Sepertinya tak lengkap, jika sebuah ikatan itu tak di dera masalah. Aku sadari itu. Mungkin, kalian juga mengalaminya. Ya, aku pernah sesumbar, bahwa hal yang kuyakini akan menjadi ikatan yang abadi; ikatan persahabatan yang aku jalin bersama seseorang yang hampir setengah tahun hidup bersamaku, bukanlah ikatan yang pantas dibanggakan. Karena pada akhirnya, persahabatan kami harus hancur karena ego. Aku adalah karakter yang keras, diapun begitu. Kami sangat dekat, bahkan lebih dari dekat. Tidur berdua, makan berdua, sampai mandipun sering berdua. Kami seperti tak punya jarak untuk sebuah privasi. Kedekatan yang belum pernah terjadi dengan sahabat-sahabatku yang lain.
Pernah suatu ketika, saat kami mandi bersama, sambil tertawa-tawa dan berbagi hal lucu seperti biasa, aku bilang, "Ul, aku takut, suatu saat kita akan jadi musuh." Karena, aku adalah satu-satunya sahabat dia yang memanggil nama dengan sebutan "UL".
Dengan santai ia menjawab, "Gak mungkin. Kita akn jadi sahabat, selamanya." Kira-kira itu i.
Aku tak menggubris apa yang ku ucapkan saat itu, begitupun dia. Dia menganggap remeh apa yang aku takutkan, walau saat itu masih dalam bentuk ucapan yang memang tak pernah aku bayangkan akan terjadi. Aku perah mendengar pepatah bahwa sahabat bisa jadi musuh dan musuh bisa jadi sahabat. Antara cinta dan benci itu jaraknya sangat tipis.
Dan, waktu yang kami lewati berdua, memberikan cobaan besar; lebih tepatnya ujian untuk persahabatan. Kami GAGAL melewati ujian itu. Ego yang tinggi dan merasa benar, membuat kami berjarak. Terlebih, saat aku harus meninggalkan tempat yang pernah mempertemukan kami, yang menjadi awal terjalinnya persahabatan itu. Jadilah, keadaan yang mengambang. Selisih itu terjadi, sejak Februari 2013 lalu. Kami mulai tak bertegur sapa, walau sekedar mampir di inbox facebook masing-masing. Bahkan, yang lebih parahnya, dia blokir aku di facebook. Sebuah janji yang ia ingkari, bahwa, dulu, kami sepakat, seperti apapun keadaannya, kami akan tetap mencantumkan hubungan di facebook, sampai masing-masing dari kami menikah. Manusiawi, terkadang lupa pada janji, jika emosi telah menguasai hati.
Sebuah pelajaran aku dapatkan disini; semoga bukan hanya aku, tapi dia, dan juga kita semua. Jika kita bermasalah dengan seseorang, tak perlu melibatkan orang lain, apalagi, mencurahkan unek-unek kita pada orang yang tidak sedang berkonflik dengan kita. Itu hanya akan memperkeruh keadaan. Mereka bukan membantu meredakan emosi, tapi malah membuat panas situasi dan seperti "mengadu domba" yang pada akhirnya, ada hal yang lebih penting yang harus di korbankan. Lebih baik, kita bicarakan langsung dengan orang yang bersangkutan. Ya, prakteknya tidak mudah. tapi, dengan kejadian ini, aku harus lebih belajar mengesampingkan ego dan gengsi, demi sebuah ikatan.
Sebenarnya, aku tidak sepenuhnya benar, dia juga tidak sepenuhnya salah. Ada sisi dimana kami, memang memegang peran sebagai orang "Yang Bersalah", walau berperilaku seolah kami adalah "orang yang benar". Lagi-lagi, ego harus dibantai jika hubungan ingin berjalan dengan baik.
***
Seteleh selisih itu terjadi, apa yang aku rasakan? Sedih? Ya, itu sudah pasti. Aku merasa ada yang hilang dari diriku. (Jangan katakan ini berlebihan, karena itu yang terjadi). Nangis? Otomatis. Sedih dan rasa kehilangan itu, justru lebih sakit, daripada sekedar patah hati. Asli! Dan, ternyata, kami butuh waktu hampir setahun untuk ME-REFRESH persahabatan ini. Aku, dengan caraku, merenungi masalah itu. Dan aku yakin, diapun melakukan hal itu. Karena aku kenal betul, dia adalah orang yang cengeng, yang sering mengeluarkan air mata.
Malam ini, 8 januari 2014, aku yang tidak sedang meluangkan waktu untuk persahabatan kami, karena aku sedang sibuk-sibuknya mengerjakan deadline tugas Sejarah Dunia Modern, Ngerjain konsep storyboard Pengantar Ilmu Hubungan Internasional kelompok, revisi cerpen untuk KUMCER Perjalanan, bahkan tengah di tagih untuk satu judul cerpen untuk kumcernya KMRD22. Eh iya, aku juga harus nerusin konsep acara untuk BINUS TV. Sibuk banget kan? Bangeeettt...!!!
Tapi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pesan yang masuk inbox fb-ku. Sebenarnya, jika ada inbox, aku lebih sering mengabaikan kalau tidak terlalu penting, apalagi kalau sekedar bertanya kabar. Tapi, ini pesan dari kamu! Sebuah pesan "tanya kabar" yang embel-embelnya sangat panjang.
Aku semula ragu, bahkan bingung harus balas apa. Tapi, kayaknya, aku sudah sampai di titik jenuh bertahan pada ego. Aku mulai membalas. Percakapan itu mulai mencair lagi. Dan, ada kejutan yang akan terjadi pada kita. Aku langsung update "Tahun baru, cerita lama yang diperbaharui". Ya, kita adalah cerita lama yang pernah eror dan sekarang mulai diperbaiki lagi.
Ah, jika keadaan kita bisa mencair dalam hitungan menit seperti saat ini, kenapa kita tega membuang waktu selama hampir satu tahun untuk bertahan pada ego dan mengendapkan amarah dan unek-unek? Kita, memang aneh. ya, benar katamu tadi. Kita adalah dua manusia yang keras kepala. Dan, egois, tambahku. Kita pun tertawa.
"Bukan hanya kita, tapi orang-orang yang sayang sama kita juga, ikut sedih karena persahabatan kita hancur." tambahnya. Aku diam. Sadar betul, bagaimana respon orang-orang saat kita memilih untuk jalan sendiri-sendiri. Ya, seharusnya kita bersyukut, ada orang-orang yang bahagia dengan persahabatan kita, dan mereka ikut sedih ketika tahu persahabatan kita hancur.
Aku belajar dari apa yang kamu lakukan untuk kita, Ul. bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, bahkan kamu berani memulai, menghampiriku lebih dulu, menanyakan kabarku. Sementara, aku lebih memilih bertahan pada ego, walau sebenarnya, sudah lama aku ingin menyapamu. Aku benar-benar merindukan kegilaan kita. Ya, mungkin, disinilah titik temu dari selisih kita.
Pada akhirnya, sesuatu yang harus kembali itu datang dengan sendirinya, meski waktu menjadi taruhannya.
Berterima kasih kepada Allah SWT yang telah mengantarkanmu kembali untukku. Kali ini, aku akan lebih baik menjagamu, menjaga persahabatan kita tentunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar