Saat Nemenin Kakak di pantai Marbella
" Relasi antar-saudara itu lebih rumit dari relasi pacaran atau suami-istri. Rumitnya justru karena persaudaraan terikat hubungan darah, sehingga kadang kita merasa gak perlu mengelola. Udah natural, asumsinya gitu. Padahal relasi apapun, selama melibatkan orang lain, saudara atau bukan, mengelola perasaan itu yang utama. Relasi saudara yang sama-sama cowok lebih simple, gak ‘romantis’ seperti relasimu dan abangmu," ucap seseorang padaku.
"Ia, maafin Aa ya, bukan gak mau ketemu tapi ada urusan yang harus Aa selesaikan secepatnya." Balasnya setelah rentetan sms-ku membanjiri inbox-nya. Aku bertanya kenapa dia tidak menungguku dulu? Memangnya dia tidak kangen? de el el...
"Sip,' jawabku. Aku benar-benar dongkol. Bagaimana tidak? Aku berusaha untuk pulang ke rumah setelah ada kegiatan seminggu di Batam. Tapi, orang rumah telepon dan bilang dia sudah kembali ke Pelabuhan Ratu. Dia tahu karakterku. Saat aku ngoceh dan ngomel-ngomel, berarti marahku hanya sebatas marah. Tapi, saat aku sudah diam, itulah marahku yang sebenarnya.
"Ia, jangan marah ya! Nanti deh Aa usahain pulang secepatnya. Dan setelah ini semua selesai, Aa sempetin deh mampir ke Jakarta." Aku mengabaikan sms darinya. Aku benar-benar tidak terima dengan keputusannya ke Pelabuhan Ratu tanpa menungguku pulang dulu.
***
Sore aku sampai di Anyer. Seperti biasa, ibu membanjiriku dengan banyak cerita. Dari percakapan itu, aku bertanya kenapa kak Ade (itu nama aslinya) tidak menungguku dulu sebelum ia pergi?
Ternyata, kakak mulai menemukan arah hidup yang tepat. Selama di rumah, dia lebih sering menghabiskan waktu di luar. Tidak lama setelah itu, ada obrolan serius kakak dengan kedua orang tuaku bahwa dia ingin cepat menikah. Dia sudah menemukan 'gadis pilihannya'. Seseorang yang menurutnya memiliki 'kesamaan' kisah dan layak untuk dijadikan partner hidup. Dia sudah benar-benar 'sreg' dengan orang tersebut. Jadi teringat saat dia keukeuh bilang kalau dia cinta sama gadis di Pelabuhan Ratu, yang menjadi alasannya 'lupa pulang'. Tapi aku bilang kalau aku kurang setuju dengan pilihannya. Itu semua bukan tanpa alasan. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang ribet dan suka menghakimi pilihan orang. Justru aku adalah orang yang sangat demokratis atau lebih ekstrim lagi 'masa bodoh' terhadap urusan orang.
Beberapa minggu sebelum itu kakak sempat sms, "Su (kadang dia memanggilku bungsu), apa kabar? Su, udah punya 'calon'? Kapan mau nikah? Kalau ia udah nemuin orang yang tepat dan mau nikah, ya nikah aja duluan. Gak nunggu Aa."
"Haha.. ada angin apa kok Aa nanyain kapan nikah sih? Mending Aa aja duluan, Lia nyusul deh. Kuliah aja belum selesai."
Ternyata sms itu kode. Sebenarnya dia ingin mengabariku bahwa dia yang ingin menikah. Menikahlah kak, aku pasti mendukung! Selama pilihanmu itu bisa dijadikan partner yang baik untuk masa depan, kenapa tidak?
Yang susah itu bukan mencari pasangan, tapi mendapatkan pasangan yang bisa 'dimengerti' dan 'mengerti'. Kedua hal itu sebenarnya menjadi inti komunikasi yang baik. Dimengerti saja tidak cukup tanpa mengerti pasangan. Hubungan terjalin ketika ada timbal balik dari kedua pihak. Tidak ada yang mendominasi atau didominasi. Dan mengerti adalah upaya untuk tahu sejauh mana keterlibatan 'diri' kita terhadap pasangan. Hmm.. semoga tahun 2014 kakak mengakhiri masa lajang. Amin.
Yang susah itu bukan mencari pasangan, tapi mendapatkan pasangan yang bisa 'dimengerti' dan 'mengerti'. Kedua hal itu sebenarnya menjadi inti komunikasi yang baik. Dimengerti saja tidak cukup tanpa mengerti pasangan. Hubungan terjalin ketika ada timbal balik dari kedua pihak. Tidak ada yang mendominasi atau didominasi. Dan mengerti adalah upaya untuk tahu sejauh mana keterlibatan 'diri' kita terhadap pasangan. Hmm.. semoga tahun 2014 kakak mengakhiri masa lajang. Amin.
***
Terlepas dari itu semua, aku akan merasakan 'kehilangan' jika dia benar-benar menikah. Mungkin akan ada rasa 'cemburu' pada kehidupan barunya. Ada hal-hal yang tidak bisa kami lakukan lagi setelah dia menikah. Kami akan 'berjarak' setelah status lajang ia tanggalkan. Sudah kukatakan dia adalah kakak, teman dan musuh. Saat dia menjadi seorang 'kakak', dia akan menjadi 'pelindung' dan juga jagoan untukku, tapi aku tidak terlalu suka perannya yang ini. Aku akan seperti makhluk lemah saja di matanya.
Aku paling senang saat dia berperan sebagai teman. Kami adalah teman yang banyak memiliki kesamaan. Salah satunya adalah pecinta Iwan fals. :)
Aku akan mengunjunginya di kawasan pantai Anyer saat dia membuka lapak tatto setiap akhir pekan. Malam harinya, dia sering melibatkan aku dengan teman-teman nongkrongnya. Dia akan melakukan perjamuan sebagaimana 'anak pantai' pada umumnya, sementara aku hanya jadi penonton dan disuguhi teh manis atau minuman lain selain minuman yang mereka konsumsi. Gitaran bareng; nge-reggae atau fals-an.
***
Kami adalah dua pribadi yang tak bisa diam, sama-sama suka berpetualang. Setelah meninggalkan pantai Anyer, kakak memilih untuk hijrah ke Pelabuhan Ratu dan membuka lapak tatto disana. Setahun lalu, aku memutuskan untuk mengunjungi kakak; mengetahui keadaan dan cara dia bertahan hidup, mengetahui pergaulan dan orang-orang yang terlibat dalam hidupnya.
Sekitar dua minggu kuhabiskan waktu untuk ngegembel bareng kakak. Tidur di sebuah gudang yang hanya beralaskan tikar. Dia bohong saat mengabarkan bahwa dia tinggal di kontrakan. Kakak memang orang yang paling anti cerita tentang keadaan hidupnya jika itu berhubungan dengan 'kesusahan'. Dia memilih untuk menutup rapat. Bukan hanya kakak sebenarnya, akupun begitu. Dari kebersamaan kami, aku bercerita banyak tentang hidupku selama kami berpisah. Diapun bercerita banyak seperti apa keadaannya, juga bercerita tentang gadis yang membuatnya 'lupa pulang'.
Aku sempat dikenalkan dengan gadis itu. Dia cantik, menarik, dan menyenangkan. Aku menyukainya jika sebatas teman atau adik. Usia gadis itu beberapa tahun di bawahku. Tapi, ada pertimbangan lain yang membuat aku kurang 'sreg' jika dia benar-benar menjadi gadis 'pilihan' kakak. Aku mengamati kebiasaan dia terhadap kakak. Cara dia bersikap; bagaimana memperlakukan kakak, bagaimana dia merespons orang tuanya, cara dia menyelesaikan masalah dan hal-hal yang membuat dia 'tertarik', sangat jauh untuk karakter orang seperti kakak.
Sebenarnya, aku bukan orang yang terlalu suka ikut campur masalah orang. Siapapun yang menjadi pilihan kakak, aku tak keberatan. Toh, dia yang akan menjalani. Aku hanya bertugas mendoakan untuk kebahagiaan mereka. Tapi, untuk kali ini, aku memilih untuk bersuara. Karena ada sebuah kejadian yang membuat aku benar-benar tidak suka dengan cara gadis itu memperlakukan kakak.
Sebenarnya, aku bukan orang yang terlalu suka ikut campur masalah orang. Siapapun yang menjadi pilihan kakak, aku tak keberatan. Toh, dia yang akan menjalani. Aku hanya bertugas mendoakan untuk kebahagiaan mereka. Tapi, untuk kali ini, aku memilih untuk bersuara. Karena ada sebuah kejadian yang membuat aku benar-benar tidak suka dengan cara gadis itu memperlakukan kakak.
Suatu malam, gadis itu merengek menangis meminta uang kepada kakak. Dia memukul kakak dan mengucapkan kata-kata kasar karena kakak belum bisa kasih dia uang. Minggu itu kebetulan hasil tatto kakak tidak seberapa. Jadi, 'jatah' untuknya belum bisa kakak penuhi. Di depanku dia berani melakukan itu kepada kakak? Kalau memang itu sudah menjadi kebiasaannya, ada baiknya dia lakukan itu diluar pengetahuanku. Aku ini adiknya. Adik kandung, sedarah daging dengan kakak, tapi tak pernah aku memperlakukan kakak 'tidak manusiawi' seperti itu. Aku manja, tapi manjaku tidak pernah menurunkan harga diri kakak. Aku terpancing untuk marah, namun aku berusaha untuk meredam. Bagaimanapun, aku tidak terima menyaksikan hal itu. Aku menghindar dan memilih keluar dengan wajah tak bersahabat.
Aku duduk di gazebo dengan suasana hati tak menentu. Kakak tahu aku marah. Dia memanggilku dan menyuruhku masuk. Aku tak menjawab. Beberapa menit berlalu, kakak keluar menghampiriku. Dia merangkulku dan mengelus pundakku, "Goreng adat. Lia itu kalau lagi marah keliatan banget tau."
Aku masih diam. Aku berusaha mengendalikan diri sebelum aku mengungkapkan unek-unek, "Jangan gitulah ia, kamu boleh gak suka, tapi jangan terlalu ditunjukin!"
"Selama ini lia baik sama dia, A. Lia gak nunjukin kalau lia gak suka sama dia. Sama sekali enggak. Lia emang gak benci sama dia. Tapi, untuk malam ini, kayaknya lia gak bisa toleransi. Lia gak terima dia perlakuin Aa kayak gitu. Kalau bukan karena menghargai kakak, bisa aja tadi Lia maki dia. Cuma, lia masih bisa menahan diri. A, Lia ini adik kandung Aa, tapi gak pernah ngerengek-rengek minta uang sampe ngomong kata kasar dan maksa kayak gitu. Dia siapa? Kebayang gak sih A, kalau dia jadi istri Aa, apa yang bisa dia lakukan? Di depan adik kakak aja dia berani 'menjatuhkan harga diri kakak', apalagi di depan orang? Aa udah bilang ke dia kalau Aa belum dapat uang, tapi dia gak ngerti-ngerti juga? Aa mikir dong kalau kalian nikah nanti, saat Aa pulang dan gak bawa uang, jangankan dikasih pintu masuk dan makan, bisa aja Aa diusir dan ditimpukin pake sendal suruh pergi. Dia gak bisa ngehormatin Aa. Dia gak bisa ngertiin Aa. Dia gak bisa jadi penyeimbang buat Aa."
Kakak menganggukan kepala, "Iya, Aa juga sadar itu."
"A, selama ini lia gak pernah ikut campur urusan orang, termasuk keputusan Aa untuk nikah sama siapa. Tapi A, nyari calon itu jangan cuma liat dari tampang. Ada hal yang lebih penting dari itu. Aa itu orangnya 'berantakan' dan perlu sosok yang bisa bikin suasana rumah menentramkan. Seseorang yang bisa jadi penyeimbang kakak. Kakak capek-capek pulang kerja, kalau disambut istri dengan sikap yang menyenangkan, tentu Aa akan merasa rumah sebagai tempat untuk pulang. Tapi kalau istrinya model dia, yang ada Aa gak akan betah tinggal di rumah. Dan akhirnya, jalanan lagi yang Aa kejar. Cantik itu bakal ilang setelah tambah usia. Tapi akhlak dan kepribadian gak akan ilang sampe mati. Tolong dipertimbangkan! Lia gak mau aja Aa jadi orang yang 'gagal' dalam memilih pasangan. Karena nikah itu bukan urusan main-main. Lia kayak gini karena Lia sayang sama Aa."
Masih banyak hal yang kami ceritakan disini. Ada benarnya, hubungan saudara antara perempuan dengan laki-laki itu lebih 'romantis' dan tidak se-simple hubungan sesama saudara laki-laki. Tapi uniknya, karena kami adalah perempuan dan lelaki, kami lebih mudah untuk berbagi tentang perbedaan-perbedaan itu. Mengetahui perempuan dari sudut pandang lelaki dan mengetahui lelaki dari sudut pandang perempuan. Curhatpun jadi lebih menyenangkan. Kami saling mengisi. Aku yang terlalu perasa (karena perempuan memang perasa) diimbangi oleh kakak yang pembawaannya santai dan cuek-bebek. Dia tidak pernah menanggapi amarahku; masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Malam itu, sepertinya aku membuka pikiran kakak untuk mempertimbangkan lagi keputusannya untuk menjadikan gadis cantik itu sebagai calon istrinya. Aku tahu, ibu gadis itu sangat menginginkan kakak sebagai menantunya. Sampai beliau pernah berkata seperti ini, "Teteh mah benar-benar sayang sama Jibril. Jibril sudah teteh anggap anak sendiri dan berharap dia menikah sama anak teteh. Pokoknya kalau Jibril sampai tidak berjodoh dengan anak teteh lebih baik teteh gak kenal dia lagi." Tapi, bukankah banyak hal yang perlu dipertimbangkan jika menyangkut jodoh? Restu saja belum cukup, apabila 'orang yang terlibat' di dalamnya belum menemukan titik kesamaan untuk menentukan arah. *Aish... udah kayak apa aja saya. ;)
***
Aku bahagia setelah setahun terlewatkan, kakak sanggup mengambil keputusan tegas untuk hidupnya. Dia bahkan bersedia menikah dengan gadis lain. Mungkin, selama setahun itu dia belajar untuk mencerna, menilai kembali dan mengambil keputusan. Mungkin dia sadar, pertimbanganku untuk tidak menjadikan gadis itu sebagai pilihannya adalah sebuah pertimbangan yang masuk akal. Menutup kisah masa lalunya, kini saatnya mengucapkan selamat datnag pada masa depan kakak. Siapapun orangnya, harapanku adalah dia mampu menjadi partner hidup kakak yang baik. Itu saja.
"relasi apapun, selama melibatkan orang lain, saudara atau bukan, mengelola perasaan itu yang utama." Aku mencintai, berarti aku tahu apa yang kucintai. Aku melibatkan diri pada hal yang kucintai dan mencari solusi untuk masalah 'cinta' yang sedang atau akan kuhadapi.
![]() |
| selfie di Goa Kelelawar, Plara |
![]() |
| Masih di Goa Kelelawar |
![]() |
| Pantai Citepus |
![]() |
| Tanjakan Habibi |





Tidak ada komentar:
Posting Komentar