Breaking News

Sabtu, 21 Desember 2013

Dalam Sebuah Doa, Part 1


Apa? Filsafat? Magda setengah berteriak, saat ia menatap jadwal kuliahnya yang baru selesai ia pajang tadi malam. Belum selesai ia memaki keberadaannya di Jurusan yang ia anggap "salah jalan", hari ini, harus dihadapkan oleh mata kuliah yang menurutnya freak.
"Astaga," Magda menghela nafas, "berada sebagai manusia asing yang terdampar di dunia antah brantah, sungguh, menguji imanku, dan juga, emosi. Tuhan, aku lebih baik pulang!" Ia mengepack buku pelajarannya ke dalam tas berwarna cokelat. Rambut panjang sebahu, ia sisir dengan rapi. Sedikit, polesan make-up menyentuh wajah tirusnya. Ia menyeret langkah ke luar kamar, mengunci pintu kos dan menyusuri gang sempit di komplek tempatnya tinggal, menuju Kampus yang berjarak sekitar 600 meter. Ia berjalan dengan perasaan yang tak dimengerti.

***
Masih bertualang, imajinasinya tentang mata kuliah yang akan menjadi awal sejarah di catatan hidup. Filsafat, merupakan hal yang mengerikan baginya. Pasti, Dosen yang datang pagi ini, dengan penampilan yang 'aneh', rambut disisr klimis, kaca mata tebal, jalan setengah membungkuk, tatapan mata tajam seperti elang yang siap menerkam anak ayam, bahasa kaku atau mungkin lebih memakai bahasa isyarat, dan juga, tumpukan buku tebal berada dalam genggamannya. Tipikal pemikir sejati.
Aih, Magda menggeleng-gelengkan kepala. Ia justru semakin liar berimajinasi tentang Dosen yang belum jelas wujudnya. Mereka, orang-orang yang mendalami Filsafat, sejauh yang Magda tahu, adalah orang yang memiliki 'dunia sendiri', melibatkan diri mereka secara langsung dari apa yang mereka dalami. Mereka jadikan diri mereka sebagai 'tumbal' untuk sebuah pencarian. Bukankah itu kenyataan yang aneh? Magda tak bisa berpikir lebih banyak lagi tentang hal itu.

Kelas pasti akan garing, mengantuk sepanjang jam pelajaran, tak ada candaan dan penuh dengan bahasa isyarat yang tak bisa dipahami maksudnya. Sementara, kelas yang menyenangkan adalah, ketika ia bisa terlibat dalam atmosfer pembelajaran. Ah, kali ini, orang tua menjadi objek yang pantas disalahkan. Coba saja, bukan jurusan ini yang ia pilih, ia akan selamat dari teror Filsafat yang tak bisa dihindari.

***
Ramai cerita pagi, celoteh dari setiap sudut kelas, tak jua mengecoh petulangan diri Magda. Ia asyik berkutat dengan pikirannya sendiri. Bahkan, bbm dari Bobby, ia abaikan begitu saja. Pintu berderit, kelas hening seketika. Seorang lelaki berjalan dengan tenang. Meletakan ransel hitam, berdiri di depan kelas. Senyum, itulah kesan pertama yang ia sampaikan pada seluruh penghunii kelas, termasuk pada Magda.
"Eh, itu Dosen Filsafat kita? masih muda ya?" Bisik seseorang yang duduk dekat Magda.Kuping Magda, masih jeli untuk menangkap bisikan semacam itu.
"Lelaki itu? Bukankah dia itu...?" Magda menghentikan nafas beberapa saat, mengeserkan bola mata ke kana-kiri, hingga pada satu titik temu, ia menyunggingkan senyum. Sesuatu tengah melapisi dirinya. Ada hal yang ia rasakan, namun tak mudah ia tunjukan. Magda memilih diam. Ia sepertinya, akan berdamai dengan keadaan.

(Bersambung...)

Tidak ada komentar:

Designed By