Breaking News

Rabu, 04 September 2013

Ini, Bukan Sebuah Petualangan


Ramai teman-teman bikin bolg, jadi latah juga nih. :D
Sebenarnya, udah lama juga bikin blog, sayangnya, akun yang lama lupa n' gak bisa dibuka lagi. :'( 
Nekat deh ngotak atik lagi blog baru. Jadilah ini tampilan perdana di catatanku.

Enjoy your reading ya teman! ;)

Senin malam, 02 September 2013 menjelang tidur, aku menerima sms dari Ivan, teman seangkatanku di kampus , “Lia, malam. Ini gua Ivan. Eh, lu besok ke JCC naik apa?” Jawab ASAP ya! Sorry ganggu malam2.”

Beruntung, pesan itu terkirim saat mataku masih awas. Kalau sudah mnjelajahi dunia mimpi, semua bunyi-bunyian, bahkan ledakan bom sekalipun gak akan mengganggu tidur manis menjelang pagiku. Aku segera membalas, “Naik taxi bareng Babay and Stella. Lu sendiri gimana?” Karena memang, siang tadi Babay mengajakku naik taxi ke JCC dan berjanji akan bertemu di depan kampus jam tujuh pagi. Stella, yang paling rajin tanya-tanya tentang inaugarasi dari jauh-jauh haripun ku ajak. Nasib perantau yang tak terlalu tahu banyak Jakarta, memlih taxi sebagai kendaraan pilihan, karena nyasar bukan sebuah tujuan cermat. Jadi, sudah kuprediksi, penghuni taxi untuk inaugarasi ke JCC hari Selasa ini, adalah empat orang. Diusahakan cukup.

***
Tiba pada hari yang ditunggu, tepat jam 07.00, Babay dan Stella berdiri manis di seberang gerbang Kampus. Melambaikan tangan, menyampaikan senyum hangat setelah pertemuan kami berjeda dalam hitungan minggu, “Gemukan kamu sekarang!” Babay memulai percakapan padaku.

Aku tersenyum, menghela nafas yang mulai berpacu cepat. Ya, berat badan ini bertambah setelah tinggal di rumah dalam waktu yang cukup lama. Makan-tidur, makan-tidur kerjaku selama di rumah. 

“Ivan mau gabung sama kita. Cukup kali, empat orang setaxi.” Jelasku.

Serentak, kedua temanku itu menjawab setengah berteriak, “Aku juga bareng temanku.” Babay lebih awal menjawab.

“Kak Hermawan juga ikut bareng kita.” Tambah Stella.

Jadi, kenyataannya memang unpredictable. Masing-masing dari kami membawa teman. Baiklah, berenam adalah jumlah yang banyak untuk ukuran satu taxi. Rencana akan menupuk penumpang dalam jumlah ekstrem itupun tercetus begitu saja. Itu urusan nomor dua. Permasalahan awalanya adalah, dimana taxi itu dapat kami temukan?

Berselang 5 menit, Ivan menyusul dengan nafas terengah-engah. Wajahnya masih tertutup masker cokelat. Tangan kanannya memegang sebotol susu cokelat. Aku melambaikan tangan pada Ivan ketika mata yang terbalut kaca mata itu berusaha menangkap keberadaanku dan teman lainnya.

Menyusuri tepian jalan dipagi hari, berhambur dalam hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang, kami mencari taxi. Berharap, ada taxi yang siap mengantarkan ke JCC. Deretan mahasiswa dengan tujuan sama, berjejer dipinggir jalan menunggu taxi. Itu adalah kenyataan mustahil mendapatkan taxi dalam waktu cepat. Menghubungi pihak call center sebuah taxipun menginformasikan bahwa kemungkinan taxi bisa datang satu jam mendatang. Sementara waktu terus meninggalkan angka awal. Berdetak pada angka-angka baru. Semakin bertambah. Siangpun mulai merayap. Hermawan, kakak tingatakanku, berjalan paling depan, menuju Batu Sari, pangkalan Kopaja 91. Pikiran kami ternyata satu arah, “Kita ke Grogol aja. Disini gak mungkin bisa dapat taxi.” Cetusku.

“Nah, itu tahu maksud gua.” Jawabny. Menyeberang jalan, menghampiri Kopaja yang masih mangkal, kami berduyun-duyun dengan nafas terangah. Macet menjadi pemadangan harian yang akan aneh jika tiba-tiba saja lenggang. Jalan padat merayap. Bunyi klakson dan teriakan kondektur meramaikan pagi yang malang ini.

“Apa? Ke Grogol? Gila, gua tadi abis dari Grogol dan sekarang ke Grogol lagi?” Wajah lesu itu tergambar jelas dari muka Ivan.

Aku tertawa, “Gak apa-apa, Van. Namanya juga perjuangan.” Tak ada penolakan, semuanya mengikuti jalur yang telah di setting secara dadakan. Menaiki Kopaja yang sesak penumpang, kami mulai melanjutkan percapakan. Menikmati kebersamaan dengan candaan dan tawa ringan. Kemacetan sedikit terabaikan. Walau panik itu tak terhindarkan. Sudah jam 08.00, masih berkutat di dalam Kopaja. Jalan benar-benar padat merayap. Hermawan menyarankan kami untuk menunggu taxi d depan Citraland. Aku hanya mengiyakan.

“Ongkosnya berapa kalau naik yang beginian?” Tanya Babay dengan wajah polosnya.

“Tiga ribu.” Jawab Hermawan. Ongkos yang sudah dikolektif itupun diberikan pada supir Kopaja yang tak memiliki kondektur. Tepat di depan Halte Untar kami turun. Berdiri berjejer menyetop taxi, tak satupun taxi yang berhanti. Menitpun sudah berlalu, kejenuhan ini tumbuh dipikiran masing-masing. Berjalan maju, masuk ke dalam Citraland. Berharap, ada pangkalan taxi yang menjejerkan taxi-taxi. Di parkiran, dua taxi berderetan, kami berharap, taxi itu mau mengantarkan kami ke JCC. Sayang, masih saja tak bisa. Mereka tengah menikmati istirahatnya. Berjalan, panas-panasan, lelah, dan rasanya ingin marah-marah. Tak membayangkan, hari ini menjadi hari terapesku selama di Jakarta. berjalan tanpa lelah, perjuangan yang luar biasa. Meski tak jarang mengeluh kelelahan. Aku harus terus mengikuti langkah teman-teman yang mencari cara untuk menghentikan taxi. Setengah jam berdiri, taxi tak juga bersedia untuk berhenti. Jika tak penuh, lambaian tangan itu menjadi jawaban.Benar-benar awal yang melelahkan.

“Mendingan kita pisah deh! Kalau gerombolan gini, taxi gak mau berhenti!” Ivan mengusulkan. Kami berpencar menjadi dua kelompok. Aku bersama Hermawan dan Stella. Sementara Ivan bersama Babay dan temannya, Gaby. Taxi berwarna putih kali ini berhenti. Nafas lega ini menyambut kebebasan dari hukuman pagi yang menyebalkan. Membuka pintu, duduk berdua dengan Stella di belakang. Hermawan memilih duduk di depan. Aku tertawa, tersenyum pada ketiga kawanku yang masih memasang wajah melas. Meninggalkan mereka dalam masa perjuangan. Melambaikan tangan perpisahan.

“Akhirnya, ada juga taxi yang mau berhenti.” Ucap syukurku pagi itu.

“Kenapa Dek, gak ada taxi yang mau berhenti ya? Hehehe… Inikan jam kerja, Jadi agak susah dapat taxi.” Supir taxi langsung ikut bergabung untuk bercakap-cakap. Perjalanan singkat itu dihiasi oleh cerita supir taxi tentang keberuntungannya hari ini. baru keluar jam 08.00 pagi, dengan jarak yang dekat, sudah tiga penumpang yang menaiki taxinya. Ya, mungkin ini adalah hari keberuntungan untuk supir taxi itu. Sementara, untuk kami, adalah hari terapes yang semoga saja tak terulang untuk yang kedua kalinya. Dingin AC mengurangi kepenatan yang masih tersisa. sisa-sisa kelelahan itu terbayar oleh helaan nafas lega.

Ttaxi sudah sampai di pintu masuk ke JCC, “Dek, siapkan uang lima ribu untuk parkir!” Stella mengelurkan uang, memberikannya pada supir taxi.

“Ya, itulah Negara kita, Dek! Taxi saja harus bayar biaya masuk. Padahal, cuma lewat saja. Diantara tempat-tempat seperti ini, cuma di Citraland taxi yang gak bayar biaya masuk.”

Aku manggut-manggut. Tak peduli dengan apa yang terjadi. Dalam benakku hanya ingin segera samapai di Plenary hall JCC Senayan. Laju berhenti di depan sebuah gerbang. Seorang Scurity berdiri tepat di gerbang yang ukurannya tinggi besar. Ongkos sebesar Rp 27.000 menjadi tarif akhir perjalanan kami. Mengucapkan terima kasih pada supir taxi yang menjadi penyelamat kami pagi ini, perpisahan itupun terjadi. Bertiga, kami masuk, memadati kawasan JCC bersama ribuan Mahasiswa kampusku. Saatnya mencari teman sekelas. ABN17 adalah kelasku bersama beberapa teman lainnya dari jurusan berbeda. Gladys berdiri. Ditangannya tertuliskan ABN17. Tandanya aku harsu menghampirinya. Dia adalah BC (Buddy Controller) dari jurusan yang sama di kampusku. Aku menghela nafas. Akhirnya, sampai juga di JCC tanpa telat. Pikiran itu terarah pada Ivan dan kawan-kawan. Aku menghubungi Babay, namun nomornya tak aktif. Aku menghubungi Ivan, tak ada jawaban. Yessi datang, mengantarkan aku dan Stella ke JCC. Bergabung bersama teman lainnya. Ya, aku duduk disamping Stella. Menikmati hempasan dingin AC. Mataku perpaku pada ribuan mahasiswa baru yang sudah memadati JCC Senayan. Pukul 10.00 aara segera di mulai. Ivan dan Babay datang. Akhirnya, perjuangan menuju JCC itu menjadi catatan istimewa namun berharap, tak terulang untuk kedua kalinya.

Pukul 10.00, Acara dimulai. Mengikuti perjalanan dari acara formal hingga nonformal. Aku cukup terhibur ketika menyaksikan pertunjukan-pertunjukan dari UKM yang luar biasa. Apalagi, ketika theater ST Manis tampil. Menjadi kekhasan tersendiri untuk bersorak. Pementasan theater yang berjudul “Petruk Dadi Wayang” benar-benar menghibur. Apalagi, disebelahku Babay berteriak histeris melihat kakak tingkatanya tampil.Sejak awal, memang Babay suka dengan Aldi, pemain teater berbakat yang good looking. Aku puas meledeknya. Yang membuatku merasakan penampilan ini spesial karena UKM band menyayikan lagu “Bento”-nya Iwan fals. Iwan fals adalah penyanyi favoritku. Bangga, di JCC ini, lagu Iwan fals menggema di gemuruhnya ribuan penonton. Aku ikut bernyanyi. Akustik yang menyuguhkan sentuhan biola dan gitar disajikan oleh perempuan berhijab dan menyanyikan lagu favoritku yang dipupelrkan oleh Christina Perry “A Thousand Year”.Cukup terhibur dan melupaakan sejenak penderitaan pagi tadi.

Pukul 14.00, acara selesai. Ribuan Mahasiswa keluar berduyun-duyun. Pdatnya menyesakan. Aku tak berhenti mengawasi Ivan da babay, khawatir mereka terpisah dariku. Perut sudah keruyukan. Lapar menggila tengah melanda. Rencana, sebelum pulang, akan mencari food court disekitar sini. Sayangnya, tak ku temukan tempat makan itu. Hanya deretan mobil yang mengantri menuju pintu keluar, juga jejeran pejalan kaki yang hendak keluar. Ivan menyalakn GPS nya. Mencari tahu halte busway terdekat.

"Kayaknya disebelah sana deh!" Ucap Ivan tak yakin. Aku lebih tak yakin lagi, karena benar-benar awam daerah sini. 

"Mending tanya pedagang aja!" Saran Babay.

Mendekati seorang pedagang ketoprak pinggir jalan. Keramahan itu disampaikan oleh senyum yang terus berkembang dari bibirnya ketika bertutur, "Dari sini, kalian jalan lurus kesana! Ada belokan, kalian belok ke kanan."

"Jauh gak, Bu?"

"Hehehe.. jauh gak ya?" Dia berhenti sejenak, "Ya, gak terlalu jauh kok."

Itu adalah sebuah tanda bahwa perjalanan yang harus dittempuh lumayan jauh. Dari senyumnya saja sudah tak yakin dengan ucapan. Baiklah, I have to fight! Semangat! Semangat! Gak boleh menyerah. Terlanjur niat jalan, walau kaki sudah mulai lecet. Aku tak sanggup mengejar langkah seribu Ivan. Langkahku tertinggal. Tak bisa menghilangkan lelah. Tiba dibelokan, sebuah halte busyway terlihat. Menuju loket pembayaran, mengeluarkan uang Rp 3.500, saatnya menunggu busway lewat. Bersama beberapa penumpang lagi, aku berdiri. 15 menit berselang, busyway lewat. Laparku tak tertahankan. Haus ini menyiksa. Minumanku sudah habis. Berdesakan di busyway, akhirnya tiba di Mall taman Anggrek untuk menikmati makn siang yang super telat. 

"Nanti, kalian naik busyway ke arah Slipi Kemanggisan, terus, belok kanan. Elu pada naik mikrolet nomor 24. Nanti turun di depan kampus." Jelas Ivan sambil menyumpiti nasi dan lauknya. Dia lebih tahu daerah Jakarta. Sementara aku dan BAbay adalah perantau. babay seorang gadis manis asal Padang.

Bersama Ivan, berjalan menuju halte bs=usway sekitar Anggrek, kami berpisah karena arah yang berlawanan. Berhenti di Slipi Kemanggisan. Aku lumayan kesal dengan keadaan. Ternyata, Slipi Kemanggisan itu dekat dengan Slipi Jaya. Tempat yang sering aku lewati. Kalau saja tahu, tak mungkin aku susah payah mengejar taxi hingga Grogol. Ya sudahlah! Semuanya terlanjur terjadi. Nikmati saja sebagai hadiah hari ini. Sekarang, lebih baik tidur. Menikmati kehidupan baru di dunia mimpi. Good night!


Tidak ada komentar:

Designed By