. Aku tak ingin, ada nama baru yang
menggantikanmu. Aku hanya ingin menegaskan, aku masih setia padamu!
Gazebo ini, menjadi
teman yang hangat untuk perenungan. Tak seorangpun yang menggangguku
dikesendirian. Tiba-tiba kamu datang. Siapa yang mengundangmu, Fajar? Aku hanya
diam, ketika aroma parfummu mampir di hidungku. Deru ombak begitu pasang.
Hempasan angin pantai menerpa wajahku tajam.
“Untuk apa kamu datang?”
“Hanya memastikan, bahwa
masih ada orang yang tetap hanyut pada nostalgianya. Sih, apa kamu masih
menungguku?”
Aku mengangguk tanpa
menoleh padamu. Aku merasakan firasat yang buruk kali ini.
“Untuk apa menungguku?
Empat tahun, kamu sia-siakan waktu untuk penantian? Haha… sementara, kamu tak
memperbaiki kesalahan.”
Belum sempat aku
menjawab, kamu melanjutkan pembicaraan, “Sih, berhentilah menunggu! Dulu, aku
masih sempat berharap, ada kisah lanjutan setelah kamu memintaku mengakhiri
hubungan kita. Tapi, ternyata kamu tak melakukan apa-apa. Kamu hanya diam. Dan diammu kuanggap sebuah keputusan. Keputusan yang mengharuskan kita untuk tidak sama-sama lagi.”
“Harusnya kamu gak pergi
gitu, aja, Jar! Kamu juga harus tahu, aku gak mungkin pacaran sama orang lain.
Kamu harus meyakinkan aku, bahwa kamu pasti kembali dengan cinta yang sama-sama
kita jaga.”
“Kamu tahu, aku tak
pernah main-main dengan perasaan. Kamu pasti sadar, aku setia selama itu. Oya,
aku harus tegaskan! Aku bukan paranormal yang bisa baca pikiran kamu. Aku perlu
tindakan, setidaknya ucapan sebagai bukti. Tapi, apa yang kamu lakukan?
Gak ada, Asih!” Kamu menghela nafas. Sorot mata tajam kau arahkan pada biru
laut membentang. Purnama itu, kini mencapai bulatan yang sempurna. Kita hanya
diam. Nyiur meliuk perlahan saat angin menggoyangkan tubuhnya.
“Aku baru tahu kamu
masih menungguku, setelah aku bertunangan!” Lirih kamu berucap. Ada sengatan
yang menyayat saat getaran suara itu kau utarakan.
Fajar, detak nafasku masih mengisahkan tali kasih kita. Aku
belum lepas dari ikatan ini. Hari ini, sebuah kenyataan kuhadapi, kamu telah
memilih seseorang sebagai bagian dari masa depanmu kelak? Lalu aku, bagaimana
aku harus memulai hidup? Aku tak menemukan sisi lain diri selain kesetiaan utuh
ini. Inikah cara Tuhan mempertemukan kita? Inikah berita yang ingin Tuhan
sampaikan? Ah, betapa konyolnya aku meneteskan air mata di hadapanmu, Fajar. Aku ingin menagih setia yang kuselamatkan dari teror waktu, Jar.
“Berhentilah menangis,
Sih! Aku mengikutimu kesini, karena aku ingin mememintamu untuk berhenti
menungguku! Orang yang kamu tunggu tak akan kembali. Sih, aku pamit pulang!
Biarkan aku pergi, sebagai orang yang tak tahu tentang perasaanmu. Aku akan
berusaha tak peduli padamu. Selamat malam.” Kamu bangkit, menepuk pundakku
dengan helaan nafas yang berat. Ada nyeri yang kau bawa bersama langkahmu yang
menjauh. Fajar, kamu biarkan aku sendiri? Inikah akhir cerita kita?*
Dimuat di Radar Banten,
Edisi 1 Desember 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar