Breaking News

Kamis, 13 Maret 2014

Amorfati


thenewinquiry.com


Bukan inginku, sungguh! Aku tak meminta ini ada. Ia hadir setelah aku sadar kau memang ada. Dunia yang mengukungku seolah lupa, bahwa aku butuh sebuah rasa. Rasa yang sempat kuendapkan begitu lama di ruang berpendingin yang entah minus berapa suhunya. Ia beku, membatu. Bagaimana mungkin aku sanggup berkata tentang rasa, setelah aku menjadikan kesendirian adalah jalur aman menapaki hidup? Rasa kala itu telah kehilangan dirinya, hingga saat ini. Maknapun seolah lepas dari ruhnya.

Malam mengantarkan kita pada cerita. Cerita tentang apa saja yang mudah kuucap. Tentang aku, kamu, dia atau mereka, tapi tak ada cerita tentang kita. Bagaimana mungkin cerita itu menjabarkan ‘kita’, sementara kau dan aku adalah dua yang berbeda? Ini apa namanya, aku tak sanggup berkata selain meresapi setiap hal yang mencipta dirinya. Hening, saat namamu menyapa ingatan.

Antara rasa dan makna yang sempat kukesampingkan keberadaannya, kini mulai menuntutku untuk hidup. Memaksaku untuk mengartikan itu sebagai sesuatu yang berarti. Aku sudah lupa seperti apa hidup. Aku lupa bagiamana menyikapi rasa dan makna yang kini mendesakku untuk bergegas dari pojok masa, menuntaskan lirih yang bersyair tentang pedih.

Amorfati; kubertahan dengan luka hingga kuusaikan cedera yang mendera. Sudahkan aku sampai di penghujung? Masih terlalu cepat, jika aku sudah sanggup menyimpulkan itu apa. Aih, ada apa denganku sebenarnya? 

Bulan kala itu masih mewujud dalam bulatan utuh. Aku duduk menghadapmu. Tak kau sampaikan isyarat tentang kita. Hanya celoteh biasa yang kutangkap sebagai pelengkap sebuah pertemuan. Akupun memang tak bersuara untuk kita. Sebab nyataku belum sepenuhnya ada. 

***
Seutas senyummu menjadi penutup perjumpaan kita. Biarkan kuhilang setelah kita bertemu malam itu. Melenyap pada pendar tak bertuan, dan aku membaur di dalamnya. Kau berlalu, akupun pergi. Ya, kembali bersembunyi pada paham yang terbungkam adalah tujuku kini. Tak kan kumunculkan makna dari rasa sebenarnya. Jikapun kelak makna telah bertaut dengan ruhnya dan rasa mulai menemukan dirinya, aku tarik bening untuk kita jadikan jalur penuntut laku. Mana kutahu? Menentukan bukanlah kuasaku. Menjalani adalah kodratku.

Tidak ada komentar:

Designed By