Dengan
tergesa, Yoga menenteng ransel hitamnya. Sudah kesekian kali, mata
bulatnya melirik jam tangan berwarna hitam. Pukul 07.10. Yoga menghela
nafas. Mengabaikan pacuan adrenalin yang semakin kencang. Angkot arah
Slipi melintas. Tanpa berpikir panjang, ia melibatkan tubuhnya masuk ke
dalam. Tampak beberapa orang duduk di samping kanan-kirinya. Gadis
berkulit putih, dengan mata setengah terbuka, menggenggam erat textbook Mandarin.
"Pasti, Mahasiswa Sastra China," pikirnya. Ia melenturkan tubuhnya,
bersandar sesantai mungkin pada jendela kaca yang setengah terbuka,
memberikan ruang agar udara masuk pada celahnya.
5 menit
berlalu, belum juga ada pergerakan dari angkot yang Yoga tumpangi. Jika
keadaan normal, jarak kos dengan kampus, hanya membutuhkan waktu sekitar
10 menit. Namun, deretan mobil di depan, dengan godaan para pengendara
motor yang bersaing untuk mendapatkan jalan, membuat laju kendaraan ini
berhenti di tempat.
Padat merayap, hingga 15 menit waktu
terlewati. Tak lebih dari 500 meter jarak tempuh angkot. Yoga mulai
gelisah. Ia menebar tatap pada sekitar, pada beberapa orang yang duduk
dengan tenang, pada gadis imut bermata sipit, pada ibu gemuk berbatik
cokelat, pada bapak tua berpeci dan pada ibu muda yang tengah menimang
anaknya yang merengek kepanasan. Ah, pagi yang menyebalkan! Lagi, ia
melirik jam di tangan. Pukul 07.37, sudah telat 17 menit, sementara,
kampus masih jauh dari jangkauan.
"Bagaimana ini?" Ia berteriak dalam hati.
"Sudahlah, tenang saja. Lihat mereka di sekitarmu, mereka begitu santai
menyikapi keadaan. Bukankah macet hal yang biasa di Jakarta?"
"Tapi, aku memangkas waktu belajarku di kampus. Ini pelajaran Sejarah,
dan aku tak ingin kehilangan semenitpun waktu untuk tidak mendengarkan
penjelasan Dosenku."
"Yoga, woles lah! Cowok kok terbawa perasaan. LIhat gadis imut disampingmu, dia terlihat lebih santai darimu."
"Ah, terserah apa katamu! Aku harus keluar."
"Yoga..."
"Diam kau! Aku tak butuh ocehanmu!"
Kini, ia mulai bergelut dengan jiwa. Mencoba mencari cara agar pikiran
yang menarik ulurnya mampu ia kendalikan. Berjalan kakikah? Ah, tentu
sangat melelahkan. Atau, berdiam diri di dalam angkot menunggu macet
yang tak tahu sampai jam berapa mulai lancar.
"Aku tak mungkin pasrah. Aku harus bergerak, ya, aku harus keluar."
***
Tak menunggu godaan datang, dengan mantap ia keluar dari angkot.
membayar ongkos setengah dari biasanya. Deretan panjang kendaraan, ia
lewati dengan tergesa. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Ia
menyekanya dengan sapu tangan pemberian Elisa. Ah, gadis itu. Segera, ia
selipkan lagi sapu tangan di saku celana. Rasanya, tak ada waktu untuk
mengingat gadis itu. Ia terus melangkah.
"Oh men, sudah berapa
ratus langkah aku berjalan, belum juga kendaraan yang berderet panjang
itu bergerak. Kalau saja sejak tadi, mungkin, sudah setengahnya aku
sampai. Ah, harus kunikmati hari ini. Anggap ini olahraga ringan,
pembakar kalori."
Nafasnya naik-turun tak beraturan. Namun Yoga
terus menghiasi pikirannya dengan pikiran posistif, agar jarak yang
jauh terasa lebih mudah ia lalui, "Ada banyak jalan menuju Roma,
bukankah begitu? Jika angkot tak bisa membawaku ke kampus, aku punya
kedua kaki yang utuh untuk bergerak. Berjalan kaki itu sehat." Ia
menyemangati diri. Walau sebenarnya, ia mulai merasakan lututnya
bergetar dengan keringat yang mengucur deras.
Gedung kampus sudah terlihat, Yoga semakin menyeret langkahnya untuk bergerak lebih cepat.
***
Di parkiran motor samping kanan gerbang kampus, Yoga berpapasan dengan
Elisa yang menenteng enam bungkus bubur ayam. Ia baru saja mengunci
ganda motor matik pinknya. Smentara jaket pink yang sering Elisa
gunakan, ia masukan ke dalam tasnya, "Tumben telat, Yog?"
"Macet." Jawabnya datar. Ia enggan menatap gadis yang masih menunjukan
sikap sopan itu. Elisa berusaha mensejajarkan langkah dengan Yoga, namun
Yoga bersikeras menjauh darinya. Elisa terus mengejarnya setengah
berlari, "Eh, tahu gak, Magda juga pesan bubur ayam ke gue."
"Gue gak nanya. Gue jalan duluan, El." Yoga berlari menaiki tangga ke lantai dua.
"Huh, dia semakin aneh." Elisa mengeluh. Ia memperlambat langkahnya. Membiarkan Yoga mendahului.
Ruang 204, Yoga mengetuk pintu, ketika Dosen berdiri di depan kelas.
Yang ia tuju, adalah tatapan bening yang sering menjadi bahan
keisengannya. Wajah yang tka menunjukan sikap bersahabat selama ini,
namun ia kerap mengharapkan itu sebagai bumbu harian yang terasa hambar,
jika tak terdengar amarah atau teriakan suara cempreng Magda yang tak
suka jika Yoga datang menghampirinya.
"Magda? Kenapa ia terlihat tak bersemangat seperti biasanya?"
Yoga mengabaikan pertanyaan itu. Ia memilih duduk di bangku pojokan paling belakang. Tak lama, Elisa menyusul. Ia terlihat kerepotan membawa enam
bungkus bubur ayam pesanan teman sekelas yang sudah menjadi
pelanggannya. Elisa kembali menatap Yoga. Seperti beberapa minggu
belakangan ini, Yoga selalu memalingkan wajah jika Elisa menatapnya.
Sementara Magda, masih lurus mengarahkan tatapan pada Dosen yang tengan
menjelaskan tentang Perang Dingin.
(bersambung....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar