Breaking News

Senin, 03 Februari 2014

Dalam Sebuah Doa Part IV

"Aku lupa, ternyata aku tidak hidup sendiri. Aku hidup bersama dengan ide-ide yang berbeda, dengan mereka yang memiliki kepentingan berbeda, "Magda mengetuk-ngetukan pensil ke meja belajarnya. Buku-buku bercecer tak beraturan. Wajahnya tak menunjukan gairah. Ia enggan menyentuh satupun pekerjaannya.

"Bengong aja anak ibu. Kenapa? Ada masalah?" Ibu menarik kursi di dekat tempat tidur Magda. Ia duduk dengan santai, menatap Magda yang belum bisa menunjukan senyumnya sejak pagi tadi.

"Tugas kelompokku banyak dan setiap mau ngerjain tugas, pasti ada aja alasan. Mereka egois, bu. Aku coba ngertiin mereka untukhal itu. Tapi, mereka gak pernah ngertiin aku, kalau aku juga punya kepentingan lain yang harus aku selesaikan."

"Oya? Gak salah nih, mereka yang egois? Anak ibu sendiri, egois gak?" Dengan senyum khasnya, ibu balik bertanya.

"Gak lah. Kalau aku egois, tentu, aku gak mungkin kompromi sama mereka, saat mereka kasih aku seribu alasan untuk gak kerjain tugas pada hari yang sudah ditentukan."

Ibu mengelus rambut Magda, "sadar gak, sayang, kalau sebenarnya, kamu yang justru egois daripada mereka?"

"Kok ibu ngomong gitu sih?"

"Dengan kamu menganggap mereka egois, justru kamu yang lebih egois dari mereka. Kenapa? Karena, kamu 'melibatkan kepentingan kamu' sebagai 'alasan' yang sebenarnya, bukan kepentingan mereka. Kalau mengerti, cukup mengerti tanpa mengatakan embel-embel. Kerja tim itu, adalah kerja yang melibatkan kepentingan orang banyak. Sabar dan mengertilah! Jangan berharap untuk dimengerti. Ibu tidak pernah mengajarkan anak ibu menjadi anak yang egois. Sudah, sekarang, lebih baik kamu makan malam dulu! Ibu sudah masak untukmu."

Ibu meninggalkan kamar Magda. Sementara, Magda masih diam, menyerap deretan kalimat yang ibu ucapkan padanya. Benarkan itu? Ia hanya mendengus, menekan amarah dan bergegas. Rasanya, lapar membuat ia harus segera mengisi perut dengan makanan yang ibu masak.

Jarang sekali Magda menikmati masakan ibu, setelah dirinya hidup jauh dari kampung halaman. Dua hari belakangan ini, ibu menjenguknya dan memberikan apa yang Magda rindukan, termasuk senyum tulus dan tutur kata lembut itu.

Tidak ada komentar:

Designed By