Breaking News

Jumat, 06 September 2013

Isyarat Krakatau di Nasi Udug Rabeg (Krakatau Writing Camp)


Selepas Maghrib, batukku semakin bertambah, nafas tak mampu ku kendalikan. Tertahan disatu titik dan mengunci keleluasaanku, darah mulai naik keubun-ubun. Dingin ini menjalar ke seluruh tubuh. Ini, pertama kalinya aku meminta orang tuaku mengantarkan aku berobat. Sakit ini harus dilawan. Dengan sisa udara di paru-paru, aku mengendalikan kelemahan selama perjalanan menuju Klinik terdekat. Terkulai lemah di bahu Abah. Abah – sosok ayah sekaligus sahabat terbaikku, selalu menjadi suporter terhandal nomor satu.

Wajah pucatku menyambut senyum ramah Resepsionis Klinik. Bau obat-obatan menyengat, membuat mual ini menggelitik isi perut. “Masuk, Nong! Rebahan disitu!” Perintah seorang Dokter. Aku merebahkan tubuh pada matras di ruang Klinik yang ukurannya sekitar 3x2 meter. Dia mengecek tensi darah dan denyut nadiku.

“Kamu sakit asma. Mau gak disuntik? Biar bisa bernafas lega.” Tawaran yang datar.
Aku menggeleng. Ini yang aku benci. Berurusan dengan jarum suntik adalah petaka. Aku ngeri membayangkan tusukan itu menyentuh kulitku, “Gak ah, Dok. Saya takut.”

“Kalau ingin sembuh, harus disuntik! Duduk, Nong!” Tegas dia menyuruhku mengikuti perintahnya. Dokter berdiri disebelah kiri, mengarahkan jarum suntik pada lengan kiriku. Tak sedikitpun pandangan kuarahkan pada jarum suntik. Aku menutup mata, membuang jauh-jauh ketakutan itu. Perlahan, jarum itu ditusukan pada kulitku, nyeri ini membuatku mengaduh. Seketika, ngilu itu menjalar pada urat-urat lenganku. Dokter menyuruhku bangun. Dia melepas tusukan itu. Aku keluar membawa beberapa obat setelah registrasi selesai.

Ketakutan mampu kubunuh malam ini. Krakatau Writing Camp, aku harus datang!
***

Seperti yang telah dijanjikan, Jumat 23 Agusutus 2013, pukul 23.00, berkumpul di depan sebuah mini market dekat loket pembayaran. Perkenalan singkatpun terjadi antara peserta yang tak semuanya aku kenali. Bersenyawa dalam kegemaran seirama, kami berbagi cerita. Aku segera berdiri, ketika dikejutkan oleh kehadiran seorang lelaki. Mematung, mengamatinya dari sudut kiri. Dia menatapku, mata kami beradu. Aku tersenyum, menghampirinya segera.

“Lia?” Dia menunjukan tangan padaku. Aku mengangguk.
 
“Mamet kan?” Tawa itu melebur. Kami berjabat tangan, bertanya kabar masing-masing. Tak menyangka, kali ini aku dipertemukan dengan teman SMA dalam keadaan tak terduga. Mamet memang sudah lama ku kenal, tapi, pertemuan kami kali ini, memberikan kesan berbeda. Bertemu setelah empat tahun lulus dari SMAN 1 Anyer silam. Kapal sudah menyandar. Pukul 24.00, sesaat aku meninggalkan pulau Jawa. Menyelami biru laut dengan tawa yang berbaur dalam satu nada. Kami bersama. Menyatukan perbedaan dalam gurauan santai yang memecah kejenuhan. Menikmati perjalanan, menerawang sekitar dengan kejelian tatapan.
 
***

Bakauheni, sudah ku injakan kaki disini. Ramai pengunjung tak mengecoh kebersamaan. Melangkah, menuju angkot kuning arah dermaga Canti. Disana, penyeberangan menuju pulau Sebesi. Pulau tempat kami menginap sebelum akhirnya menuju Sebuku.
Bersama Mamet, aku menaiki kapal. Duduk diatas, membiarkan angin meniupkan kesejukannya pada tubuhku yang masih sanggup menerima hempasan lembutnya. Mamet duduk di depanku. Sesekali, dia menjepretkan kameranya padaku. Perjalanan menyenangkan. Setiap sudutnya menyampaikan pesan damai. Mentari berbagi cahaya pada setiap penjuru dunia. Terangnya menyegarkan binar mata. Sebentar lagi kapal mendarat. Hamparan pulau-pulau kecil, menyita perhatian. Aku memanggil Mamet, memintanya mengabadikan gambarku diatas kapal, dengan background pulau-pulau indah.

“Met, fotoin dong!” Aku berteriak. Mamet menangkap teriakanku, wajahnya mengarah padaku. Ia mencoba mengerti ketika mulutku berkata, namun bising mesin kapal, menyadap suaraku. Dia tak mendengar. Aku memanggilnya lagi, “Met, tolong fotoin!”

“Apaaaa???” Ia berteriak. Aku kembali mengulangi ucapan yang sama, masih saja, dia tak dapat menangkap permintaanku. Aku melambaikan tangan, menyuruhnya duduk disampingku. Ia bergerak mendekat. Aku menyondongkan tubuhku pada telinga Mamet, “Met, tolong fotoin! Pemandangannya bagus.”

“Oh.” Dia mengangguk. Senyum selalu mengiringi percakapannya, “Sini, saya fotoin! Lagian, tadi gak kedengeran sih!” Tambahnya.

“Jelas gak kedengeran, suara mesinnya berisik gini. Daripada pemborosan kata, mending, pakai bahasa isyarat aja, Met! Kalau gak, nulis di buku.”

“Ngapain repot-repot? SMS juga bisa.”
 
“Oh, Iya ya?” Aku mulai beraksi di depan kamera. Mamet menjadi fotograferku kali ini. Bahasa isyarat berulang ketika komunikasi dengan suara tak tersalurkan. Aku berbagi sedikit kisah dengan Mamet. Walau tak banyak bicara, Mamet penyimak yang baik.
***

Menjelajahi biru laut menuju pulau Sebuku, explore terumbu karang dan bermalam di homestay, Menaiki anak Gunung Krakatau merupakan keistimewaan perjalanan kali ini. Poin terpenting dari perjalananku adalah, memiliki kalian, teman-teman baru dengan latar kehidupan berbeda. Obat ini, setia menemani perjalanan seru. Sakit tak kuindahkan. Aku paksakan untuk tetap sehat. Melepas Jawa di jumat malam; menyampikan sayonara pada Sumatera di minggu malam ini. Packing, saatnya pulang setelah explore alam selesai. Aku dan Mametlah peserta yang pulang ke Anyer. Sementara yang lainnya, ke Serang, Bogor, Bandung, Sukabumi atau Jakarta. Kami berjanji akan pulang bersama. Ya, perjalanan panjang hampir selesai. Kapal menyandar di Merak pada malam hari. Kekhawatiranku pupus ketika Mamet ada bersamaku saat itu. Pulang ke Anyer, sendiri, di tengah malam seperti ini, sangat tidak aman untuk seorang perempuan sepertiku.

“Kamu pulang sama saya aja!” Mamet berdiri di dekatku bersama mas Edi, teman kerjanya di sebuah perusahan Kimia di kawasan Ciwandan.

“Beneran ya, Met!”

“Iya, saya bawa motor. Motor di titipin di Masjid Agung, jadi kesana dulu.”

“Tapi saya laper, Met!”

“Di dekat parkiran kan ada nasi uduk rabeg, tuh. Makan disitu aja!” Mas Edi menawarkan.
Nasi uduk rabeg? Wah, itu makanan yang aku suka. (Sebenarnya sih, hampir semua makanan enak itu aku suka.) :)

Baiklah, aku setuju. Menaiki mobil angkot merah arah Cilegon bersama mbak Nurul, mas Edi dan Mamet, membiarkan laju itu berlalu. Jalan sekitar Cilegon sudah lenggang. Mata kami tertuju pada gadis yang menangis dipinggir jalan, Mamet mengamatinya seksama. Aku tak yakin dia memperhatikan tangaisan perempuan itu. Bisa saja, dia  senang melihat perempuan ber-rok mini dengan pakaian yang serba terbuka. (Haha.. piisss ya Met, ini persepsi saya aja!). Hal itu, membuyarkan knsentrasi mamet hingga lupa mengehntikan angkot meski tempat tujuan sudah terlewati.

“Kok udah nyampe Ramayana?” Tanya mas Edi kaget.

“Emang.” Jawabku sepolos-polosnya.

“Wah, kelewat dong!”

Mbak Nurul sudah turun. Menyampaikan salam akhir pertemuan malam ini. Kami mengikuti angkot memutar dan berhenti tepat di depan Masjid Agung. Berjalan beberapa menit, aku duduk di warung nasi udug rabeg, “Pesan tiga ya! Saya sama Mamet mau ambil motor dulu!” Ucap mas Edi.
Tiga piring nasi rabeg tersedia. Aku masih menatapnya hingga mereka berdua datang. Malam kebersamaan dengan sepiring nasi udug rabeg. Abah meneleponku, “Dimana, Ya?”

“Di Cilegon, Bah.”

“Pulangnya jadi sama teman SMA kamu? Ya sudah, hati-hati di jalan ya! Sampaikan terima kasih abah sama teman kamu yang udah mau pulang bareng.” Abah sudah tahu bahwa aku akan pulang dengan teman SMAku ketika meneleponku saat kapal baru bersandar di Merak tadi.
Ya, perjalanan selesai kali ini. Perut kenyang, saatnya pulang. Menyusuri jalan lenggang arah Anyer. Kali ini, Mamet lebih banyak bertanya. Obrolan santai itu menjadi bumbu kebersamaan aku dan temanku. Anti macet di malam hari, membuat perjalanan singkat. Abah sudah duduk di depan penjual martabak dekat lapangan Anyer. Mamet menghentikan motornya, mencium tangan abah, berbincang sekejap. Tak lama, Mamet pamit, berlalu dari tatapanku.

“Itu teman kamu? Syukurlah, kamu gak di bawa kabur.” Abah berkelakar. Kami melanjutkan perjalanan.

“Memangnya aku apaan dibawa kabur segala? Ngaco akh.” Semilir angin pantai menerpa laju motor. Dingin itu menusuk tulang. Aku dan Abah menggigil. Sebelum sampai di rumah, mencari pecel ayam di warung pinggir jalan. Sekian!




2 komentar:

Nurul Noe mengatakan...

Ealaah.. kamu lagi sakit to waktu itu, untung nggak kenapa2 ya.. tapi tetep narsis aja deh :D

lia falsista mengatakan...

hehehe... ya gitu deh!
narsis emang udah bawaan mbak nurul. :D

Designed By