Breaking News

Minggu, 23 Maret 2014

Edisi Khusus Joko Pinurbo

Minggu malam, dihari terakhir ASEAN Literaty Festival yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki Yuli mengirim saya pesan, "Tolong fotoin Jokpin ya!" Jokpin, panggilan akrab untuk Joko Pinurbo. Seorang penulis Puisi dengan gaya penceritaannya begitu lucu dan menggelitik. Saya menyesal karena baru tahu nama Jokpin saat menghadiri ASEAN Literary Festival ini. Kemarin-kemarin, kemana aja bu? Ketauan banget kalau gua emang gak males baca. Hikkksss *Plakkk

Saya  mulai jatuh cinta pada karyanya Jokpin yang menghancurkan persepsi saya bahwa Puisi itu harus selalu 'berat'. Memahami puisi harus selalu mengernyitkan dahi, karena ada lapisan-lapisan makna yang terkandung dari setiap kata yang disampaikan pengaranya. Jokpin justru membuktikan pada saya bahwa Puisi bisa disampaikan dengan bahasa yang lebih ringan, menghibur, dan menyenangkan tanpa menghilangkan makna yang akan disampaikan. Untuk kalian yang belum terlalu akrab dengan nama Jokpin, silahkan klik link ini sekilas tentang Jokpin. Yang namanya sudah jatuh cinta, pastinya mulai kepo-kepo gitu kan? Nah, sayapun mulai kepoin Jokpin. Jadi, sebelum nge-grab karyanya di Toko buku, saya minta bantuan mbak google, dan taraaaa... muncul seabreg tentang Jokpin, termasuk karya-karyanya. Jokpin, aku padamu. Hahaha...

Saya tidak memiliki gambaran seperti apa seorang Jokpin saat MC mulai memanggil namanya. Penonton bersorak dan tepuk tangan meriah menyambut Jokpin. Pada akhirnya Jokpinpun muncul. Posturnya tidak terlalu tinggi, ia terlihat begitu lincah. Ia berjalan dengan tenang ke atas panggung. Rambutnya sudah ditumbuhi uban. Jokpin berdiri menebar pandangan pada penonton, dihadapannya sebuah mikrofon siap menggemakan suara lantang Jokpin, sementara di tangan kanannya menggenggam lembaran kertas. Ia mulai membacakan puisi pertamanya yang berjudul "Malam Pertama".

Malam Pertama

Malam pertama tidur bersamamu, aku terkenang
saat-saat manis bersama ibuku ketika dengan lembut
dan jenaka ia mengajariku mandi dan memakai celana
hingga kurasakan sentuhan ajaib tangan-tangan cinta
tanpa bisa kuucapkan terima kasih padanya
selain tersenyum dan tertawa.

Lalu ibu menjebloskanku ke sekolah. Bertahun-tahun
aku belajar bahasa yang baik dan benar hanya
untuk bisa mengucapkan cinta monyet dengan lugu
dan malu-malu tanpa menyadari bahayanya.
Setelah dewasa aku paham bagaimana menyatakan
cinta tanpa harus mengatakannya.

Kini aku harus menidurimu. Tubuhmu pelan-pelan
terbuka dan merebaklah bau masam dari ketiakmu.
Aku gugup. Tapi tak mungkin kupanggil almarhumah
ibuku untuk mengajariku membaca halaman-halaman
tubuhmu sebagaimana dulu dengan tekun dan sabar
ia mengajariku membaca kalimat-kalimat sederhana:
ini ibu budi; budi minum susu; ini susu ibu.

Malam pertama tidur bersamamu, buku, kulacak lagi
paragraf-paragraf cinta ibuku di rimba kata-katamu.

Apakah kata-kata mempunyai ibu?
Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa kata ibu.
Aku sering lupa dulu ibu suka berkata apa.
Aku gemetar. Tubuhmu makin cerdas dan berbahaya.
Ibukata, temanilah aku.

Penonton bersorak dan tertawa, termasuk saya. Jokpin membacakan puisi dengan wajah yang begitu flat, tak ada mimik berlebihan yang dia tunjukan, tapi dengan ekspresinya yang datar itu mampu membuat penonton tertawa. Hahaha... Belum selesai kelucuan yang Jokpin ciptakan malam itu, dia kembali membawakan sebuah puisi yang berjudul Toilet. Yang ketiga saya lupa judulnya apa, tapi yang terakhir Puisinya sangat mengena dan menyentuh. Puisinya berjudul Dengan Kata Lain.
Petikan terakhir dari Puisi yang berjudul "Dengan Kata Lain"
Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku: “Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu.”
Tontonan yang tidak membosankan. Walau berpuluh-puluh Puisi Jokpin ia bacakan malam itu, saya tidak akan merasa ngantuk. Sayakan akan terus melotot, menyimak dengan baik, dan bersikap manis. :D

Saya menyimpulkan bahwa apa yang Jokpin bawakan,  sederhana tapi luar biasa. Saya merasa beruntung karena hari Minggu kemarin saya bisa menghadiri acara penutupan ASEAN LF, walau sendirian. Rencana akan bertemu dengan Yuli, ternyata Yuli berhalangan hadir. Juju, Ana, dan Fiyan, ketiga Mahasiswa asal Depok sudah pulang lebih awal. Sementara itu, saya berdiri bersama beberapa ornag asing yang terlihat antusias menghadiri acara ini. Sebenarnya banyak cerita yang ingin saya sampaikan disini. Mulai dari kehilangan flash disk, gangguan listrik kereta, pulsa habis, nyasar sampai kehabisa stok buku yang sudah direncakan akan di beli hari ini.  

Huufttt..  udah nyiapin uang buat ngeborong buku-buku keren, eh keabisan. Sebel dan kecewa. Hmmm.. udahlah, mungkin hikmahnya biar saya gak boros. Apalagi, akhir bulan adalah masa-masa kritis perdompetan. Untuk ngobatin kecewa, saya yakinin diri sendiri dan bilang, "yang penting, 'Kei' sudah di tangan. Bacaan lain bisa diubek di Gramedia nanti. Udah takdir, Lia. Sabar, sabar!"

Saya pulang setelah seorang penyair dari Filipina selesai membacakan puisinya dengan bahasa Tagalog dan juga translate dalam bahasa Inggris. Saya pulang, berjalan dari TIM ke halte Mandiri menunggu kopaja arah Tanah Abang. Dari Tanah Abang saya naik angkot M11 arah Kebon Jeruk dan berhenti di dekat kampus. Talaga! :D

pertemuan ajaib with Juju


Jokpin









Tidak ada komentar:

Designed By