![]() |
| facebook.com |
Sebelum dimulai, sila klik link disini Mandarin dan Jepang. Jepang dan Mandarin adalah dua bahasa yang sedang saya pelajari. Sebelumnya saya memilih Jepang dan Arab. Karena Arab peminatnya hanya beberapa saja, maka kelas tidak dibuka. Padahal, kalau ada kelas Arab, itu membantu saya untuk mengingat kembali bahasa yang pernah saya pelajari di madrasah dulu. Bisa baca tapi gak ngerti arti itu sesuatu banget. Sedih. :(
"Sumpah, gue mending belajar Arab tau daripada Mandarin. Pusing kepala gue," kata temanku yang super religi di kelas.
"Gue juga pengennya Arab," balasku.
"Arab lebih gampang tau daripada Mandarin," tambahnya.
"Yaudahlah, takdir," itulah kalimat ampuh kami saat tidak bisa lagi meneruskan arah pembicaraan. Takdir saat kami ternyata sekelas lagi di semester ini. Takdir saat harus bertemu dengan Dosen yang yang berbeda, takdir saat harus melahap Mandarin dan semuanya memang takdir. :D
Ya, mungkin saja. Aku belum bisa menyimpulkan gampang tidaknya sebuah pelajaran apabila belum terlibat langsung. Mungkin yang harus dirubah bukan pelajaran apa yang kita pelajari, tapi cara pandang kita. Apapun pelajarannya, suka atau tidak, mengerti atau tidak, kita harus fokus belajar sampai kita benar-benar mengerti apa yang kita pelajari tersebut. (Wow, bahasanya belibet banget ya? Semoga kalian paham. Tapi kalau gak paham, itu derita.)
***
Mulai semester ini, setiap hari Kamis saya harus melahap dua bahasa asing sekaligus; yaitu Jepang dan Mandarin. Untuk bahasa Jepang, saya tidak terlalu 'buta'. Karena di SMA saya sudah berkenalan dengan bahasa Negeri Sakura tersebut. Justru Jepang adalah mata pelajaran favorit saya. Saya senang jika harus meliuk-liukan huruf hiragana dna katakana di kertas, walaupun tulisan Jepang saya tidak jauh beda dengan ceker ayam. Gubrak...
Nah, yang jadi masalah adalah, bahasa Mandarin benar-benar baru untuk saya. Saya harus pedekate dengan bahasa ini. Ciiieee... pedekate sama bahasa Mandarin. Ketahuan banget gak ada yang di-pedekate-in. (Itu nasib lu mblo). :D
"Hati-hati lho, nanti kalian ketuker lagi kalau belajar Jepang sama Mandarin. Ntar gak bisa bedain mana Jepang, mana Mandarin," ledek temanku.
Mana mungkin tertukar? Keduanya mempunyai ciri khas sendiri. Memang, sekilas kanji Jepang sama dengan kanji Mandarin. Tapi sebenarnya sangat jauh. Untuk kriteria Jepang, ada tiga jenis tulisan yang dipelajari yaitu
ひらがな (hiragana, digunakan untuk menuliskan kata-kata yang merupakan bahasa asli Jepang. Seperti nama orang Jepang dan semua yang 'berbau' Jepang.
カタカナ (katakana) digunakan untuk menuliskan kata-kata serapan dari bahasa asing, termasuk penulisan nama kita yang gak Jepang banget.
患者 (kanji) digunakan untuk membedakan kata yang memiliki kesamaan suara dan untuk memempersingkat tulisan dalam bentuk hiragana.
Kurang lebihnya seperti itulah. Yang menarik dari bahasa Jepang, cara membaca dan pengucapannya sama seperti bahasa kita. Contoh : Takashimaya, masih kita baca sebagai 'takashimaya'. Sehingga lidah kita akan mudah menyesuaikannya.
***
![]() |
| facebook.com |
Untuk Mandarin beda lagi. Mandarin tidak ada hiragana atau katakana, langsung Kanji. Apa yang ditulis, berbeda cara bacanya. Di Mandarin lebih bermain intonasi. Beda cara pengucapan, beda arti. Kata Dosennya sih belajar bahasa Mandarin seperti belajar nada. Nanti kalau saya sudah fasih 'bermain nada' di bahasa Mandarin, saya share ke kalian. Untuk pertemuan pertama Mandarin, saya lebih senang mendengar Dosen bercerita tentang pegalamannya selama di China daripada menyimak pelajaran. Tapi, yang namanya belajar harus selalu menghasilkan, bukan? Yang saya dapat hari Kamis kemarin adalah " Ni hao ma?"
Berkali-kali teman saya menyapa saya dengan "Ni hao ma?" dan saya jawab, "Ni hao." Lumayanlah, ada yang nempel di otak walau kadarnya sangat dibawah standar.
"Aduh, gue jadi apa ini? Gak ngerti sama sekali," keluh seorang teman lelaki yang duduk di samping saya.
"Tos dulu dong! Sama, gue juga gak ngerti." Kami beradu telapak tangan, tapi tak mengeluarkan suara.
"Ni hao ma?" bisiknya lagi.
"Yaelah, dari tadi ngomongnya itu mulu. Noh, Dosen udah ngejelasin sampe mana, lu tanya gue itu terus."
"Abis gue gak ngerti dia ngomong apa," jawabnya sambil menyungggingkan senyum. Si cowok adem kalem yang satu itu memang lebih sering senyum daripada tertawa. Saat itu otak saya masih setengah-setengah menerima pelajaran Mandarin. Saya tidak ingin mengatakan ini sulit. Hanya saja, saya perlu berjuang lebih keras untuk menaklukan si Mandarin itu. #aiiihh...
Tak ada yang sulit jika kita mau belajar. Justru disini saya lebih tertantang untuk tahu. Setelah di rumah, saya akan mulai mengulik Mandarin. Mandarin, aku padamu. :)
"Tak ada pilihan yang salah. Semua pelajaran itu baik, asal kita mau menjadikan pelajaran itu sebagai teman. Tidak tahu ya harus berkenalan, sudah berkenalan ya jadi teman. Setelah berteman mulai berbagi dan mengenal ia lebih jauh, agar kita tahu seperti apa teman yang sudah kita pilih tersebut."
Yuk, semangat belajar!
![]() |
| facebook.com |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar