![]() |
| cerita-islami.com |
"Semoga kamu lebih bahagia dengan pemilik barumu"
Malam Minggu berlalu, menyisakan dua jam untuk memejamkan mata. Pagi ini, bersama bang Adit, saya harus meninggalkan Rumah Dunia menuju Pancoran, Jakarta. Saya ingin berkenalan dengan adik-adik di Rumah Ilmu, tempat bang Adit melatih adik-adik menggambar disana.
Bis berhenti, kami berhambur naik ke dalam memilih kursi tengah. Dengan santai saya merebahkan tubuh di bis arah Cikarang, tanpa merasakan firasat apapun. Saya leluasa melipat mata dan menuntaskan hasrat tidur yang tertunda semalam. Selama tidur tas saya letakan di bawah jok. Saya tak terlalu ingat, apakah saat ponsel saya masukan ke dalam tas, ponsel itu masuk ke tas atau justru jatuh ke lantai; atau mungkin ponsel yang sudah saya masukan ke tas jatuh setelah saya mengambil tempat kaca mata.Saya benar-benar tidak tahu!
Zzz zzz... time on the road. Sampai di Bitung, mata saya sudah segar kembali. Menikmati perjalanan dengan nyawa yang sudah terkumpul dengan baik. Jalanan padat -merayap, kami terjebak macet.
"Pancoran-Pancoran," teriak kondektur. Saya turun mengikuti bang Adit. Ponsel yang 'menurut' saya disimpan di tas, berkali-kali saya rogoh tak ada. Bang Adit mulai menanyakan dan menyuruh saya untuk mengecek lagi, dengan 'sok' santai saya bilang, "gampang lah Bang. Nanti juga ada. Paling keselip."
Kami berjalan menunggu kopaja arah Ragunan. Saya mulai membongkar isi tas di tepi jalan. Ponsel masih tidak ada. Harusnya, dalam keadaan seperti ini, saya merasa panik. Namun, hati saya justru merasa biasa dan sangat tenang. "Akh, paling juga ilang," pikir saya tanpa berkata apapun pada bang Adit.
Kopaja melintas, kami naik, "bang, biasanya kalau perasaan Lia tenang gini, hape-nya ilang deh. Kecuali, kalau Lia lagi nyari sesuatu terus perasaannya panik dan nyesek ke dada dan sebelnya gak ketulungan, biasanya ketemu." Ucapku dengan senyum seperti biasa. Bang Adit hanya merespon sewajarnya.
Ya, saya memang berkali-kali mengalami hal ini. Saat saya mencari sesuatu yang tidak ada di tempatnya, saya akan panik dan teriak-teriak seperti orang kesurupan. Ibu saja, sering kewalahan jika menghadapi saya dalam situasi seperti ini. Untuk, ibu adalah orang tersabar sepanjang masa. Akh, tiba-tiba kangen ibu. :)
Sementara, untuk hari hal-hal yang 'lepas' dari status kepemilikan saya, justru bisa saya sikapi dengan tenang. Ada perasaan yang tak saya minta datang dengan sendirinya, memberikan kelapangan untuk menerima. hal serupa itu saya rasakan hari ini.
***
Sudah tiba di lokasi. Adik-adik justru sudah pulang. Jelas saja, kami datang terlambat. Harusnya, sebelum jam 11 kami sudah tiba disini. Karena alarm bang Adit tidak berdering, ia terlambat bangun dan saya harus diuji kesabaran untuk menunggu bang Adit dari jam 6.30 sampai jam 8-an lewat di Rumah Dunia.
"Toilet dimana?" saya pamit sebentar ke toilet setelah berkenalan dengan beberapa relawan di Rumah Ilmu, termasuk dengan mbak Ine Febriyanti.
Di toilet, saya bongkar semua isi tas. Tak ada yang menyelip seperti dugaan yang saya jelaskan pada bang Adit, karena ponsel saya benar-benar hilang. Bang Adit terlihat tidak enak dengan kejadian ini. Dia khawatir menjadi objek yang akan saya salahkan. Itu tidak mungkin saya lakukan. Takdir, sepertinya kata itu yang tepat untuk menengahi hal yang terjadi. Jangankan untuk menyalahkan orang lain, yang merupakan bagian luar dari diri saya. Menyalahkan diri sendiri saja saya tak tega. Bagaimana mungkin saya menyalahkan diri saya, sementara dalam keadaan ini, saya tengah kehilangan sesuatu. Kalau buakn takdir Tuhan, ini tidak mungkin terjadi. (sabodo teuing lah sok bijak oge, kanyataanna ja kitu).
Saya menyadari betapa ia berarti setelah ia tiada. Bahkan saya merasa berdosa saat saya bilang dia jadul. Saya sering kesal saat dia sering ngadat.Saya pernah membantingnya dan mendzalimi benda berharga yang sebenarnya tak bisa lepas dari keseharian saya. Dengan kata lain, saya ketergantungan dengannya. Tapi, saya justru terkesan mengabaikan hal berharga yang sebenarnya berpengaruh untuk saya.
Hmmm... diluar kejengkelan itu, saya mencintanya sebagai bagian dari diri saya. Bagaimanapun, dia adalah bagian dari sejarah hidup. Banyak cerita yang telah saya bagi di layar itu. Tawa, sedih dan semuanya sudah terangkum dalam cerita yang pernah ada.
Terima kasih setelah selama ini menjadi partner yang satia menemani. Menjadi jendela untuk ruang-ruang baru yang saya lewati. Mungkin, setelah kamu pergi, saya akan mendapatkan kamu yang baru, yang akan menyikapi saya seperti apa yang sudah kamu lakukan untuk saya. Tapi, saya tidak mungkin melupakan kenangan yang pernah kita lewati bersama. Berbahagialah kamu disana.Saya yakin, Tuhan telah berencana untuk kita. Pemilik barumu itu adalah orang yang lebih membutuhkanmu dari saya. Bukan berarti saya tak butuh kamu. Ini sudah menjadi sebuah keadaan yang tak bisa dibantah oleh kita. Bukankah semua yang datang akan pergi? Sesuatu yang saya miliki, jika sudah bukan hak saya, dengan mudah Tuhan ambil. Karena Tuhan-lah pemilik seutuhnya segala yang yang ada di diri saya. Hari ini, sudah saatnya kamu pergi meninggalkan saya. dan saatnya saya mengikhlaskan kamu pergi.Kamu sekarang sudah bukan milik saya. Entah, siapa yang kini memilikimu di luar sana. Saya berharap, kamu bisa lebih 'merasa berguna' untuk pemilik barumu. Kamu akan lebih berharga dan mendapatkan 'perlakuan' yang baik dari orang itu, tanpa mengatakan kamu jadul dan membantingmu sesuka hati. Menjadikan kamu sebagai pelampiasan atau memaksamu untuk terus menemani saya saat saya ingin menghabiskan waktu dengannya. Selamat tinggal, ponsel kesayanganku.
Untuk bang Adit, thanks udah pinjemin tab-nya. Tanpa dirimu, saya pasti gak bisa ketemu dua teman-teman CK di Monas. Dan, terima kasih untuk traktirannya di warung tenda 'WOW' itu. :)
Selalu ada cerita untuk kita bagi. Selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita yang sudah terjadi.Semangat nge-trip dan gak ada bosennya untuk terus 'jalan'.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar