Breaking News

Selasa, 11 Februari 2014

Galang dan Kisah Pengungsi Vietnam




Batam memang panas, sama seperti Jakarta. Cuaca yang lumayan menyengat kulit ini, tak sedikitpun membuatku malas untuk menjelajahi kota kecil ini. Bersama Siti; staff yang akan menjadi partner kerjaku di Yayasan yang sama, berencana mengunjungi Pulau Galang.


Barelang Bridge (Jembatan 1)
Di mulai dari Batam center, aku melewati jalan Muka Kuning sebelum akhirnya melewati jembatan Balerang (Batam, Rempang, Galang) yang merupakan landmark-nya Batam. Siapapun yang datang ke Batam, wajib mengunjungi tempat ini, selain belanja ke Nagoya, tentunya. Perjalanan menuju Pulau Galang, benar-benar memakan waktu. Aku tidak terlalu menghitung berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk sampai di pulau Galang, karena disibukan oleh kekaguman yang bisa aku lahap dengan mata telanjang, panorama alam yang memukau. Batam memang mempesona, aku jatuh cinta dengan tempat ini. Namun, aku pastikan, perjalanan ini memakan waktu lebih dari satu jam.

Sesuai kesepakatan awal, aku dan Siti bergantian mengendarai motor, dengan kecepatan rata-rata 80km/jam. Jalanan lurus dengan keadaan naik turun, memberikan sensasi yang menyenangkan. Belum lagi, jumlah kendaraan yang lewat kawasan ini, sangat jarang, membuat aku leluasa memacu sepeda motor tanpa harus berebut lahan dengan orang. Tiba di jembatan ke lima, Siti menunjukan padaku, pantai yang sangat bagus di Batam, yaitu pantai Mirota. Setelah selesai mengunjungi Ex-Vietnam Camp, aku akan bermain dengan ombak pulau Galang ini.

Belok ke kiri dan masuk ke pintu gerbang Pulau Galang, aku menuju loket pembayaran. Dengan uang sebesar lima ribu rupiah, aku bisa leluasa mengelilingi pulau Galang yang luasnya sekitar 80 ha ini. Masih penuh dengan pepohonan, pemandangan hijau kujumpai disini. Banyak monyet yang berjalan di sekitar jalan, dan aku menyaksikan mereka asyk memanjat pohon tanpa terusik oleh bunyi kendaraan. Jalan aspal yang sejak pengungsi itu tinggal, masih dalam keadaan bagus. Sepanjang jalan, aku melihat pipa-pipa besi sebagai saluran air yang masih utuh dan bagus. Menurut petugas setempat, pipa itu dibuat pada masa pengungsian dan keadaannya masih bagus hingga saat ini.

Aku seperti diseret pada tahun 1979, pada awal mereka memasuki pulau Galang dengan perahu yang ukurannya kecil, namun dipaksa untuk menampung 40-100 orang pengungsi. Sisa-sisa bangunan seperti Vihara, Gereja, Sekolah-sekolah, Youth Center, PMI, Rumah Sakit dan Penjara, dengan jarak yang lumayan jauh dari tiap bangunan tersebut, menunjukan betapa banyaknya pengungsi yang menetap disitu.
Di Museum 

Ya, mungkin, kalian akan merasakan hal serupa, ketika kalian berada disini. Atmosfir kengerian yang "mengesampingkan kemanusiaan" yang terjadi di Vietnam kala itu, menyeret mereka untuk melakukan suaka ke Negara yang menurutnya mampu memberikan keamanan. Perang Vietnam yang terjadi pada masa Perang Dingin (Cold War) yang melibatkan Amerika dengan ideologi Liberalnya, sementara Uni Soviet dengan ideologi Komunisnya, memberikan gambaran tersendiri masa-masa kelam Vietnam yang memakan ribuan nyawa manusia. Perang saudara antara Vietnam Selatan dengan Vietnam Utara ini, tentu, memberikan dampak yang mengerikan bagi mereka yang tidak tahu apa-apa. Upaya untuk mempertahankan hidup, membuat mereka berbondong-bondong meninggalkan negaranya ke Galang, yang disetujui sebagai tempat pemukiman para Pengungsi Vietnam atas persetujuan UNHCR (Lembaga tinggi PBB yang menangani masalah pengungsian) dengan Pemerintah Indonesia. Mungkin, untuk kalian yang tertarik dengan kejadian perang Vietnam ini, bisa mencari tahu lewat mbah google. Karena, aku tidak mungkin menjelaskan secara rinci hal tersebut disini. (Jariku, terbatas untuk mengetikan kata-kata)

 Mungkin, kalian bisa klik link tersebut untuk mengetahui lebih jelas tentang Galang Camp.
http://galangcamp.blogspot.com/

Galang camp ini, adalah tempat yang disahkan PBB sebagai pemukiman para pencari suaka Vietnam dari tahun 1979-1996. Setelah berjuang melewati lautan China Selatan yang terkenal ganas,untuk pengungsi yang selamat, mereka tinggal di pulau ini. Para pengungsi yang datang, akan dipekerjakan sesuai dengan keahlian masing-masing. Karena PBB memberikan fasilitas umum yang lengkap untuk kebutuhan mereka. Para pengungsi ini, terisolasi dari penduduk setempat. Dengan alasan keamanan dan kemudahan pengontrolan, juga penyebaran penyakit yang mungkin akan ditularkan pengungsi Vietnam terhadap penduduk setempat. Bagi Dokter dan Suster, mereka akan di tempatkan di PMI dan Rumah Sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi. Untuk para pengajar, mereka tentu ditugaskan sebagai guru. Dan juga, untuk keahlian di bidang lainnya, akan tugaskan sesuai skill. Untuk para pengajar, tidka hanya berasal dari pengungsi Vietnam saja, melainkan dari para relawan Dunia yang bersedia mendedikasikan diri untuk berbagi dengan mereka, termasuk Indonesia. Dan, foto-foto pengajar itu, kini diabadikan di papan sebuah Museum.

Selama di pengungsian, para pengungsi mendapatkan kesempatan untuk memperoleh suaka dari Negara-Negara maju seperti AS, Australia, Canada, Prancis dan lainnya. Apabila lolos seleksi, mereka akan menetap dan bekrja disana. Namun, untuk yang tidak lolos, mereka terpaksa dipulangkan ke Negara asalnya setelah PBB menetapkan bahwa 1996 pemukiman para pengungsi ditutup.

Kawasan pengungsian yang ditutup, kini dikelola oleh Otonom Batam. Dengan melakukan renovasi bangunan-bangunan yang sudah mengalami kerusakan. Seperti halnya Gereja Protestan yang kulihat, bentuknya sudah tidak utuh, tinggal kerangkanya saja. Untuk beberapa bangunan seperti Humanity Statue (Tugu Kemanusiaan) dan Gereja Katolik, sudah mengalami renovasi.

 ***

Selesai mengunjungi Ex-Vietnam Camp dan pantai Mirota(mungkin aku ceritakan nanti), aku memilih pulang. Perut, belum diisi karena tak ada rumah makan yang  kutemui disekitar sini.

"Teh, teteh ya yang bawa motor!" Pinta Siti. Ya, dia memanggilku teteh karena gadis kelahiran 1992 ini, lebih muda dua tahun di bawahku. Aku setuju saja untuk mengendari motor. Masih, dengan kecepatan 80km/jam, perjalanan tak terganggu oleh lalu lalang kendaraan yang jumlahnya tak seberapa. Sampai di jembatan empat, sebuah motor dari belakang mengejarku dengan kecepatan yang tinggi.

"Teh, gaspol, ada yang mau ngejar!" Siti berteriak. Aku segera mengencangkan lajuku hingga dikecepatan 100km/jam. Untuk lebih dari itu, rasanya aku tidak sanggup melawan angin yang menghantam dengan keras. Aku sebenarnya takut, jika orang tersebut berniat tidak baik di jalan sepi seperti itu. Apalagi, kami perempuan berdua. Daripada "nama tinggal cerita", apa jadinya nanti? Dua orang lelaki tersebut terus mengejar, namun sebisaku untuk tidak membiarkannya selangkah di depan, kecuali, sudah ada kendaraan yang bisa mendampingiku.

"Teteh, seratuuusss..." Siti teriak. Aku tak menggubris. Aku terus mengencangkan gas. Setiba di tempat pemukiman, baru, aku mulai menurunkan kecepatan ke angka 80km/jam. Ada beberapa kendaraan yang lewat dan aku merasa sedikit tenang. Kedua lelaki tersebut, sudah ada di depanku. Mereka sengaja mengurangi kecepatan lajunya. Aku tidak khawatir lagi, karena disini sudah ada beberapa bis dan kendaraan pribadi yang melintas. Di jembatan ketiga hingga kesatu, tempat mulai ramai. Beberapa orang terlihat asyik memancing. Jika hal buruk terjadi padaku, dengan mudah aku berteriak meminta pertolongan orang-orang. (Hahah.. korban sinetron rupanya)

Sementara aku, diatas laju motor yang kukendarai, menyisakan lelah dan kesan berharga untuk perjalanan yang aku tempuh hari itu. Memang benar, ilmu tak selalu bisa kita dapatkan di bangku sekolah. Justru, dengan 'berjalan', alam akan mengajari kita banyak hal.

Dunia menyuguhkan banyak cerita nyata yang bisa dinikmati dan dimengerti



Tidak ada komentar:

Designed By