Breaking News

Jumat, 07 Maret 2014

Equality for women is progress for all (Happy Women's Day)

google.com
google.com
"Equality for women is progress for all!" adalah tema yang diambil PBB untuk memperingati hari Perempuan Internasional tahun 2014.

Malam, kusapa engkau dengan kabar. Tentang mereka, tentang kita atau mungkin tentang aku yang berada diantara mereka. Sore hari, panas tak terlalu menyengat kulit, aku menuju halte busway Slipi Kemanggisan. Ada refleksi dan doa bersama menjelang hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2014 besok. Acara yang diselenggarakan oleh Komite Aksi Perempuan (KAP) yang melibatkan beberapa lembaga-lembaga perempuan seperti Perempuan Mahardhika, PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), CWGI (Cedaw Working Group Indonesia), Marsinah FM, AMAN Indonesia, Kohati UIN Ciputat, Jala PRT, KSPI, New Land Community (NLC), Aliansi Sovi, FSPSI Reformasi, Kalyanamitra, Keppak Perempuan, LBH APIK, Migran Care, Institut Perempuan, Mitra Imadei, Wanita Hamas Universitas Nasional, Magenta, Kapal Perempuan, AJI Jakarta ini, diselenggarakan di Bunderan HI.
google.com

Tentu saja, sebelum sampai di Bunderan HI aku harus melewati halte Semanggi dan berjalan ke Benhil. Jarak yang lumayan jauh dan benar-benar membuat aku kewalahan mengatur nafas. Beruntung, ini bukan rutinitas. Jika setiap hari harus berjalan sejauh ini, kupastikan aku akan langsing secara dadakan. Pukul 17.05, aku sampai di Bunderan HI. Saling menunggu rekan lain dan akhirnya kami mulai menyusun lilin yang berjumlah 300 lilin, membentuk lambang perempuan seperti ini. Sayangnya, angin terlalu kencang dan kami kerepotan untuk menyusun.

"Inilah gambaran perjuangan kita terhadap perempuan. Perjuangan yang memerlukan kesabaran," ucap seorang aktivis yang duduk di sampingku. Ia berkali-kali membenarkan posisi lilin yang miring. Aku tersenyum tanpa menjawab apapun. Ya, kuncinya adalah sabar. Seperti yang mbak Lita katakan, bahwa kita bekerja untuk sesuatu yang orang anggap 'kurang penting". Memperjuangkan hak PRT itu dianggap berita yang kurang 'seksi' yang tidak menguntungkan secara politik. Itulah mengapa, RUU PRT dan KILO 189 masih mandeg di DPR dan belum disahkan hingga saat ini.

Beberapa wartawan sudah datang. Mereka mulai menunggu acara dimulai. Polisi pun sudah berjaga-jaga setelah mendapatkan surat Ijin dari Polda Metro Jaya tentang aksi himbauan damai di Bunderan HI. Aku sendiri, sebagai perwakilan Jala, sudah menyimpan surat ijin itu, untuk berjaga-jaga jika Polisi menanyakannya lagi. Kebetulan, CEO dari Jala tidak bisa mengikuti acara hingga selesai karena beliau harus pergi ke Bintaro untuk menerima laporan tentang penyekapan PRT oleh sebuah Yayasan Penyalur PRT. Aku yang mewakili Jala sore tadi.

Sebelum Orasi dimulai, sebuah doa yang dipimpin oleh perwakilan dari Komnas Perempuan menjadi pembuka acara. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal. Aku seperti mengais kisah lalu tentang kehidupan buruh yang pernah aku jalani. Dari dalamnya aku membaca kisah dari keluh yang tak henti aku dengar sebagai cerita pagi atau cerita menjelang dini hari, saat jatah shift malam itu kujalani sebagai buruh pabrik 2009 silam. Betapa kami; karyawan kontrak perempuan yang sistem kerja outsourcing dan tidak mendapatkan hak cuti haid, tidak 'bisa' menikah sebelum menjadi karyawan tetap dan tidak bebas berserikat, mengeluhkan kebijakan yang condong pada ketidakadilan. Seolah karyawan kontrak tidak punya hak lebih selain berfungsi sebagai pekerja dan operator mesin saja.

Aku kerap mendengar keluhan itu dari teman-teman. Bahkan ada yang menunda menikah demi status karyawan tetap ia harapkan. Mungkin itu akan menjadi cerita yang baik jika saja setelah lebih dari lima tahun mendedikasikan diri untuk Pabrik yang ia harapkan bisa menjadi jaminan yang baik untuk masa depan. Nyatanya? Masih banyak dari mereka yang kusaksikan hanya menggigit jari setelah bertahun lamanya mengabdi, lalu pergi begitu saja setelah usia tidak produktif lagi. Adilkah ini? Banyak tangis yang diteteskan oleh mereka. Aku menyaksikan itu dengan rasa yang miris. Ya, mungkin aku hanya sebagian kecil yang tidak terlalu lurus pada jalur. Sebagai karyawan kontrak yang 'baru', aku sudah 'berani-berani-nya' bergabung dengan Sarikat Pekerja dan aktif terlibat di Organisasi Buruh Kabupaten Tangerang. Bahkan, pihak Management Pabrik 'mencatat' namaku yang saat itu satu-satunya karyawan kontrak perempuan yang bergabung di bidang Perempuan sarikat Buruh. Untuk perempuan lainnya, mereka sudah berstatus sebagai karyawan tetap. Padahal, di Pabrik saat itu ada dua Sarikat Pekerja dan karyawan kontrak dihimbau (lebih tepatnya: dipaksa) untuk bergabung dengan serikat pekerja yang didirikan Pabrik, jika ingin kontrak kerja diperpanjang. Aku bukan tipe orang yang cari aman jika idealisme sudah berbenturan dengan aturan. Ada rasa tidak rela untuk 'menghabmakan diri' pada aturan yang kurang sejalan. Kenapa harus takut? Jika memang aku harus keluar, aku keluar dengan cara terhormat. Setidaknya, aku berjuang untuk apa yang menjadi hakku.

***
Kulepas kisah masa lalu. Pikiranku kembali pada dunia yang kujalani kini. Orasi sudah dimulai. Tuntutan untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan adalah suara lantang yang ingin kami sampaikan.
"Dengan membela kaum yang didiskriminasi, justru kita telah mendisriminasi mereka," ucap Dosen filsafatku saat aku presentasi tentang Project akhir semester.

Lalu, pertanyaan muncul, jika memang 'pembelaan' dan perjuangan kita untuk membela kaum yang didiskriminasi adalah bentuk diskriminasi kita terhadap mereka, apa yang semestinya kita lakukan? Sementara mereka butuh pembela, butuh orang yang memperjuangkan hal-hal yang menjadi haknya. Ya, perempuan dalam hal ini berhak mendapatkan kesetaraan, jaminan kesehatan, perlakukan-perlakuan yang tidak dimonorduakan dan sudah seharusnya keberadaan perempuan dipertimbangkan. Budaya Patriarki sudah tidak seharusnya dipertahakan. Karena perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Ya, walaupun dalam kenyataannya, memang ada hal-hal yang tidak bisa perempuan lupakan, yaitu kodrat. Kodrat sebagai istri yang berimam pada suami dan seorang ibu yang melindungi anak-anaknya.

Untuk malam yang mulai meraja, biarkan aku tutup cerita tentang duka yang mengiris, tentang tangis yang belum pun sampai pada akhir tetesannya. Masih saja cerita duka itu mencipta luka yang tak bertemu penawarnya. Masih saja penyaksi itu menyuarakan ketidakadilan terhadap perempuan.  Saatnya perempuan bangkit, saatnya laki-laki membuka mata bahwa perempuan adalah bagian dari kehidupan mereka yang statusnya sama, bukan sekedar pelengkap. Happy Women's Day, 08 Maret 2014.

Perempuan masa kini adalah generasi Kartini yang tak terperangkap pada keterbatasan.
Antarafoto

Antarafoto


Tidak ada komentar:

Designed By