Sosok itu sudah tenggelam di balik pintu. Magda segera menyusul. Tangannya menenteng kantong plastik hitam. Ia bergerak secepat kilat, menyusul langkah lelaki yang sejak tadi tak luput dari perhatiannya. Bukan hanya tadi, tapi sejak awal Magda menenggelamkan mata pada sorotan yang teduh.
"Tunggu sebentar!" Magda setengah berlari ke arahnya.
Ia menoleh. Ia mematung di tempatnya berdiri. Seutas senyum ia lemparkan pada Magda yang mendekat.
"Iya, kenapa, Magda?" lagi, senyum itu ia suguhkan untuk yang kedua kali pada Magda yang belum membuka mulutnya yang terkatup. Magda masih menaik-turunkan laju napasnya.
"Ini, ada sedikit oleh-oleh. Mudah-mudahan suka." Keripik bawang berukuran besar ia kantong dengan rapi. Khusus ia berikan untuknya. Siapa lagi yang hidup dipikiran Magda selain dia? Bahkan ketika liburan akhir pekan kemarin, dirinya tak libur dari rasa itu.
"Oh, terima kasih. Tidak perlu serepot ini, Magda."
Kini, plastik itu berpindah tangan padanya. Magda tersenyum puas. Lelaki itu melirik lagi pada Magda, seolah heran menyaksikan Magda yang belum juga bergegas dari tempat asal, "Ada lagi?" alisnya sedikit dinaikan ke atas.
"Hati-hati aja, kalau nanti, setelah makan oleh-oleh itu, bapak jatuh cinta pada saya. Karena dimakannya sudah saya kasih pelet." ucap Magda setengah berbisik.
"Haha.. Kamu lucu, Magda. Benarkah demikian? Bagus, jarang-jarang lho, orang yang melet bilang-bilang. Anak yang jujur. Hehe... Sekali lagi, terima kasih oleh-olehnya. Baiklah Magda, kalau tidak ada yang lain lagi, saya harus pergi sekarang." Ia membelakangi Magda. Baru satu langkah ia berjalan, ia kembali memutar tubuhnya, "Oya, tapi, kalau kamu yang jatuh cinta pada saya, berarti, pelet kamu tidak mempan untuk saya. Dan itu, artinya, senjata makan tuan, bukan? Hahaha..."
Lantas ia berlalu dengan gelengan di kepala. Magda belum bisa menutup rapat bibirnya. Ia justru menikmati obrolan ringan yang sesaat itu.
Filsafat? masihkah ku anggap aneh? Sepertinya tidak lagi. Buktinya, hingga hari ini, semua terjadi secara wajar. Ya, tak ada salahnya terlibat. Bukankah menurut bambang Sugiharto filsafat adalah gerak nalar yang wajar, sealamiah bernapas, aliran pikiran yang pada titik tertentu tak bisa dibungkam dan dihentikan.
Lalu, bagaimana dengan perasaanku yang mengalir pada sosok itu? Itukah filsafat? Sementara, rasa ini tak bisa ku bungkam dan kuhentikan. Aku ingin tertuju padanya, selalu. Melibatkan setiap hal tentang dirinya. Juga, mempertanyakan siapa dirinya. Dan mengapa rasa ini harus ada? Aku justru mempertanyakan, apa yang akan terjadi lagi ketika rasa yang kuinginkan menjadi bagian dariku? Adakah keinginan yang lebih dari sekedar memiliki?
Elisa menepuk pundak Magda, "Hei, bengong jangan di tengah jalan! Mau diambil sekarang gak buburnya? Dicari-cari di kelas, udah main keluar aja tanpa permisi. Yuk, ke kelas!"
Magda menganggukan kepala, mengikuti langkah Elisa yang cepat. Bubur buatan mama Elisa memang tiada duanya.
"Pada suatu titik, sesuatu pasti berasal pada ketiadaan," Dikutip dari novel Dunia Sophie karya Jonstein Gaarder.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar