![]() |
| thenewinquiry.com |
Bukan inginku, sungguh! Aku tak meminta ini ada. Ia hadir
setelah aku sadar kau memang ada. Dunia yang mengukungku seolah lupa, bahwa aku
butuh sebuah rasa. Rasa yang sempat kuendapkan begitu lama di ruang
berpendingin yang entah minus berapa suhunya. Ia beku, membatu. Bagaimana
mungkin aku sanggup berkata tentang rasa, setelah aku menjadikan kesendirian
adalah jalur aman menapaki hidup? Rasa kala itu telah kehilangan dirinya, hingga saat ini. Maknapun seolah lepas dari ruhnya.
Malam mengantarkan kita pada cerita. Cerita tentang apa
saja yang mudah kuucap. Tentang aku, kamu, dia atau mereka, tapi tak ada cerita
tentang kita. Bagaimana mungkin cerita itu menjabarkan ‘kita’, sementara kau
dan aku adalah dua yang berbeda? Ini apa namanya, aku tak sanggup berkata
selain meresapi setiap hal yang mencipta dirinya. Hening, saat namamu menyapa
ingatan.
Antara rasa dan makna yang sempat kukesampingkan
keberadaannya, kini mulai menuntutku untuk hidup. Memaksaku untuk mengartikan itu sebagai sesuatu yang berarti. Aku sudah lupa seperti apa hidup. Aku
lupa bagiamana menyikapi rasa dan makna yang kini mendesakku untuk bergegas
dari pojok masa, menuntaskan lirih yang bersyair tentang pedih.
Amorfati; kubertahan dengan luka hingga kuusaikan cedera
yang mendera. Sudahkan aku sampai di penghujung? Masih terlalu cepat,
jika aku sudah sanggup menyimpulkan itu apa. Aih, ada apa denganku sebenarnya?
Bulan kala itu masih mewujud dalam bulatan utuh. Aku duduk menghadapmu. Tak kau sampaikan isyarat tentang kita. Hanya celoteh biasa
yang kutangkap sebagai pelengkap sebuah pertemuan. Akupun memang tak bersuara
untuk kita. Sebab nyataku belum sepenuhnya ada.
***
Seutas senyummu menjadi penutup perjumpaan kita. Biarkan kuhilang setelah kita bertemu malam itu. Melenyap pada pendar tak bertuan, dan aku membaur di dalamnya. Kau berlalu, akupun pergi. Ya, kembali bersembunyi pada paham yang terbungkam adalah tujuku kini. Tak kan kumunculkan makna dari rasa sebenarnya. Jikapun kelak makna telah bertaut dengan ruhnya dan rasa mulai menemukan dirinya, aku tarik bening untuk kita jadikan jalur penuntut laku. Mana kutahu? Menentukan bukanlah kuasaku. Menjalani adalah kodratku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar