"Aku
lupa, ternyata aku tidak hidup sendiri. Aku hidup bersama dengan ide-ide
yang berbeda, dengan mereka yang memiliki kepentingan berbeda, "Magda
mengetuk-ngetukan pensil ke meja belajarnya. Buku-buku bercecer tak
beraturan. Wajahnya tak menunjukan gairah. Ia enggan menyentuh satupun
pekerjaannya.
"Bengong aja anak ibu. Kenapa? Ada masalah?" Ibu menarik kursi di dekat tempat tidur Magda. Ia duduk dengan santai, menatap Magda yang belum bisa menunjukan senyumnya sejak pagi tadi.
"Tugas kelompokku banyak dan setiap mau ngerjain tugas, pasti ada aja
alasan. Mereka egois, bu. Aku coba ngertiin mereka untukhal itu. Tapi,
mereka gak pernah ngertiin aku, kalau aku juga punya kepentingan lain
yang harus aku selesaikan."
"Oya? Gak salah nih, mereka yang egois? Anak ibu sendiri, egois gak?" Dengan senyum khasnya, ibu balik bertanya.
"Gak lah. Kalau aku egois, tentu, aku gak mungkin kompromi sama mereka,
saat mereka kasih aku seribu alasan untuk gak kerjain tugas pada hari
yang sudah ditentukan."
Ibu mengelus rambut Magda, "sadar gak, sayang, kalau sebenarnya, kamu yang justru egois daripada mereka?"
"Kok ibu ngomong gitu sih?"
"Dengan kamu menganggap mereka egois, justru kamu yang lebih egois dari
mereka. Kenapa? Karena, kamu 'melibatkan kepentingan kamu' sebagai
'alasan' yang sebenarnya, bukan kepentingan mereka. Kalau mengerti,
cukup mengerti tanpa mengatakan embel-embel. Kerja tim itu, adalah kerja
yang melibatkan kepentingan orang banyak. Sabar dan mengertilah! Jangan
berharap untuk dimengerti. Ibu tidak pernah mengajarkan anak ibu
menjadi anak yang egois. Sudah, sekarang, lebih baik kamu makan malam
dulu! Ibu sudah masak untukmu."
Ibu meninggalkan kamar Magda.
Sementara, Magda masih diam, menyerap deretan kalimat yang ibu ucapkan
padanya. Benarkan itu? Ia hanya mendengus, menekan amarah dan bergegas.
Rasanya, lapar membuat ia harus segera mengisi perut dengan makanan yang
ibu masak.
Jarang sekali Magda menikmati masakan ibu, setelah
dirinya hidup jauh dari kampung halaman. Dua hari belakangan ini, ibu
menjenguknya dan memberikan apa yang Magda rindukan, termasuk senyum
tulus dan tutur kata lembut itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar