Aku Lia. Sudah lumrah orang memanggil namaku seperti itu. Sekarang menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di sebuah Universitas Swasta di Jakarta. Menapak tilas kehidupanku yang tak mudah, tentu menyeretku pada pembentukan karakter dan cara berpikir yang semakin berubah.
Aku kos di Jakarta. Tinggal sendiri, jauh dari pantauan orang tua. Ini bukan pertama kalinya aku hidup sendiri. Sejak SMP, aku memang tinggal di Kos, dan intensitas pertemuanku dengan orang tua sangat jarang. Sehingga, aku posisikan diriku as independent person. Karena aku terbiasa hidup mandiri. tahun 2013 ini, aku baru menikmati bangku kuliah. Karena bagiku, belajar tak mengenal batas waktu. Mungkin, tahun-tahun sebelumnya, aku diajarkan hidup untuk mengenal dunia luar sebelum aku menikmati kehidupan sebagai anak kuliah. Aku syukuri saja. Toh, jalan hidup setiap orang berbeda-beda.
Sudah setengah tahun aku di Jakarta. Aku mulai terbuai oleh kesibukan yang menuntutku. Aku bahkan lupa, bahwa aku adalah bungsu dari empat bersaudara. Yang di belakangku, ada kekhawatiran kedua orang tua dan kakak-kakakku. Aku baru menyadari itu. Saat kakak sulungku mengirim sms.
"Dek, apa kabar? Kemana saja gak kasih kabar? ya, walau sesibuk apapun, kasih tahu kabarmu ke rumah! Kami khawatir dengan keadaanmu. Apalagi, kamu itu anak gadis, hidup sendirian di Jakarta. Kami sangat khawatir."
Memang, seminggu belakangan ini aku tak mengabari keluarga, bahkan sms sekalipun. Aku tidak bermaksud membuat mereka khawatir. Hanya saja, aku merasa bahwa aku sudah dewasa. Sudah bisa bertanggung jawab terhadap hidupku. Aku pun sedang tak terlalu berminat berkomunikasi disaat-saat seperti ini. Aku hargai kekhawatiran itu.
Aku mulai mengirim mereka pesan, atau sekedar mengabarkan bahwa aku baik-baik saja. Walau sebenarnya, ada hal yang tak bisa aku bagi pada mereka. Aku tak bisa mengumbar cerita pada keluarga, apalagi yang berhubungan dengan cerita duka. Aku lebih memilih diam, atau bercerita hal lain yang tak menimbulkan kekhawatiran mereka.
Aku sedang bermasalah beberapa hari ini. Aku gelisah. Aku memilih menghindari dari teman-teman. Ada masalah besar yang memberatkan pikiranku. Tapi, tidak bisa aku bagi disini. Kalau sedang bermasalah seperti ini, aku lebih senang mengurung diri di kamar. Menghindari kumpul-kumpul dengan teman. Sampai pada hari minggu kemarin. Aku bertemu dengan sahabat lamaku. Dia Eva. Eva sudah lama bersamaku. Dia sudah dua kali menjengukku disini.
Sejak 2009 lalu, kami menjadi satu kesatuan yang saling mengisi. Aku yang cenderung aktif, bersemangat dan penuh dengan rasa optimis, sering mendapatkan kedamaian dari cara Eva menyikapiku. Ia menjadi penasehat yang baik, Ia menjadi pengontrol laju pikiranku yang kadang keluar jalur. Ia membuatku tenang saat aku benar-benar merasa gelisah. Begitupun denganku. Eva adalah seorang perasa yang selalu menganggap dunianya tak menyenangkan, agak pesimis dan sedikit pasif, sering aku kompor-kompori untuk terus bersemangat. Menyikapi masalah bukan sekedar dengan perasaan tapi juga logika. Dan aku sering berkata pada Eva, bahwa jangan menjadi orang yang terlalu baik, karena dia akan dimanfaatkan orang. Eva itu adalah sahabatku yang tidak bisa mengatakan "TIDAK". Hatinya terlalu lembut. ia terlalu tulus. Bahkan, kelembutan dan ketulusannya itu, sering menyakiti dirinya sendiri. Ia lebih rela menangis demi menghapus air mata orang yang ada disekitarnya.
Ku ibaratkan Eva adalah air, dan aku adalah api. Saat apiku berkobar, Eva datang menyiramiku, memberikan kesejukan itu. Sementara, saat Eva menjadi bongkahan es yang beku, aku bakar bongkahan beku itu agar kembali mencair seperti wujudnya semula.
Setelah pertemuan itu, aku kembali berpijak ke bumi. Kemabli menyemangati diriku, bahwa aku harus "SEMANGAT". Eva bilang, aku pasti bisa! Ya, aku harus bisa. Aku kangen temanku. malam hari, aku berjanji bertemunya di depan Sevel. Sebelum itu, ada sms datang dari kakak sulungku, "Dek, pulsa udah ada?"
Wah, kakakku. Aku cek, ada pulsa tambahan di hapeku. mengucapkan terima kasih pada perhatiannya. Memang, walau jutek dan kadang menyebalkan, kakakku ini sangat agresif, selalu menjadi orang pertama yang bertanya kabar tentangku.
kakak ketigaku pun mengirim sms. Penato ulung yang kini menetap di Sukabumi,"Su, apa kabar bungsu? Sekarang lagi apa? Udah makan?" Kak Jibril, aku sering memanggilnya seperti itu, tak pernah memanggilku nama. Dia senang memanggilku "bungsu".
Beda dengan kakak keduaku, ayah dari seoran puterinya yang kini menetap di Palembang, dia senang memanggilku dengan panggilan "Duwok", yang artinya cubby. Bahkan keponakannya sendiri, tak pernah memanggilku "Bibi Lia". Dia diajari ayahnya dengan memanggilku "Bibi Uwok."
Kalau kedua orang tuaku, senang memanggilku "Iteung". Itu panggilan sayang yang merupakan kata dasar dari "Hideung", yang artinya hitam. Ya, itulah sekilas panggilan yang begitu banyak untukku. Aku terima saja dengan lapang dada.
Aku tak seharusnya mengurung diri. Tak menganggap bahwa aku sendiri. Toh, kenyataannya, keluargaku peduli dengan diriku. Mereka mengkhawatirkanku. Hanya, sikapku yang terlalu menutup diri, dan terkesan tak butuh siapa-siapa, membuat mereka harus ekstra keras memahami sikapku.
Anyway, aku bahagia tercipat sebagai bagian dari mereka. Aku berada diantara orang-orang yang menyayangiku. Menjadikan aku berharga dan memberiku cinta. Thanks for being a part of my life. Kalian adalah anugerah terindah dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar