Breaking News

Sabtu, 11 Januari 2014

Leaving On the Jet Plane

Mana yang lebih menyiksa, ditinggalkan atau meninggalkan? Teman, hal itu pasti terjadi pada kita, dalam keadaan yang mungkin berbeda. Kedua rasa itu, pernah menghampiri aku dan mereka ; orang-orang yang ku sayangi. Akhir Desember 2012 lalu, aku masih ingat, ketika setiap malam menghabiskan waktu untuk latihan vocal, menyesuaikan nada dengan petikan gitar yang dimainkan Ari. Ya, Nurul, Dwi dan Ari, adalah tiga nama yang lekat dengan hidupku saat itu, di samping nama-nama lain yang sangat peduli padaku. Intinya, saat itu, aku bersyukur berada di tempat yang mempertemukan aku dengan orang-orang baik.

Minggu pagi, aku dan Ari sudah siap dengan kostum yang sama. Ia menenteng gitar andalannya, sementara aku, hanya berharap, agar suaraku saat pentas tidak mengecewakan. Kami berdua, sudah mendaftarkan diri untuk lomba.

Menaiki bis bersama Nurul dan Dwi yang jadi suporter, kami tiba di Gedung tempat lomba. Puluhan orang, atau mungkin ratusan, sudah duduk menghadap panggung. Sementara, MC, sudah menyebutkan satu per satu nama peserta. Aku kebelakang panggung, mengikuti briefing bersama peserta untuk putaran kedua.

"Lia, ini lomba untuk Solo, bukan duo." Tiba-tiba saja, pernyataan itu mengagetkan aku.

"Maksudnya, kami berdua tidak bisa ikut lomba?" Aku mulai kecewa. Panitia sebelumnya sudah tahu, kalau aku mendaftarkan diri bersama Ari. Mereka tak membatasi jumlah peserta. Pun, tak mengatakan ini lomba khusus Solo. Seharusnya, jika mereka mengubah keputusan, beri tahu malam tadi, tentu, aku dan Ari tak akan datang dan mempersiapkan diri serepot itu.

"Iya. Bagaimana mungkin kamu ikut, sementara yang lain Solo dan kamu sendiri yang berdua? Itu sangat menyulitkan penilaian Juri."

"Bu, harusnya ada informasi terlebih dulu. Gak bisa ambil keputusan sepihak gitu dong. Saya sudah mengundang rekan saya untuk hadir. Gak enak bu kalau saya batal manggung." Desakku. Ya, saat itu, aku sudah mengundang keluarga baik yang menganggap aku bagian dari keluarganya. Merekapun berjanji akan datang. Apa jadinya jika aku katakan pada mereka bahwa aku batal ikut lomba? Sangat memalukan dan mengecewakan. Apalagi, aku tahu, mereka sangat sibuk. Di tengah kesibukannya, mereka menyempatkan diri untuk hadir demi aku.

Tetap, berkali-kali aku meminta kebijakannya, namun ia tidak bisa mengubah keputusan. Bagaimana perasaan kalian jika berada di posisi itu? Marah, kecewa,kesal, dan semua perasaan campur aduk kan? Apalagi, baru saja, keluarga yang aku undang itu datang dan telah duduk di kursi tamu paling depan. Dengan antusias, mereka menunggu giliranku. Aku sendiri, belum berani mengatakan bahwa aku batal ikut lomba.

"Kapan giliranmu? Sudah tidak sabar ingin mendengarmu bernyanyi." Ucap istrinya yang bertubuh tinggi langsing.

Aku hanya senyum dan berpura-pura mengajak bermain anaknya yang berusia 3 tahun Desember itu. Lalu, aku permisi keluar. Menghampiri Panitia yang baru saja berdebat denganku, "Ibu, saya mohon, sekali ini saja, kasih saya kesempatan! Ibu tahukan, sebentar lagi saya akan pulang dan gak akan ada di kota ini lagi. Saya mau, persembahin lagu terakhir saya buat mereka." Mataku mulai berkaca.

Dia hanya berdecak kemudian berlalu. Percuma ternyata. Sudahlah, aku pasrah. Lagipula, Ari sejak tadi terlihat lebih santai menyikapi ini, walau aku menangkap kemarahan di matanya.

Aku kembali duduk di samping keluarga yang aku undang. Peserta mulai bergantian tampil di panggung. Sementara, aku melihat Panitia yang aku buntuti tadi, menghampiri dewan juri yang sedang duduk menghadap panggung. Kalu tidak salah, saat itu, sudah peserta ke dua belas.

Beberapa menit setelah itu, Panitia itu berdiri di atas panggung, ia memegang microphone, "Hadirin sekalian, hari ini merupakan babak penyisihan untuk kompetisi menyanyi. Namun, setelah ini, kita beri kesempatan pada kedua tamu kita, yaitu Lia dan Ari, untuk mempersembahkan penampilannya. Lia, bukan peserta untuk kompetisi ini, namun saya berikan kehormatan untuk tampil. Sebentar lagi, Lia akan pulang ke kampung halamannyai. Sebelum pulang, dia ingin mempersembahkan lagu disini, untuk sahabat dan juga keluarga angat Lia." Panitia itu menunjuk pada keluarga yang aku undang. Mereka tersenyum pada sekitar, dengan menganggukan kepala.

"Kita tampil? Kok bisa? Alhamdulillah, akhirnya tampil. Aku sih gak apa-apa kalau gak jadi peserta. Asal, sebelum kamu pulang, aku punya kesempatan manggung bareng kamu disini. Ini, akan jadi cerita kita nanti, Lia." Bisik Ari. Ucapannya itu, benar-benar membuat aku ingin meneteskan air mata. Ya, sebentar lagi, kota ini akan menjadi sejarah perjalanan hidupku. Sejarah dimana aku, pernah mengenal kehidupan yang tak pernah aku ketahui sebelumnya. Kota yang mengantarkan aku pada banyak pelajaran hidup, dan ratusan orang baik di sekeliling. Kota yang memberikan sejuta rasa yang mengharuskan aku untuk mencicipinya, walau lidah, sebenarnya tak sanggup menebak setiap rasa yang sudah ada.

Aku mengangguk. Nama kami berduapun dipanggil, dan aku, perlahan berjalan ke atas panggung. Nurul dan Dwi sudah standby di depan dengan tepuk tangan yang meriah. Sementara teh Yanti, seseorang yang selalu menjadi "kakak" yang baik, sudah mulai menyalakan videonya. Tepuk tangan mulai meramaikan ruangan. Aku duduk dengan santai di samping Ari. Sebuah mikrofon aku genggam.

"Selamat siang semuanya. Kali ini, saya dan Ari, akan membawakan 'Leaving On the Jet Plane'. Lagu ini saya persembahkan untuk keluarga yang baik yang sedang duduk disana, dan untuk sahabat-sahabat saya."

Perlahan, Ari memetik gitarnya, aku ikuti alunannya, hingga saat aku mulai untuk membuka sebuah lagu,
   all my bags are packed I am ready to go
   I am standin' here outside your door
  I hate to wake you up to say good bye

Tepuk tangan kembali riuh. Aku lanjutkan menyanyi hingga reff pertama. Namun, konsentrasiku terkecoh saat aku menatap wajah Nurul yang sudah berlinang air mata. Wajahnya yang putih sudah berubah menjadi merah padam. Begitupun dengan Dwi dan juga keluarga yang baik itu, mulai menitikan air mata. Tuhan, mengapa keadaan sedramatis itu? Aku yang tidak ingin menangis, akhirnya bernyanyi dengan suara yang bergetar. Aku tidak bisa menahan emosi. Bahkan, Juri yang duduk menghadapkupun, mengusapkan tisunya pada bagian atas pipi.

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go

'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go



Dan, aku tak bisa menahan air mata yang jatuh. Disini, terakhir kali aku mampu mempersembahkan lagu untuk mereka, sebelum aku benar-benar pergi dari kota ini. Menyaksikan mereka menangisi kepergianku, justru membuat aku merasa semakin sakit dna tak ikhlas. Tapi, bukankah hidup harus terus dijalani? Lalu, aku gadaikan kemana air mata yang belum juga reda ini? Seminggu lagi, ya seminggu lagi aku akan berpisah dengan semua hal yang aku jalani hampir setahun belakangan ini.


Selesai lagu aku bawakan. Aku turn panggung, dan tepuk tangan menutup penampilanku. Aku keluar, dan merekapun keluar.


"Kenapa kamu nangis?" Tanyaku pada Nurul.


"Kamu sebentar lagi pulang. Kenapa juga harus nyanyiin lagu itu? Benar-benar lagu perpisahan banget."

"Aku akan benar-benar merasa kehilangan kamu.Rasanya, berat untuk berpisah. Tapi, kamu punya masa depan yang harus di jalani. Kamu perlu kuliah di Jakarta. Kami akan merindukanmu. Terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga kami. Telah menjadi teman dari anak kami." Perempuan itu memelukku. Sementara, wajahnya masih merah padam. Aku memeluknya erat.

"Lagu yang bagu. Sepertinya, kamu tepat memilih lagu. Kamu benar-benar membuat mereka menangis, Lia." Tambah suaminya. Sementara, gadis kecil yang sejak tadi berada di gendongan ayahnya, aku minta untuk menggendongnya. Ia asik memainkan kaca mataku, membuatnya sedikit kotor.

Setelah percakapan itu, mereka pamit pulang. aku mengantarkan mereka keluar, menuju tempat pemberhentian taxi.

"Terima kasih telah datang. Aku sangat senang!" Aku berteriak sambil melambaikan tangan.

Mereka berjalan semakin menjauh, "Kami yang harus berterima kasih, karena kamu telah memberikan undangan istimewa ini."


Taxi melaju, mereka sudah berlalu di hadapanku. Aku kembali naik ke lantai tiga, menemui Ari, Dwi dan teh Yati. Sementara Nurul, tidak tahu kemana. Satu per satu wajah mereka aku pandangi. Ah, rasanya sulit dipercaya, jika aku harus berpisah dari mereka. Aku pasti akan merindukannya.


Sejarah itu tidak akan ada tanpa cerita
Kenangan itu tak akan tercipta tanpa peristiwa
Dan lagu itulah yang berbekas untuk mengenang kejadian yang ada
Karena dari situ aku tahu, bagaimana tangis sebuah kehilangan
Dan sakit ketika harus meninggalkan

Datang untuk pergi
namun pergi, kadang tidak untuk kembali






Tidak ada komentar:

Designed By