Ramai teman-teman
bikin bolg, jadi latah juga nih. :D
Sebenarnya, udah lama
juga bikin blog, sayangnya, akun yang lama lupa n' gak bisa dibuka lagi.
:'(
Nekat deh ngotak atik
lagi blog baru. Jadilah ini tampilan perdana di catatanku.
Enjoy your reading ya
teman! ;)
Senin
malam, 02 September 2013 menjelang tidur, aku menerima sms dari Ivan, teman
seangkatanku di kampus , “Lia, malam. Ini gua Ivan. Eh, lu besok ke JCC naik
apa?” Jawab ASAP ya! Sorry ganggu malam2.”
Beruntung,
pesan itu terkirim saat mataku masih awas. Kalau sudah mnjelajahi dunia mimpi,
semua bunyi-bunyian, bahkan ledakan bom sekalipun gak akan mengganggu tidur
manis menjelang pagiku. Aku segera membalas, “Naik taxi bareng Babay and
Stella. Lu sendiri gimana?” Karena memang, siang tadi Babay mengajakku naik
taxi ke JCC dan berjanji akan bertemu di depan kampus jam tujuh pagi. Stella,
yang paling rajin tanya-tanya tentang inaugarasi dari jauh-jauh haripun ku
ajak. Nasib perantau yang tak terlalu tahu banyak Jakarta, memlih taxi sebagai
kendaraan pilihan, karena nyasar bukan sebuah tujuan cermat. Jadi, sudah
kuprediksi, penghuni taxi untuk inaugarasi ke JCC hari Selasa ini, adalah empat
orang. Diusahakan cukup.
***
Tiba
pada hari yang ditunggu, tepat jam 07.00, Babay dan Stella berdiri manis di
seberang gerbang Kampus. Melambaikan tangan, menyampaikan senyum hangat setelah
pertemuan kami berjeda dalam hitungan minggu, “Gemukan kamu sekarang!” Babay
memulai percakapan padaku.
Aku
tersenyum, menghela nafas yang mulai berpacu cepat. Ya, berat badan ini
bertambah setelah tinggal di rumah dalam waktu yang cukup lama. Makan-tidur,
makan-tidur kerjaku selama di rumah.
“Ivan
mau gabung sama kita. Cukup kali, empat orang setaxi.” Jelasku.
Serentak,
kedua temanku itu menjawab setengah berteriak, “Aku juga bareng temanku.” Babay
lebih awal menjawab.
“Kak
Hermawan juga ikut bareng kita.” Tambah Stella.
Jadi,
kenyataannya memang unpredictable.
Masing-masing dari kami membawa teman. Baiklah, berenam adalah jumlah yang
banyak untuk ukuran satu taxi. Rencana akan menupuk penumpang dalam jumlah
ekstrem itupun tercetus begitu saja. Itu urusan nomor dua. Permasalahan
awalanya adalah, dimana taxi itu dapat kami temukan?
Berselang
5 menit, Ivan menyusul dengan nafas terengah-engah. Wajahnya masih tertutup
masker cokelat. Tangan kanannya memegang sebotol susu cokelat. Aku melambaikan
tangan pada Ivan ketika mata yang terbalut kaca mata itu berusaha menangkap
keberadaanku dan teman lainnya.
Menyusuri
tepian jalan dipagi hari, berhambur dalam hiruk pikuk kendaraan yang lalu
lalang, kami mencari taxi. Berharap, ada taxi yang siap mengantarkan ke JCC.
Deretan mahasiswa dengan tujuan sama, berjejer dipinggir jalan menunggu taxi.
Itu adalah kenyataan mustahil mendapatkan taxi dalam waktu cepat. Menghubungi
pihak call center sebuah taxipun menginformasikan bahwa kemungkinan taxi
bisa datang satu jam mendatang. Sementara waktu terus meninggalkan angka awal.
Berdetak pada angka-angka baru. Semakin bertambah. Siangpun mulai merayap.
Hermawan, kakak tingatakanku, berjalan paling depan, menuju Batu Sari,
pangkalan Kopaja 91. Pikiran kami ternyata satu arah, “Kita ke Grogol aja.
Disini gak mungkin bisa dapat taxi.” Cetusku.
“Nah,
itu tahu maksud gua.” Jawabny. Menyeberang jalan, menghampiri Kopaja yang masih
mangkal, kami berduyun-duyun dengan nafas terangah. Macet menjadi pemadangan
harian yang akan aneh jika tiba-tiba saja lenggang. Jalan padat merayap. Bunyi
klakson dan teriakan kondektur meramaikan pagi yang malang ini.
“Apa?
Ke Grogol? Gila, gua tadi abis dari Grogol dan sekarang ke Grogol lagi?” Wajah
lesu itu tergambar jelas dari muka Ivan.
Aku
tertawa, “Gak apa-apa, Van. Namanya juga perjuangan.” Tak ada penolakan,
semuanya mengikuti jalur yang telah di setting secara dadakan. Menaiki
Kopaja yang sesak penumpang, kami mulai melanjutkan percapakan. Menikmati
kebersamaan dengan candaan dan tawa ringan. Kemacetan sedikit terabaikan. Walau
panik itu tak terhindarkan. Sudah jam 08.00, masih berkutat di dalam Kopaja.
Jalan benar-benar padat merayap. Hermawan menyarankan kami untuk menunggu taxi
d depan Citraland. Aku hanya mengiyakan.
“Ongkosnya
berapa kalau naik yang beginian?” Tanya Babay dengan wajah polosnya.
“Tiga
ribu.” Jawab Hermawan. Ongkos yang sudah dikolektif itupun diberikan pada supir
Kopaja yang tak memiliki kondektur. Tepat di depan Halte Untar kami turun.
Berdiri berjejer menyetop taxi, tak satupun taxi yang berhanti. Menitpun sudah
berlalu, kejenuhan ini tumbuh dipikiran masing-masing. Berjalan maju, masuk ke
dalam Citraland. Berharap, ada pangkalan taxi yang menjejerkan taxi-taxi. Di
parkiran, dua taxi berderetan, kami berharap, taxi itu mau mengantarkan kami ke
JCC. Sayang, masih saja tak bisa. Mereka tengah menikmati istirahatnya.
Berjalan, panas-panasan, lelah, dan rasanya ingin marah-marah. Tak
membayangkan, hari ini menjadi hari terapesku selama di Jakarta. berjalan tanpa
lelah, perjuangan yang luar biasa. Meski tak jarang mengeluh kelelahan. Aku
harus terus mengikuti langkah teman-teman yang mencari cara untuk menghentikan
taxi. Setengah jam berdiri, taxi tak juga bersedia untuk berhenti. Jika tak
penuh, lambaian tangan itu menjadi jawaban.Benar-benar awal yang melelahkan.
“Mendingan
kita pisah deh! Kalau gerombolan gini, taxi gak mau berhenti!” Ivan
mengusulkan. Kami berpencar menjadi dua kelompok. Aku bersama Hermawan dan
Stella. Sementara Ivan bersama Babay dan temannya, Gaby. Taxi berwarna putih
kali ini berhenti. Nafas lega ini menyambut kebebasan dari hukuman pagi yang
menyebalkan. Membuka pintu, duduk berdua dengan Stella di belakang. Hermawan
memilih duduk di depan. Aku tertawa, tersenyum pada ketiga kawanku yang masih
memasang wajah melas. Meninggalkan mereka dalam masa perjuangan. Melambaikan
tangan perpisahan.
“Akhirnya,
ada juga taxi yang mau berhenti.” Ucap syukurku pagi itu.
“Kenapa
Dek, gak ada taxi yang mau berhenti ya? Hehehe… Inikan jam kerja, Jadi agak
susah dapat taxi.” Supir taxi langsung ikut bergabung untuk bercakap-cakap.
Perjalanan singkat itu dihiasi oleh cerita supir taxi tentang keberuntungannya
hari ini. baru keluar jam 08.00 pagi, dengan jarak yang dekat, sudah tiga
penumpang yang menaiki taxinya. Ya, mungkin ini adalah hari keberuntungan untuk
supir taxi itu. Sementara, untuk kami, adalah hari terapes yang semoga saja tak
terulang untuk yang kedua kalinya. Dingin AC mengurangi kepenatan yang masih
tersisa. sisa-sisa kelelahan itu terbayar oleh helaan nafas lega.
Ttaxi sudah sampai di pintu masuk ke JCC, “Dek, siapkan uang
lima ribu untuk parkir!” Stella mengelurkan uang, memberikannya pada supir
taxi.
“Ya,
itulah Negara kita, Dek! Taxi saja harus bayar biaya masuk. Padahal, cuma lewat
saja. Diantara tempat-tempat seperti ini, cuma di Citraland taxi yang gak bayar
biaya masuk.”
Aku
manggut-manggut. Tak peduli dengan apa yang terjadi. Dalam benakku hanya ingin segera samapai di Plenary hall JCC Senayan. Laju berhenti di depan sebuah gerbang. Seorang Scurity berdiri
tepat di gerbang yang ukurannya tinggi besar. Ongkos sebesar Rp 27.000 menjadi
tarif akhir perjalanan kami. Mengucapkan terima kasih pada supir taxi yang
menjadi penyelamat kami pagi ini, perpisahan itupun terjadi. Bertiga, kami
masuk, memadati kawasan JCC bersama ribuan Mahasiswa kampusku. Saatnya mencari
teman sekelas. ABN17 adalah kelasku bersama beberapa teman lainnya dari jurusan
berbeda. Gladys berdiri. Ditangannya tertuliskan ABN17. Tandanya aku harsu menghampirinya. Dia adalah BC (Buddy Controller) dari jurusan yang sama di kampusku. Aku menghela nafas.
Akhirnya, sampai juga di JCC tanpa telat. Pikiran itu terarah pada Ivan dan
kawan-kawan. Aku menghubungi Babay, namun nomornya tak aktif. Aku menghubungi
Ivan, tak ada jawaban. Yessi datang, mengantarkan aku dan Stella ke JCC.
Bergabung bersama teman lainnya. Ya, aku duduk disamping Stella. Menikmati hempasan
dingin AC. Mataku perpaku pada ribuan mahasiswa baru yang sudah memadati JCC
Senayan. Pukul 10.00 aara segera di mulai. Ivan dan Babay datang. Akhirnya,
perjuangan menuju JCC itu menjadi catatan istimewa namun berharap, tak terulang
untuk kedua kalinya.
Pukul
10.00, Acara dimulai. Mengikuti perjalanan dari acara formal hingga nonformal.
Aku cukup terhibur ketika menyaksikan pertunjukan-pertunjukan dari UKM yang
luar biasa. Apalagi, ketika theater ST Manis tampil. Menjadi kekhasan
tersendiri untuk bersorak. Pementasan theater yang berjudul “Petruk Dadi
Wayang” benar-benar menghibur. Apalagi, disebelahku Babay berteriak histeris
melihat kakak tingkatanya tampil.Sejak awal, memang Babay suka dengan Aldi, pemain teater berbakat yang good looking. Aku puas meledeknya. Yang membuatku merasakan
penampilan ini spesial karena UKM band menyayikan lagu “Bento”-nya Iwan fals.
Iwan fals adalah penyanyi favoritku. Bangga, di JCC ini, lagu Iwan fals menggema di gemuruhnya ribuan penonton. Aku ikut bernyanyi. Akustik yang menyuguhkan sentuhan biola dan
gitar disajikan oleh perempuan berhijab dan menyanyikan lagu favoritku yang
dipupelrkan oleh Christina Perry “A Thousand Year”.Cukup terhibur dan melupaakan sejenak penderitaan pagi tadi.
Pukul 14.00, acara selesai. Ribuan Mahasiswa keluar berduyun-duyun. Pdatnya menyesakan. Aku tak berhenti mengawasi Ivan da babay, khawatir mereka terpisah dariku. Perut sudah keruyukan. Lapar menggila tengah melanda. Rencana, sebelum pulang, akan mencari food court disekitar sini. Sayangnya, tak ku temukan tempat makan itu. Hanya deretan mobil yang mengantri menuju pintu keluar, juga jejeran pejalan kaki yang hendak keluar. Ivan menyalakn GPS nya. Mencari tahu halte busway terdekat.
"Kayaknya disebelah sana deh!" Ucap Ivan tak yakin. Aku lebih tak yakin lagi, karena benar-benar awam daerah sini.
"Mending tanya pedagang aja!" Saran Babay.
Mendekati seorang pedagang ketoprak pinggir jalan. Keramahan itu disampaikan oleh senyum yang terus berkembang dari bibirnya ketika bertutur, "Dari sini, kalian jalan lurus kesana! Ada belokan, kalian belok ke kanan."
"Jauh gak, Bu?"
"Hehehe.. jauh gak ya?" Dia berhenti sejenak, "Ya, gak terlalu jauh kok."
Itu adalah sebuah tanda bahwa perjalanan yang harus dittempuh lumayan jauh. Dari senyumnya saja sudah tak yakin dengan ucapan. Baiklah, I have to fight! Semangat! Semangat! Gak boleh menyerah. Terlanjur niat jalan, walau kaki sudah mulai lecet. Aku tak sanggup mengejar langkah seribu Ivan. Langkahku tertinggal. Tak bisa menghilangkan lelah. Tiba dibelokan, sebuah halte busyway terlihat. Menuju loket pembayaran, mengeluarkan uang Rp 3.500, saatnya menunggu busway lewat. Bersama beberapa penumpang lagi, aku berdiri. 15 menit berselang, busyway lewat. Laparku tak tertahankan. Haus ini menyiksa. Minumanku sudah habis. Berdesakan di busyway, akhirnya tiba di Mall taman Anggrek untuk menikmati makn siang yang super telat.
"Nanti, kalian naik busyway ke arah Slipi Kemanggisan, terus, belok kanan. Elu pada naik mikrolet nomor 24. Nanti turun di depan kampus." Jelas Ivan sambil menyumpiti nasi dan lauknya. Dia lebih tahu daerah Jakarta. Sementara aku dan BAbay adalah perantau. babay seorang gadis manis asal Padang.
Bersama Ivan, berjalan menuju halte bs=usway sekitar Anggrek, kami berpisah karena arah yang berlawanan. Berhenti di Slipi Kemanggisan. Aku lumayan kesal dengan keadaan. Ternyata, Slipi Kemanggisan itu dekat dengan Slipi Jaya. Tempat yang sering aku lewati. Kalau saja tahu, tak mungkin aku susah payah mengejar taxi hingga Grogol. Ya sudahlah! Semuanya terlanjur terjadi. Nikmati saja sebagai hadiah hari ini. Sekarang, lebih baik tidur. Menikmati kehidupan baru di dunia mimpi. Good night!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar