Apa? Filsafat? Magda setengah
berteriak, saat ia menatap jadwal kuliahnya yang baru selesai ia pajang tadi
malam. Belum selesai ia memaki keberadaannya di Jurusan yang ia anggap
"salah jalan", hari ini, harus dihadapkan oleh mata kuliah yang menurutnya
freak.
"Astaga," Magda menghela
nafas, "berada sebagai manusia asing yang terdampar di dunia antah
brantah, sungguh, menguji imanku, dan juga, emosi. Tuhan, aku lebih baik pulang!"
Ia mengepack buku pelajarannya ke dalam tas
berwarna cokelat. Rambut panjang sebahu, ia sisir dengan rapi. Sedikit, polesan
make-up menyentuh wajah tirusnya. Ia menyeret langkah ke luar kamar, mengunci
pintu kos dan menyusuri gang sempit di komplek tempatnya tinggal, menuju Kampus
yang berjarak sekitar 600 meter. Ia berjalan dengan perasaan yang tak
dimengerti.
***
Masih bertualang, imajinasinya
tentang mata kuliah yang akan menjadi awal sejarah di catatan hidup. Filsafat,
merupakan hal yang mengerikan baginya. Pasti, Dosen yang datang pagi ini,
dengan penampilan yang 'aneh', rambut disisr klimis, kaca mata tebal, jalan
setengah membungkuk, tatapan mata tajam seperti elang yang siap menerkam anak
ayam, bahasa kaku atau mungkin lebih memakai bahasa isyarat, dan juga, tumpukan
buku tebal berada dalam genggamannya. Tipikal pemikir sejati.
Aih, Magda menggeleng-gelengkan
kepala. Ia justru semakin liar berimajinasi tentang Dosen yang belum jelas
wujudnya. Mereka, orang-orang yang mendalami Filsafat, sejauh yang Magda tahu,
adalah orang yang memiliki 'dunia sendiri', melibatkan diri mereka secara
langsung dari apa yang mereka dalami. Mereka jadikan diri mereka sebagai
'tumbal' untuk sebuah pencarian. Bukankah itu kenyataan yang aneh? Magda tak
bisa berpikir lebih banyak lagi tentang hal itu.
Kelas pasti akan garing, mengantuk
sepanjang jam pelajaran, tak ada candaan dan penuh dengan bahasa isyarat yang
tak bisa dipahami maksudnya. Sementara, kelas yang menyenangkan adalah, ketika
ia bisa terlibat dalam atmosfer pembelajaran. Ah, kali ini, orang tua menjadi
objek yang pantas disalahkan. Coba saja, bukan jurusan ini yang ia pilih, ia
akan selamat dari teror Filsafat yang tak bisa dihindari.
***
Ramai cerita pagi, celoteh dari
setiap sudut kelas, tak jua mengecoh petulangan diri Magda. Ia asyik berkutat
dengan pikirannya sendiri. Bahkan, bbm dari Bobby, ia abaikan begitu saja.
Pintu berderit, kelas hening seketika. Seorang lelaki berjalan dengan tenang.
Meletakan ransel hitam, berdiri di depan kelas. Senyum, itulah kesan pertama
yang ia sampaikan pada seluruh penghunii kelas, termasuk pada Magda.
"Eh, itu Dosen Filsafat kita?
masih muda ya?" Bisik seseorang yang duduk dekat Magda.Kuping Magda, masih
jeli untuk menangkap bisikan semacam itu.
"Lelaki itu? Bukankah dia
itu...?" Magda menghentikan nafas beberapa saat, mengeserkan bola mata ke
kana-kiri, hingga pada satu titik temu, ia menyunggingkan senyum. Sesuatu
tengah melapisi dirinya. Ada hal yang ia rasakan, namun tak mudah ia tunjukan.
Magda memilih diam. Ia sepertinya, akan berdamai dengan keadaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar